OPINI
Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi
Oleh: Rina Ummu Syahid
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Berbagai survei menyebutkan generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Gangguan kesehatan mental juga mengancam kalangan remaja. Tanpa penanganan yang tepat, problem tersebut dapat menghambat tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Padahal, peran anak muda amat penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh atau 14,3 persen anak berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini (Kompas.id, 18-6-2026).
Faktor pemicunya pun beragam. Pengaruh media sosial, tekanan sosial, tuntutan akademik, persoalan keluarga, hingga ketidakpastian ekonomi dan lapangan pekerjaan menjadi pemicu meningkatnya kecemasan di kalangan generasi muda. Arus informasi yang begitu cepat membuat mereka terus membandingkan diri dengan orang lain sehingga rentan mengalami stres, rasa tidak percaya diri, bahkan kehilangan arah hidup.
Fenomena ini menggejala di seluruh dunia. Ketidakpastian karier dan masa depan membuat Gen Z bersikap lebih skeptis terhadap berbagai janji kesejahteraan yang ditawarkan sistem hari ini. Mereka menyaksikan berbagai krisis yang terjadi, mulai dari persoalan ekonomi, lingkungan, politik, hingga konflik kemanusiaan yang seolah tak kunjung menemukan jalan keluar.
Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Banyak anak muda mulai mempertanyakan akar persoalan yang menyebabkan berbagai krisis terus berulang. Mereka tidak lagi sekadar menerima keadaan, tetapi berusaha mencari alternatif solusi yang lebih mendasar.
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Tingginya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, kerusakan lingkungan, maraknya kriminalitas, serta lemahnya ikatan sosial menjadi gambaran nyata dari problem yang mereka hadapi. Kondisi ini semakin memperbesar rasa khawatir terhadap masa depan.
Potensi mereka sebagai pemuda juga kerap dilemahkan oleh berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik. Standar kebahagiaan diukur dengan materi, popularitas, dan pencapaian duniawi semata. Akibatnya, banyak anak muda kehilangan tujuan hidup yang hakiki dan mengalami kekosongan spiritual meskipun tampak berhasil secara materi.
Allah Swt. telah mengingatkan bahwa kehidupan yang jauh dari petunjuk-Nya akan membawa kesempitan hidup. Firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)
Abainya riayah negara terhadap generasi juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Alih-alih dirangkul dan dibina, generasi muda justru sering kali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Berbagai persoalan yang mereka hadapi kerap dianggap sebagai kelemahan pribadi semata, padahal banyak di antaranya merupakan dampak dari sistem yang tidak berpihak kepada rakyat.
Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. Sikap kritis tersebut menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kepedulian terhadap masa depan diri dan masyarakatnya. Energi besar ini perlu diarahkan kepada solusi yang benar agar tidak berujung pada keputusasaan.
Islam hadir sebagai solusi atas krisis yang melanda dunia hari ini. Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga memberikan panduan kehidupan yang menyeluruh. Penerapan Islam mendatangkan rahmatan lil 'alamin, membawa ketenangan, keadilan, dan keselamatan hidup bagi manusia.
Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kokoh sekaligus cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Sejarah mencatat lahirnya para ulama, ilmuwan, pemimpin, dan mujahid yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia. Keimanan yang kuat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi unggul yang tidak mudah goyah menghadapi berbagai tantangan zaman.
Kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat juga menjadi faktor penting dalam membentuk generasi berkualitas. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan hidup rakyat secara adil, menyediakan pendidikan yang membangun kepribadian Islam dan penguasaan ilmu pengetahuan, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi.
Allah Swt. juga menegaskan pentingnya mempersiapkan generasi yang kuat sebagaimana firman-Nya:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa: 9)
Karena itu, penting untuk menyadarkan pemuda hari ini agar menjadikan Islam sebagai pedoman hidup dan peduli terhadap kondisi umat. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton berbagai persoalan yang terjadi, tetapi harus mengambil peran sebagai agen perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.
Dengan menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan berbuat, kecemasan yang melanda Gen Z dapat diubah menjadi energi perjuangan dan resistensi terhadap berbagai kerusakan sistemik yang ada. Dari generasi yang dibayangi depresi, mereka dapat bertransformasi menjadi generasi yang memiliki visi, keberanian, dan ketangguhan dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan, melainkan menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh umat manusia.
Wallāhu a'lam bishawāb.
Via
OPINI
Posting Komentar