OPINI
Anak Gaza Merana, Kemanusiaan ke Mana?
Oleh: Umi Alfi
(Muslimah Pemerhati Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Perang di Gaza bukan hanya menghancurkan rumah, rumah sakit, sekolah, dan kamp-kamp pengungsian, tetapi juga merenggut masa depan sebuah generasi. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan kasih sayang, pendidikan, dan rasa aman kini hidup di tengah dentuman bom, kehilangan orang tua, serta menghadapi luka fisik dan trauma psikologis yang mendalam. Di tengah berbagai seruan penghentian perang, penderitaan mereka belum juga berakhir. Tragedi ini menjadi pertanyaan besar bagi nurani dunia: masihkah kemanusiaan memiliki tempat di tengah kepentingan politik dan konflik yang berkepanjangan?
Laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikutip Kompas.com pada 23 Juni 2026 menyebutkan bahwa otoritas dan tentara Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina selama perang yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Komisi tersebut menyimpulkan adanya indikasi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Gaza. Berbagai laporan badan PBB dan organisasi kemanusiaan juga menunjukkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban jiwa, sementara banyak lainnya mengalami luka berat, kehilangan anggota keluarga, mengalami trauma psikologis, dan kehilangan akses terhadap pendidikan serta layanan kesehatan. Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menanggung dampak konflik.
Menguji Nurani Dunia
Besarnya jumlah korban sipil, khususnya anak-anak, menunjukkan bahwa perlindungan terhadap mereka belum berjalan sebagaimana diharapkan. Berbagai kecaman, resolusi, dan seruan gencatan senjata telah disampaikan oleh komunitas internasional, namun kekerasan terus berlangsung. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme internasional dalam melindungi warga sipil dan menegakkan hukum humaniter.
Bagi umat Islam, penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar persoalan politik internasional, tetapi juga menyangkut ukhuwah dan kemanusiaan. Ketika anak-anak menjadi korban perang, umat tidak boleh kehilangan kepedulian. Rasulullah saw. menggambarkan kaum Muslim seperti satu tubuh; ketika satu bagian merasakan sakit, bagian yang lain ikut merasakan penderitaan. Karena itu, tragedi Gaza semestinya membangkitkan empati sekaligus mendorong ikhtiar nyata untuk membela mereka yang tertindas.
Islam Menjaga Kehormatan Jiwa
Islam menempatkan perlindungan terhadap jiwa manusia sebagai tujuan utama syariat (hifz an-nafs). Bahkan dalam peperangan, Rasulullah saw. melarang pembunuhan terhadap perempuan, anak-anak, orang tua, dan mereka yang tidak ikut berperang. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kehidupan warga sipil merupakan prinsip yang dijunjung tinggi dalam Islam.
Allah Swt. berfirman,
"Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia." (TQS. Al-Ma'idah [5]: 32).
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap nyawa memiliki kemuliaan yang harus dijaga. Oleh karena itu, segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak dan warga sipil bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam.
Membangun Harapan Palestina
Penderitaan anak-anak Gaza menuntut kepedulian yang lebih dari sekadar ungkapan simpati. Bantuan kemanusiaan, perlindungan terhadap warga sipil, pemulihan layanan kesehatan dan pendidikan, serta dukungan psikososial bagi anak-anak harus menjadi perhatian bersama. Umat Islam juga memiliki tanggung jawab untuk terus menguatkan solidaritas, membantu sesuai kemampuan, serta mendoakan keselamatan dan kemerdekaan rakyat Palestina.
Di sisi lain, tragedi yang terus berulang menjadi pengingat pentingnya ikhtiar membangun persatuan umat dan memperkuat kepedulian terhadap berbagai persoalan yang menimpa kaum Muslim di berbagai belahan dunia. Perbedaan pandangan mengenai solusi politik tidak boleh mengurangi komitmen untuk membela keadilan, menolak penindasan, dan menjaga kemuliaan setiap jiwa manusia.
Pada akhirnya, anak-anak Gaza tidak membutuhkan belas kasihan sesaat, melainkan perlindungan yang nyata dan masa depan yang layak. Tangis mereka adalah panggilan bagi nurani dunia untuk menghentikan kekerasan, menegakkan keadilan, dan mengembalikan hak setiap anak untuk hidup, belajar, dan tumbuh dalam kedamaian. Sebab, ukuran kemanusiaan suatu peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau kekuatan politiknya, tetapi juga oleh kemampuannya melindungi mereka yang paling lemah dan tidak berdosa.
Via
OPINI
Posting Komentar