OPINI
Harga Kedelai Merangkak Naik, Rakyat Makin Tercekik
Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd.
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sungguh ironi. Sebagaimana kita ketahui, tahu dan tempe adalah makanan rakyat warisan nenek moyang sejak dahulu kala. Seratus persen produksinya pun dilakukan di dalam negeri. Namun, sebagaimana kita tahu hampir 90% bahan bakunya harus diimpor. Negara utama asal impor kedelai di Indonesia adalah Amerika Serikat dan Kanada. Maka, dengan adanya kesepakatan dagang baru antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan memicu lonjakan harga kedelai global. Tentu saja, hal ini menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang memiliki ketergantungan impor sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tempe dan tahu nasional.
Harga kedelai dunia pada 21 Mei 2026 sebesar USD 11,94/bushel. Nilai tersebut mengalami kenaikan sebesar 18,3% dari awal tahun. Selain itu, ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar dan logistik ikut berpengaruh terhadap harga kedelai impor naik (detikjatim.com, 26-5-2026).
Dengan naiknya harga kedelai, tentu saja imbasnya adalah kepada para pelaku usaha rumahan tahu tempe yang akhirnya ada yang gulung tikar atau harus tutup sementara karena tak sanggup memenuhi kebutuhan bahan baku yang harganya sudah semakin tak terkendali. Adapun yang tetap beroperasi, terpaksa akhirnya harus menaikkan harga tahu tempe meski hal itu menjadi dilema karena tidak mudah menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Fenomena tersebut menggambarkan bahwa pelemahan rupiah yang hari ini tejadi betul-betul dirasakan langsung sektor rill. Industri tahu dan tempe Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor, sehingga setiap kenaikan kurs dolar AS tentu saja akan berdampak pada kenaikan biaya produksi. Pelemahan rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi Kapitalisme yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil. Naiknya harga kedelai juga menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat, hingga banyak usaha yang akhirnya gulung tikar. Selain itu, ketergantungan impor kedelai pun mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara ini.
Aturan ekonomi kapitalisme yang bergantung kepada pasar global sebagai fondasi utama, menyebabkan kebutuhan pokok bergantung pada impor yang akhirnya fluktuasi nilai tukar dan harga internasional dapat dengan mudah menekan pelaku usaha kecil dan berpenghasilan minim. Kelompok inilah sering menjadi pihak yang menanggung beban dari gejolak ekonomi yang terjadi.
Namun, sayangnya di sistem kapitalisme-demokrasi hari ini sangat minim peran penguasa untuk hadir memerhatikan apa yang menjadi keresahan rakyat. Sungguh jauh berbeda dengan ketika Sistem Islam diterapkan, bagaimana seorang pemimpin, Khalifah Umar bin Abdul Azis misalnya, beliau betul-betul sangat khawatir jika ada rakyatnya yang kesulitan bahkan kelaparan. Selain itu, pada masa kekhilafahan, penguasa pun menetapkan mata uang berupa dinar dan dirham agar nilai mata uang tetap stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan. Bahkan nilai tukar uang tersebut pun sudah ada semenjak sebelum masa kenabian.
Tidak hanya nilai tukar dinar dan dirham saja, negara Islam juga atau Khilafah akan senantiasa mengedukasi untuk menghidupkan tanah mati, sehingga tanah atau lahan yang dimanfaatkan bisa untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan rakyat, termasuk menanam kedelai agar tidak bergantung kepada impor. Negara Islam juga akan selalu hadir untuk memastikan ketersediaan harga kebutuhan pokok termasuk keterjangkauannya bagi rakyat.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam, sistem yang berasal dari Allah Sang Pencipta kita. Sistem yang pernah menjadi mercusuar dunia. Sistem yang Allah Swt. Janjikan dan akan dilimpahkan keberkahan kepada yang datang dari langit maupun dari bumi. Tidakkah kita menginginkannya?
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami menyiksa mereka karena apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Alaraf: 96)
Via
OPINI
Posting Komentar