OPINI
Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi, Saatnya Kembali kepada Islam
Oleh: Rahmah Thayyibah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Generasi Z sering disebut sebagai generasi paling cemas. Berbagai survei menunjukkan banyak anak muda Indonesia mengalami kecemasan, stres, hingga gangguan kesehatan mental. Tekanan media sosial, tuntutan sosial, ketidakpastian karier, dan bayang-bayang masa depan menjadi pemicu utama. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menggejala di berbagai negara. Banyak Gen Z tumbuh dalam dunia yang penuh kompetisi, namun minim kepastian (data.goodstats.id, 8-4-2026).
Di balik kecemasan itu, mulai muncul gelombang resistensi di kalangan Gen Z. Mereka semakin berani mempertanyakan sistem yang dianggap tidak memberi kepastian hidup dan mulai mencari tatanan yang lebih adil. Sikap kritis ini dapat menjadi titik balik lahirnya generasi yang tidak sekadar mengeluh, tetapi juga berupaya menghadirkan perubahan (kompas.id, 25-5-2026).
Dalam pandangan Islam, kecemasan massal yang dialami generasi muda tidak bisa dilepaskan dari krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini. Peradaban sekuler-kapitalistik mendorong manusia mengejar materi dan pengakuan, tetapi gagal memberi ketenangan batin. Akibatnya, banyak pemuda kehilangan arah dan jati diri. Potensi besar mereka justru dilemahkan oleh budaya yang merusak moral, mengaburkan tujuan hidup, dan menjadikan kesuksesan sebatas ukuran materi.
Di sisi lain, negara dinilai belum menjalankan fungsi riayah terhadap generasi secara optimal. Berbagai persoalan yang menimpa anak muda, mulai dari kesehatan mental, pendidikan hingga ketidakpastian pekerjaan, lebih banyak ditangani secara parsial. Bahkan, alih-alih dirangkul, Gen Z justru kerap diberi stigma sebagai generasi yang lemah dan tidak tahan menghadapi tantangan.
Islam menawarkan solusi yang berangkat dari akar persoalan. Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, kehidupan akan dipenuhi nilai-nilai yang membawa rahmatan lil 'alamin. Aqidah Islam membentuk cara berpikir yang benar sehingga seorang Muslim memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar mengejar kesuksesan dunia, melainkan meraih ridha Allah Swt. Kesadaran inilah yang menghadirkan ketenangan dan optimisme dalam menghadapi berbagai ujian.
Islam juga membuktikan melalui sejarah bahwa generasi muda mampu menjadi pilar peradaban. Dengan pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, lahirlah pemuda yang memiliki syakhshiyyah islamiyyah, menguasai ilmu pengetahuan, serta berkontribusi bagi kemajuan umat. Mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral.
Dalam sistem Islam, negara berfungsi sebagai raa'in wa junnah, yaitu pengurus sekaligus pelindung rakyat. Negara bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kesempatan kerja secara adil sehingga generasi muda dapat berkembang tanpa dihantui kecemasan terhadap masa depan.
Keresahan yang dirasakan Gen Z seharusnya menjadi energi untuk mengemban mabda Islam sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap problem umat. Dengan begitu, sikap kritis mereka tidak berhenti sebagai bentuk protes, tetapi menjadi kekuatan untuk memperjuangkan perubahan yang diridhai Allah.
Singkatnya, depresi dan kegelisahan yang melanda Gen Z bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan motivasi atau terapi sesaat. Dibutuhkan perubahan mendasar melalui penerapan aturan Islam secara kaffah yang mampu membentuk individu bertakwa, menghadirkan negara sebagai pelindung umat, serta menciptakan kehidupan yang adil dan menenteramkan. Dengan itulah Gen Z tidak hanya bangkit dari kecemasan, tetapi juga menjadi generasi pelopor kebangkitan Islam. Wallahualam bi ashawab.
Via
OPINI
Posting Komentar