Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Menghadapi Musibah
Oleh: Yuli Ummu Raihan
(Muslimah Peduli Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Indonesia berduka, musibah datang silih berganti di berbagai wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.532 kejadian bencana terjadi di Indonesia dari Januari hingga akhir Agustus 2026. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian yang terbesar di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BNPB, banjir menjadi bencana paling sering terjadi yaitu 540 kejadian. Kemudian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan cuaca ekstrem, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi hingga erupsi gunung api. Ancaman kebencanaan masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia, terutama kejadian yang berkaitan dengan kondisi hidrometeorologi, perubahan lingkungan dan kerentanan wilayah. Sebanyak 3,86 juta orang terdampak dari berbagai bencana di atas, 329 orang meninggal dunia, dan ratusan lain luka-luka. Sementara yang mengungsi mencapai 3.860.802 orang (Pelakita.id, 20-8-2026).
Guru Besar Kebencanaan dan Staf Ahli Pusat Studi Bencana Alam UGM, Profesor Djati Mardianto, mengatakan pemerintah lebih hemat mengucurkan anggaran untuk penanggulangan pasca bencana ketimbang investasi pencegahan. Pemerintah terus melakukan pemangkasan anggaran Penanggulangan bencana dalam APBN. Dalam APBN tahun 2026 anggaran Penanggulangan bencana hanya sekitar Rp491 miliar. Padahal sebagai negara dengan risiko bencana terbesar kedua di dunia, BNPB membutuhkan anggaran yang besar untuk manajemen, pemeliharaan alat, hingga penanganan bencana.
Dengan segala ancaman bencana, mirisnya penanganan pasca bencana seringkali tidak tuntas. Seperti di Sumatra, setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor banyak infrastruktur yang masih belum dibangun, masyarakat yang kehilangan harta benda hidup tanpa ada kepastian. Begitupun nasib masyarakat korban gempa di NTT yang masih belum tertangani dengan baik.
Rakyat dipaksa berjibaku sendiri. Tagar warga tolong warga pernah viral karena faktanya warga sesama wargalah yang saling bantu menggalang dana, membangun infrastruktur dan melakukan pemulihan pasca bencana. Seringkali pemerintah datang terlambat, dan setelah beritanya viral. Padahal bencana bukan hal baru di negeri ini. Lebih menyedihkan kadang ada oknum pejabat yang mengeluarkan pernyataan yang nirempati atau menganggap sepele musibah yang terjadi.
Pemerintah masih memprioritaskan program yang menyedot anggaran seperti MBG dari pada penanggulangan bencana. Bahkan pada momen perayaan kemerdekaan pemerintah justru menghambur- hamburkan uang negara, pada saat sebagian rakyat begitu menderita dan menanti bantuan. Di sini skala prioritas pemerintah perlu kita pertanyaan.
Sebagai negara dengan julukan seribu bencana, Indonesia seharusnya sudah memiliki blue print soal mitigasi kebencanaan untuk meminimalisir korban dan kerusakan. Dari sekian banyak bencana yang diakibatkan kerakusan manusia pemerintah tampaknya merasa cukup dengan mengirimkan bantuan seadanya. Padahal pemerintah seharusnya menjadi penanggung jawab utama untuk mengurusi urusan rakyat.
Watak Kepemimpinan Sekuler
Inilah watak asli kepemimpinan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Nilai moral, adab dan agama hanya dipakai ketika memberikan manfaat saja. Rakyat hanya dibutuhkan saat pemungutan suara, suara mereka tidak pernah didengar ketika kekuasaan sudah ditangan.
