OPINI
Masjid Al Aqsa Identitas Kaum Muslim, Akankah Sirna oleh Ambisi Israel Raya?
Oleh: Aulia Rahma
(Kelompok Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Entitas Zionis terus perangi Gaza tak peduli gencatan senjata. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengungkapkan, bahwa Israel menargetkan akan menguasai 70 persen wilayah Gaza. Hal ini membuat warga Gaza yang tinggal di kawasan perbatasan, yang disebut garis kuning, semakin khawatir. Para penduduk yang tinggal di Khan Younis melaporkan bahwa mereka harus berjuang secara konstan dengan kehadiran tank, buldoser, serta tembakan harian militer Israel. Buldoser tersebut meruntuhkan rumah-rumah warga di sekitar lokasi. Rentetan tembakan dari kendaraan militer dan pesawat nirawak hampir tidak pernah berhenti.
Sementara itu, kepresidenan Palestina mengecam dan menegaskan bahwa pembangunan 2.162 unit permukiman baru di Tepi Barat oleh Israel adalah ilegal dan menantang secara terang-terangan hukum internasional. Menurut resolusi PBB 2334, Tepi Barat, termasuk Yerussalem Timur adalah ruang hidup sekitar tiga juta warga Palestina. Sejak 1967 hingga hari ini, lebih dari 700.000 pemukim Israel di Tepi Barat menghuni di area yang sama dengan warga Palestina (antaranews.com, 5-6-2026).
Tak hanya itu, Netanyahu dengan ambisi Israel Raya, bersama Amerika, menjadikan Masjid Al Aqsa sebagai pusat multiagama yang bebas dikunjungi siapapun, tanpa membedakan status agama. Bahkan bagi komunitas Yahudi secara besar-besaran. Israel membuat skema baru agar pengelolaan Masjid Al Aqsa selaras dengan kepentingan Israel. Status Yordania sebagai wali penjaga historis komplek Masjid Al Aqsa di Yerusalem akan diubah hanya sebatas pengawas, bersama negeri-negeri Arab lainnya. Israel juga akan menentukan penunjukan imam dan khatib, pejabat senior masjid, serta terlibat dalam persetujuan materi khutbah Jumat (cnnindonesi.com, 5-6-2026).
Perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat juga pengibaran bendera Israel di Masjidil Aqsa menunjukkan bahwa simbol penguasaan entitas Zionis mengalahkan Umat Islam. Hal ini sangat disayangkan. Pelaku Genosida, perampas hak warga Palestina, pembangkang dan pengkhianat, secara leluasa mendapat tempat dan ruang hidup nyaman di bumi Syam. Apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi.
Kenyamanan dan keistimewaan yang didapatkan Israel tak lepas dari sokongan negara adidaya, Amerika Serikat. Juga penguasa negeri-negeri muslim yang bersekongkol mendukung solusi dua negara. Sejak dicetuskannya hingga hari ini, solusi dua negara justru makin mempersempit ruang hidup warga Palestina. Mereka semakin sulit mempertahankan hidup tanpa dukungan fasilitas yang dibutuhkan. Apalagi dibawah bayang-bayang teror dari militer Israel. Zionis semakin berani karena pengkhianatan penguasa muslim. Mereka mengedepankan ambisi untuk menjabat dan haus penghormatan dan pengakuan dari dunia, masalah warga Palestina yang semakin sulit dan terjepit jadi terlupakan. Bahkan mata dan pendengaran mereka tak berfungsi oleh kerasnya hati yang dihinggapi penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati.
Penjajahan, bagaimana pun bentuknya tidaklah dapat dibenarkan. Ambisi Israel Raya harus dilawan. Persoalan Palestina tak akan selesai hanya dengan kecaman dan menyerahkan pada resolusi PBB. Membebaskan warga Palestina dari aksi teror zionis Israel dan merebut Masjid Al Aqsa membutuhkan kekuatan dan persatuan Umat Islam dalam wujud nyata, yaitu Khilafah. Tegaknya Sistem Khilafah harus menjadi prioritas perjuangan Umat Islam seluruh dunia. Dengan tegaknya khilafah seluruh potensi negeri-negeri Muslim akan diberdayakan untuk memperkuat identitas Islam dan memuliakan kaum muslimin. Menjaga kemurnian agama dan menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil alamiin.
Sungguh Khilafah merupakan wujud persatuan Umat Islam yang hakiki. Khilafah akan menghilangkan sekat nasionalisme antar negeri muslim dan menghilangkan pengkhianatan para penguasa muslim. Khilafah, secara otomatis menjadikan geopolitiknya untuk kepentingan Islam, bukan sekedar untuk eksis dan motif materi semata.
Khalifah akan bertanggung jawab mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina dan memerangi entitas zionis. Jihad dalam ajaran Islam berfungsi sebagai instrumen pertahanan diri. Dengan jihad umat Islam akan terlindungi dari upaya penjajahan dan perampasan hak, seperti yang dilakukan zionis Israel di Palestina. Jihad juga merupakan salah satu cara untuk memperluas wilayah untuk penerapan syari'at Islam Kaffah. Jihad dan khilafah akan melindungi dan memuliakan simbol-simbol Islam. Menjaganya dari kerusakan yang diakibatkan ulah kafir harbi laknatullah.
Wallahu a'lam bi ash-showab.
Via
OPINI
Posting Komentar