OPINI
Tren Freestyle Jadi Alarm di Dunia Pendidikan
Oleh: Lina
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Konten viral tidak selamanya membawa dampak positif. Tidak sedikit konten yang justru membahayakan keselamatan anak. Salah satunya adalah tren freestyle atau handstand yang marak dilakukan anak-anak. Ironisnya, dalam beberapa konten, orang tua cenderung membiarkan hal tersebut. Psikolog anak dari Kancil, Evryanti Putri, mengatakan bahwa mengikuti tren di media sosial membuat anak merasa mendapat pengakuan dari teman-temannya. Di sisi lain, skema likes dan views di media sosial juga dianggap sebagai bentuk penghargaan oleh anak (MetroTV News, 7 Mei 2026).
Diduga, setelah mengikuti aksi freestyle yang kini tengah viral di media sosial dan game online, sudah ada dua anak (usia TK dan SD) di Lombok Timur yang meninggal dunia akibat cedera leher. Salah satu game online populer, seperti Garena Free Fire, yang acap kali menampilkan gerakan ekstrem seperti freestyle, semakin meresahkan para orang tua, terutama jika dimainkan oleh anak di bawah umur. Lembaga-lembaga seperti Kepolisian, Dinas Pendidikan, sekolah, psikolog anak, hingga KPAI telah memberikan himbauan kepada para orang tua agar lebih mengawasi anak-anak mereka dalam menggunakan HP, media sosial, dan berbagai tontonan lainnya.
Hal ini karena nalar anak yang belum sempurna menganggap game online dan media sosial sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk diikuti. Tanpa mereka sadari, di dalamnya terdapat informasi yang berpotensi membahayakan dan merusak, baik fisik maupun mental mereka. Lagi dan lagi, hal ini juga tidak lepas dari kurangnya peran pendampingan orang tua. Anak-anak yang dibiarkan bermain sendiri tanpa pengawasan menunjukkan betapa lemahnya kontrol lingkungan di masyarakat. Ditambah lagi, belum terlihat dampak berarti dari upaya negara dalam membatasi konten online di media sosial.
Dalam Islam, peran orang dewasa sangat diperlukan untuk mendampingi dan mengarahkan anak-anak kepada kebaikan. Sebab, anak-anak yang akalnya belum sempurna dan belum baligh tidak dibebani tanggung jawab hukum. Oleh karena itu, sebagai orang tua atau wali, kita memiliki tanggung jawab penuh atas pengasuhan dan pendidikan mereka. Kita juga harus siap dan sigap melindungi mereka dari segala bentuk bahaya yang mengancam.
Rasulullah saw. bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR Tirmidzi).
Sistem pendidikan dalam Islam bertumpu pada tiga pilar utama yang saling melengkapi demi terbentuknya kepribadian muslim yang baik dan kondusif, yaitu:
Peran orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak, yang berfungsi menanamkan perilaku teladan dan pendidikan akhlak.
Peran lingkungan, baik sekolah maupun masyarakat, yang menyediakan ekosistem kondusif melalui amar makruf nahi mungkar agar anak terbiasa berakhlak mulia dan memiliki karakter sosial yang baik.
Peran negara (sistem pemerintahan) yang bertanggung jawab menciptakan sistem pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, menjamin kurikulum yang mendidik, menyediakan sarana pendidikan, serta mengatur pergaulan sosial agar sesuai dengan syariat. Negara juga berfungsi menjaga akidah dan melakukan kontrol sosial.
Selain itu, negara harus membatasi secara ketat semua informasi yang tidak bermanfaat dan berpotensi membahayakan generasi. Negara juga perlu memperbanyak konten edukatif yang dapat mewujudkan generasi berperadaban cemerlang. Menurut pandangan Islam, hal tersebut dapat terlaksana secara menyeluruh dan seimbang dalam sistem daulah khilafah. Wallahu a‘lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar