OPINI
Genosida di Gaza, Jutaan Anak Alami Trauma
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Masa anak-anak seharusnya menjadi fase yang penuh keceriaan. Namun ini tidak berlaku bagi anak-anak Gaza, mereka telah kehilangan senyum dan kebahagiaan akibat perang yang berkepanjangan. Sejak Oktober 2023 lalu, genosida telah berlangsung di Gaza. Pengeboman, penghancuran, dan pembunuhan telah merenggut jutaan nyawa orang dewasa dan anak-anak di jalur Gaza.
Banyak anak-anak Gaza yang selamat mengalami trauma. Sebagian bahkan enggan berbicara dan memilih diam memendam luka. Padahal sebelumnya mereka anak-anak yang memiliki mimpi-mimpi indah. Tidak ada lagi ruang aman bagi anak-anak Gaza. Perlakuan keji yang dilakukan entitas zionis terhadap orang-orang yang mereka cintai telah meninggalkan duka mendalam. Menurut psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk dalam sebuah wawancara dengan BBC menyampaikan bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak mengalami trauma parah bahkan kehilangan kemampuan berbicara (Kompas.com, 30-5-2026).
Genosida Penyebab Derita
Kekejaman entitas zionis telah menimbulkan derita yang mendalam pada jiwa anak-anak Gaza. Sejak 1948 hingga saat ini, entitas terus melakukan agresi besar-besaran. Mereka mengebom, menghancurkan pemukiman, membantai dan mengusir warga Palestina. Jutaan jiwa menjadi korban dan lainnya terpaksa bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Entitas zionis jelas-jelas telah melakukan genosida atas warga Palestina. Kekejian mereka telah mengakibatkan kerusakan fisik dan mental secara nyata. Hingga anak-anak merespon kesedihan yang mereka alami dalam jeritan sunyi. Mereka berhenti berbicara pada dunia.
Adapun umat Islam di belahan dunia lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sekat nasionalisme telah menjadi belenggu penghalang. Jeritan dan tangisan pilu anak-anak Gaza tidak mampu mendobrak sekat semu negara bangsa. Umat muslim hanya bisa sebatas mengirim bantuan kemanusiaan. Bahkan sebagian besar bantuan tersebut tertahan di perbatasan oleh entitas Zionis. Tidak ada satu negeri muslim yang berani mengirim tentaranya untuk mengusir entitas zionis dari tanah Palestina. Para penguasa negeri-negeri muslim justru berkhianat. Mereka bergandengan tangan dengan entitas atas nama normalisasi hubungan.
Selain itu, dukungan penuh Amerika Serikat atas agresi zionis telah membuat mereka jumawa. Mereka berambisi menguasai setiap jengkal tanah Palestina.
Khilafah Penghapus Derita
Derita anak-anak Gaza harus segera diakhiri. Mereka bukan hanya butuh terapi. Hal mendasar yang mereka butuhkan adalah penghapusan penjajahan entitas zionis. Dan tidak ada cara lain untuk menghapus penjajahan entitas zionis kecuali dengan jihad fii sabilillah. Suatu kewajiban mulia bagi seluruh tentara kaum muslimin. Allah Swt berfirman yang artinya:
"Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (TQS Al-Baqarah: 216)
Untuk melaksanakan jihad fii sabilillah umat Islam membutuhkan persatuan dan komando dalam institusi khilafah. Khalifah akan mengirim tentara kaum muslimin untuk mengusir penjajahan entitas zionis dari bumi Palestina. Sehingga sumber malapetaka derita anak-anak Gaza akan sirna.
Menegakkan kembali Khilafah adalah tanggung jawab akidah. Khilafah adalah perisai umat dari bahaya. Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah r.a., di mana Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
"Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengannya." (HR Muslim)
Oleh karena itu umat Islam harus memiliki kesadaran kolektif berjuang dan berdakwah demi tagaknya kembali Khilafah. Sehingga hukum Allah Swt. kembali terterap secara menyeluruh. Keamanan dan keberkahan tercurah pada seluruh alam. Wallahu 'alam bi showab.
Via
OPINI
Posting Komentar