Hasil studi dan pengamat banyak menyebutkan bahwa berbagai bencana yang terjadi sejatinya bukan karena faktor alam semata. Adanya salah kelola tata ruang, pemberian izin konsesi lahan yang tidak berbasis risiko dan keseimbangan lingkungan, izin pertambangan, dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Bahkan di era perkembangan media sosial seperti saat ini, berbagai informasi tentang kondisi riil masyarakat terpampang nyata, akan tetapi pemerintah seolah tidak mengindra semua itu. Pemerintah seringkali mengatakan mendapatkan laporan yang kadang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Sistem kapitalis yang diterapkan hari ini juga gagal memberikan efek jera kepada pelaku kerusakan alam. Dalam sistem kepemimpinan sekuler tidak memiliki dimensi ruhiyah sehingga jabatan tidak dipahami sebagai amanah. Jabatan dan kekuasaan pada sistem ini menjadi alat untuk meraih kesenangan materi dan kepentingan segelintir pihak. Kepemimpinan sekuler jauh dari fungsi pengurusan apalagi pelindung atas rakyat.
Teladan Rasulullah saw. dalam Penanganan Bencana
Rasulullah saw. adalah teladan terbaik buat kita. Sebagai umat yang mengaku cinta kepada Nabi kita seharusnya mengikuti (Ittiba') perjuangan dan kepemimpinan beliau. Bentuk cinta kita bisa dalam bentuk mengenal sosoknya, mempelajari risalahnya, menjaga kehormatannya, dan mengikuti segala risalahnya.
Dalam Islam kepemimpinan berfungsi sebagai pelayan dan pelindung rakyat. Pengurus seluruh urusan rakyat termasuk melindungi mereka dari segala bentuk bahaya dan kerusakan. Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang diberi amanah untuk memimpin rakyatnya, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Muslim).
Maka sebagai pemimpin wajib memastikan setiap kebijakan harus dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat. Semua itu dapat terwujud dengan menerapkan aturan Islam secara kafah dan menerima muhasabah atau masukan dari rakyatnya. Dalam konteks kebencanaan, pemimpin Islam akan menjadi garda terdepan untuk menolong rakyat. Mitigasi dilakukan bukan hanya pasca bencana, melainkan sebelum bencana itu terjadi.
Rasulullah mencontohkan ketika terjadi bencana untuk membaca istirja sebagai tempat berlindung dan sandaran bagi mereka yang tertimpa musibah. Kalimat ini juga menjadi penjaga bagi orang-orang yang diuji, agar setan tidak menguasainya, lalu membisikkan pikiran-pikiran buruk. Sehingga manusia bahwa semua ini adalah ketetapan Allah yang wajib diterima dengan sabar. Rasulullah juga mengajar beberapa doa untuk meminta perlindungan dan dijauhkan dari mara bahaya serta keridhaan terhadap segala ketetapan Allah.
Rasulullah saw. juga memberikan teladan agar umatnya saling membantu. Umat Islam bagaikan satu tubuh, jika ada satu bagian yang sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan.
Rasulullah saw. pernah bersabda: "Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan seorang mukmin di dunia maka Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat." (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan dorongan kepada manusia agar saling bantu, berempati dengan sesama. Hadist ini juga motivasi bagi kita untuk senantiasa saling bantu karena bantuan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali sebagai pertolongan Allah, baik berupa ketentraman batin, bantuan nyata, maupun perlindungan dari marabahaya.
Rasulullah saw. juga memberikan teladan untuk selalu melakukan muhasabah atas setiap musibah yang datang. Musibah bisa jadi ujian untuk orang-orang yang beriman dan cobaan serta peringatan bagi orang-orang yang telah melanggar aturan Allah. Semoga kita semua yang mengaku mencintai Nabi, diberi kemampuan untuk meneladani tuntutan yang mulia ini dan senantiasa menjadi hamba yang dekat dengan Allah Swt. dalam setiap keadaan.
Rasulullah saw. juga membawa risalah yang berisi sanksi atas setiap orang yang melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Sanksi dalam Islam bersifat sebagai penebus dosa dan pemberi efek jera. Tidak ada diskriminasi atau pilih kasih dalam penerapan hukum Islam. Rasulullah juga tidak pernah mau berkompromi dengan siapa pun untuk mengubah hukum Allah, meskipun beliau kadang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi ketika teguh dalam kebenaran.
Wallahua'lam bishawab.
Posting Komentar