OPINI
Angka Kematian Ibu Tinggi, Sistem Kesehatan Perlu Revolusi
Oleh: Anisa Bella Fathia
[Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok]
TanahRibathMedia.Com—Tahukah Bunda, saat ini Indonesia menjadi negara ketiga tertinggi di Asia Tenggara dalam kasus AKI (Angka Kematian Ibu) yakni 189 kematian per 100 ribu kelahiran. Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Budi Wiweko, menyebutkan setiap hari rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas (cnnindonesia.com, 28-11-2025).
Bukan untuk menakut-nakuti, tapi data ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk melakukan perbaikan yang menyeluruh, menuntaskan permasalahan sampai ke akarnya. Di Indonesia sendiri, letak permasalahannya bukan karena kurangnya dokter spesialis obgyn. Pada 22 Juli 2025, akun Resmi Organisasi Profesi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Indonesia (pogi_id) memposting 300 lulusan baru dokter spesialis obstetri dan ginekologi sudah siap mengabdi. Tapi mengapa 177 RSUD masih belum terisi?
Suara organisasi profesi ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Di tengah prestasi buruknya AKI Indonesia di Asia Tenggara, seharusnya bisa teratasi melihat ratusan lulusan SpOG baru yang siap mengabdi. Pertanyaannya apakah negara bisa menyelesaikan permasalahan ini? Karena tingginya AKI menunjukkan negara gagal melindungi nyawa Ibu, dan ini berdampak pada keberlangsungan hidup anak dan keluarga.
Ironisnya, sistem kesehatan kita hari ini layaknya industri bisnis yang mempertimbangkan untung-rugi, bukan untuk pelayanan masyarakat sepenuh hati. Banyak dijumpai kasus pasien meninggal karena tak sanggup membayar administrasi dan lain-lain. Negara juga gagal menciptakan pelayanan kesehatan yang merata, yang bisa dinikmati semua masyarakat baik di kota besar maupun daerah terpencil. Saat ini terjadi ketimpangan distribusi (maldistribusi), di mana tenaga medis menumpuk di kota-kota besar dan Pulau Jawa. Kementerian Kesehatan mencatat masih terdapat ratusan puskesmas di berbagai daerah yang beroperasi tanpa adanya dokter umum (tempo.co, 21-1-2026).
Melihat data dari akun resmi pogi_id tadi, disebutkan 177 RSUD masih belum terisi padahal terdapat 300 lulusan baru SpOG, berarti seharusnya negara memperhatikan masih banyak RSUD yang belum sinkron dengan kehadiran dokter kandungan. Dalam arti tidak memiliki peralatan dan kamar operasi yang layak dan memadai, tidak adanya dokter anestesi, tidak memiliki layanan akses online, dan kekurangan lainnya. Negara juga harus memperhatikan kesejahteraan dokter karena masalah distribusi yang tidak merata terjadi karena ketertarikan dokter untuk menetap dipengaruhi oleh sarana prasarana RSUD setempat, kepastian karier, dan insentif yang ditawarkan pemerintah daerah (@pogi_id, 22-7-2025).
Negara harus belajar dan menerapkan sistem kesehatan yang dicontohkan Islam. Sistem Islam sangat memperhatikan nyawa manusia. Sehingga layanan kesehatan bukanlah dianggap sebagai komoditas atau industri bisnis, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga karena kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia.
Bimaristan atau rumah sakit yang dibangun pada masa kejayaan Islam sangat diperhatikan oleh negara. Negara menyediakan fasilitas dan tenaga kesehatan yang sangat memadai. Tidak memandang apakah pasien beragama islam maupun non islam semua berhak mendapat layanan kesehatan secara gratis. Bahkan pada masa Abasiyah, kehadiran bimaristan semakin maju dan populer karena tidak hanya difungsikan sebagai tempat pelayanan kesehatan, namun juga tempat pendidikan dan penelitian. Bimaristan menjadi model pelayanan kesehatan yang banyak diikuti, serta para dokter dan ilmuwannya seperti Al Razi, Ibnu Sina, atau Al Zahrawi, sebagaimana sudah kita kenal, karyanya menjadi rujukan di berbagai belahan dunia (islami.co, 7-7-2019).
Begitulah ketika negara menerapkan aturan Allah di muka bumi, pemimpin dalam Islam bekerja dengan iman dan ketakwaan. Sehingga ia akan takut dan bersungguh-sungguh dalam amanahnya yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Para tenaga kesehatan pun semakin berlomba-lomba bekerja sepenuh hati bahkan menambah skill dan keilmuan agar kebermanfaatannya terasa di tengah masyarakat. Hari ini, sistem kesehatan kita perlu revolusi atau perubahan menyeluruh, hanya Islamlah kompas terbaik.
Via
OPINI
Posting Komentar