OPINI
Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Saatnya Islam sebagai Lifestyle Kita
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Fenomena freestyle baru-baru ini telah merenggut nyawa dua anak usia TK dan SD di Lombok Timur. Dikabarkan mereka meninggal akibat cedera leher setelah menirukan aksi "freestyle" yang sempat viral di media sosial dan game online. Aksi freestyle tersebut diduga terinspirasi oleh sebuah game bernama Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem.
Terkait dengan kasus tersebut, pihak kepolisian, sekolah, dinas pendidikan, psikolog anak hingga KPAI memberi himbauan kepada orangtua agar lebih mengawasi penggunaan HP, media sosial dan tontonan anak-anak supaya kasus serupa tidak terulang kembali (Metrotvnews.com, 6-5-2026).
Anak Butuh Pendampingan
Masa usia anak-anak adalah tahapan yang sangat rentan. Nalar mereka belum sempurna. Mereka juga begitu mudah menirukan segala apa yang mereka lihat dan menarik, tanpa peduli resikonya. Sehingga kehadiran dan pendampingan orangtua sangat penting untuk memberikan arahan kepada anak-anak, mana tontonan yang baik dan buruk serta mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak.
Ketiadaan pendampingan orangtua berakibat sangat fatal. Apalagi banyak orangtua yang sudah memberikan fasilitas HP kepada anak-anak di bawah umur. Hal ini mengakibatkan anak-anak sangat mudah mengakses informasi apapun tanpa batas. Bahkan mereka juga dapat megkonsumsi tayangan yang berpotensi merusak dan berbahaya. Sebagaimana tren Freestyle tersebut.
Selain itu, lingkungan sosial masyarakat juga tidak lagi berfungsi sebagai kontrol dan penjagaan. Masyarakat saat ini membiarkan dan menormalisasi anak-anak nongkrong di warung kopi untuk sekedar bisa menikmati akses wifi gratis. Dengan begitu, mereka dapat menikmati media sosial ataupun game online tanpa pengawasan dari orangtua. Mereka asik bermain sendiri, menyelami dunia maya tanpa paham akibat negatif dan resikonya. Pembatasan usia bagi anak untuk bisa mengakses media online juga belum efektif. Negara juga abai terhadap segala konten yang merusak di media sosial. Akibatnya dampak negatif media sosial semakin nyata, bahkan merenggut nyawa pada anak-anak akibat menirukan tren Freestyle tersebut.
Demikianlah jika kebijakan tayangan media dilandasi sekulerisme dan kapitalisme. Akibatnya tontonan dan tayangan media sebatas demi viral dan cuan. Tidak ada lagi pertimbangan keamanan dan penjagaan generasi dari kerusakan moral dan bahaya yang mengancam nyawa akibat kebebasan konten media.
Islam adalah Lifestyle
Sebagai lifestyle, Islam memandang anak adalah amanah orangtua. Orangtua berkewajiban mendidik dan menjaganya dari bahaya. Saat anak belum baligh, mereka tidak terkena beban taklif hukum karena belum sempurna akalnya. Oleh karena itu, orangtua memiliki kewajiban mendidik dan mengarahkan kepada kebaikan. Selain itu, Islam melihat anak-anak sebagai generasi penerus peradaban. Untuk itu anak-anak perlu disiapkan dengan pendidikan yang mengantarkan pada pembentukan kepribadian Islam.
Dalam Islam, tanggung jawab mendidik generasi berada pada tiga pilar utama yang bersinergi mewujudkannya. Pertama, orangtua berperan sebagai sekolah pertama dan utama yang bertugas membangun pondasi aqidah, akhlak dan karakter mulia. Kedua, masyarakat sebagai kontrol sosial dengan amar makruf dan nahi munkar. Dengan kepedulian sosial dan semangat dakwah, masyarakat akan mencegah anak-anak bertindak menyimpang dari syari'at. Sehingga mereka tidak akan menormalisasi anak-anak nongkrong di warung kopi demi wifi.
Ketiga, peran negara juga paling utama sebagai payung pelindung generasi. Negara akan membatasi secara ketat konten-konten yang unfaedah apalagi berbahaya bagi tumbuh kembang generasi. Negara juga akan memperbanyak konten-konten positif dan bernilai edukasi agar mendukung terwujudnya ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang generasi mulia.
Khatimah
Sudah saatnya umat Islam meninggalkan sekulerisme dan kapitalisme sebagai lifestyle. Kerena hal tersebut bertentangan dengan akal dan fitrah manusia. Bahkan sangat berbahaya bagi keselamatan generasi kita. Maka, sudah saatnya umat kembali kepada life style Islam, yaitu menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Lalu, umat menerapkan syari'at Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Hanya Khilafah yang mempunyai mekanisme rinci penjagaan generasi karena Khilafah adalah payung pelindung generasi hakiki.
Wallahu 'alam bi showab.
Via
OPINI
Posting Komentar