OPINI
Kesalahan Anak dan Kegagalan Sistem
Oleh: Wafi Mu'tashimah
(Sahabat Tanah Ribath Media Pasuruan)
TanahRibathMedia.Com—Masih ingat kejadian anak membunuh ibu kandungnya enam bulan silam? Seorang anak berinisial A ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan ibunya (FS) di Medan. Setelah berbulan-bulan proses persidangan, akhirnya tersangka yang masih di bawah umur dituntut dengan perawatan psikologis selama delapan bulan di Lembaga Kesejahteraan Sosial (CNN Indonesia, 31-5-2026).
Di satu sisi, miris rasanya korban yang kehilangan kehidupannya hanya dibalas dengan hukuman perawatan psikologis. Seolah-olah dunia ingin mengatakan bahwa masalahnya hanya "sekadar" seorang anak yang sedikit kehilangan arah dan khilaf. Di lain sisi, memang benar dia masih anak-anak yang memerlukan pengawasan dan didikan orang tua.
Namun sejatinya, masalah yang ada tidaklah sesederhana kehilangan arah atau terhasut media sosial dan gim Roblox. Masalahnya lebih luas dan mengakar. Apalagi pelaku masihlah anak kecil belum balig yang menusuk ibunya sebanyak 20 kali tusukan. Bayangkan, satu kali tusukan saja bisa membuat darah memancar dan korban menjerit, apalagi hingga 20 kali. Sebanyak apa darah yang muncrat? Ngerinya adalah, mengapa bisa anak sekecil itu tidak takut melihat darah yang muncrat?
Kasus ini beserta kasus-kasus lain—yang diibaratkan fenomena gunung es, yang tampak di permukaan jauh lebih sedikit ketimbang yang tersembunyi—menjadi alarm keras seberapa dalam moral anak dan remaja jatuh sejatuh-jatuhnya. Di saat yang sama, ia mengandung pesan hancurnya struktur keluarga di era kapitalis dan makin hilangnya peran orang tua dalam mendidik generasi cemerlang.
Padahal, keluarga adalah benteng terakhir generasi di era yang sudah sangat merusak hari ini di bawah sistem sekuler-liberal yang serba bebas. Ibu kehilangan perannya sebagai pendidik dan sekolah pertama anak. Dalam kasus di atas, sang anak tidak hanya seorang pelaku, ia adalah korban kegagalan orang tua dan keluarga, khususnya ibu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat "pulang", melepas letih, dan mendapat kasih sayang justru menjadi tempat penuh kesedihan dan dendam.
Bangunan keluarga yang rusak dan merusak seperti ini tidaklah muncul dari ruang kosong atau sekadar kesalahan tak disengaja. Keluarga hari ini tercipta dari sistem kapitalisme yang menuhankan kebebasan. Sistem yang jauh dari nilai-nilai kebaikan hanya akan menghasilkan keburukan yang beranak pinak. Akibat meniadakan Tuhan dalam pengaturan kehidupan (sekularisme), teejadilah ketidakadilan, kemiskinan, dan dekadensi moral.
Asas sekuler ini juga berhasil menjauhkan manusia dari Tuhannya. Fitrah manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi rusak. Hasilnya, fitrah manusia dalam peran-peran sosial mereka di kehidupan sebagai ayah, ibu, anak, suami, istri, pemimpin, teman, dan sebagainya pun rusak. Sistem ini sungguh berhasil menghancurkan bangunan keluarga dan masyarakat hari ini.
Masih berbicara tentang degradasi moral, ada satu hal lagi yang tak luput menjadi penyebabnya, yakni paparan negatif dunia digital. Dunia digital hari ini memperburuk moral generasi yang telah kacau-balau. Para pemuda yang benteng pertahanannya telah rapuh—terutama benteng terakhir bernama keluarga yang juga telah runtuh pilar-pilarnya—akan sangat sulit membendung arus negatif dunia digital.
Bagi pemuda, dunia digital sudah menjadi rumah, bahkan nyawa kedua. Tak jarang, mereka bahkan merasa lebih aman berada di dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata. Maka tak heran, investigasi mengatakan, kasus di Medan sebelumnya terjadi akibat pengaruh pelaku terlalu terobsesi dengan gim dan film pembunuhan, seperti Detective Conan dan Mystery Murder. Hal ini diperkuat terjadinya pembunuhan tepat setelah korban menghapus aplikasi gim kesukaan pelaku, Roblox.
Urgensi Kembali pada Kepemimpinan Islam
Menghapus seluruh kebobrokan yang mendekam lama di dunia hingga hari ini hanya bisa dilakukan dengan satu hal, menghilangkan akar masalah yang menyebabkan seluruh hal ini, yakni kapitalis-sekuler-liberal. Selama kepemimpinan berlandaskan sistem ini masih ada—baik dengan adanya negara adidaya dan pengikutnya yang mengusungnya, ataupun negeri muslim yang mendukung mereka—mustahil potret buram negeri dan dunia ini akan berubah baik. Bahkan, dunia akan semakin memburuk hari demi hari, detik demi detik, tanpa sedikit pun harapan menuju kebaikan akan terwujud.
Dunia ini hanya akan berubah menjadi baik hanya dengan mengubah ideologi kapitalis dengan Islam. Hanya Islam yang mampu mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Hanya dengan penerapan sistem Islam, ibu dan keluarga akan kembali pada peran mulia mereka mendidik generasi unggul. Hanya negara Islam yang bisa mengontrol penggunaan medsos agar hanya menuju kepada kebaikan.
Karenanya, umat Islam harus menyadari urgensi mengembalikan peradaban Islam ke tengah-tengah kehidupan. Sebab, hanya peradaban Islam yang mampu membenahi segala hal, terutama moral yang sangat rusak hari ini hingga ke akar-akarnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Via
OPINI
Posting Komentar