OPINI
Dehumanisasi yang Dinormalisasi: Krisis Nurani terhadap Palestina dan Moralitas yang Terdegradasi
Oleh: Haifa Manar
(Penulis dan Aktivis Dakwah)
TanahRibathMedia.Com—Gaza, yang saat ini kondisinya kita saksikan melalui layar kaca, tak ubahnya sebidang tanah yang telah porak-poranda. Gaza telah menjelma hamparan duka yang seakan-akan tidak pernah diberi kesempatan untuk sekadar bersukacita. Di sana, langit yang menggantung tak sekadar memayungi manusia, alih-alih menjadi saksi bisu jatuhnya bom demi bom yang merenggut kehidupan siapa-siapa yang berada di bawahnya—tanpa sempat meminta izin atau memberi aba-aba. Jalanan pun dipenuhi reruntuhan bangunan, rumah-rumah tak lagi berbentuk, dan tanah yang dahulu menjadi tempat anak-anak berlari—kini menjelma kuburan massal yang terbuka, serta cairan kental berwarna merah yang menyerupai sungai kecil, sebab terlalu banyak manusia yang tertimbun dan bermandikan darah di sana.
Dalam berbagai laporan internasional, jumlah korban terus meningkat sejak pecahnya eskalasi besar pada 7 Oktober 2023. Dilansir dari AntaraNews.com (10-05-2026), terdapat 72.736 korban tewas, 172.535 korban luka-luka, pun Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) telah memverifikasi hampir 300 jurnalis yang tewas di Gaza sejak Oktober 2023 lalu. Fakta ini menunjukkan, bahwa dampak genosida tidak hanya terbatas pada kombatan, tetapi telah menghancurkan ruang hidup masyarakat sipil secara keseluruhan.
Yang paling memilukan, tragedi ini tidak hanya merenggut nyawa mereka yang hidup, tetapi bahkan ‘mengusik’ mereka yang telah tiada. Jenazah warga Palestina saja tidak selalu bisa dikebumikan dengan tenang di tanah kelahirannya sendiri, sebab turut terdampak oleh perluasan wilayah pendudukan dan agresi militer yang terus berlangsung. Ada makam yang dibongkar, jasad yang dipindahkan, bahkan ada keluarga yang tidak sempat mengucapkan perpisahan terakhir karena ledakan yang tak kunjung reda.
Sungguh, betapa mengerikannya sebuah dunia ketika manusia tidak lagi diberi hak untuk hidup dengan aman dan nyaman, bahkan juga tidak diberi hak untuk beristirahat dengan damai setelah datangnya kematian.
Dehumanisasi: Sebuah Penjajahan Modern yang Telah Dinormalisasi
Apa yang terjadi di Palestina saat ini bukan sekadar perang atau konflik biasa, tetapi genosida, sebuah praktik dehumanisasi yang kini dinormalisasi. Kita sedang menyaksikan bagaimana manusia perlahan kehilangan rasa kemanusiaannya sendiri. Bisa dilihat dari bagaimana tubuh-tubuh kecil anak-anak Palestina dianggap sebagai angka statistik belaka. Bisa didengar dari kebisuan dunia setiap kali rumah sakit, infrastruktur, dan camp-camp pengungsian diluluhlantakkan. Bisa disaksikan dari bagaimana tangisan para ibu di Gaza tidak kuasa untuk menggerakan meja-meja para adikuasa dunia. Sungguh, dehumanisasi itu nyata.
Dalam dehumanisasi, manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia. Manusia dianggap sekadar objek belaka, angka korban, atau bagian dari kerusakan yang dianggap wajar dalam konflik ini. Palestina, sedang mengalami luka itu setiap hari. Dan bahaya terbesar dari dehumanisasi bukan hanya kejahatan yang dihasilkannya, tetapi juga normalisasi terhadap kejahatan dan kebiadaban tersebut.
Ketika anak-anak dibunuh, lalu dunia menyebutnya sebagai “dampak konflik geopolitik”. Ketika ribuan warga sipil kehilangan rumah, lalu itu dianggap sebagai “konsekuensi perang”. Ketika tubuh-tubuh berserakan di bawah reruntuhan, tetapi diplomasi internasional tetap berjalan lambat atau bahkan tak bergerak sama sekali. Maka, sesungguhnya yang sedang berangsur-angsur meniada bukan hanya rakyat Palestina, tetapi juga nurani dunia.
Matinya Nurani: Ketika Penderitaan Tak Lagi Mengusik Hati
Agaknya, ada suatu hal yang menjadi sangat mengerikan, yakni tatkala manusia di era saat ini mulai terbiasa melihat penderitaan. Ketika foto-foto anak Palestina yang bersimbah darah hanya lewat sekilas di layar ponsel sebelum akhirnya dilupakan beberapa menit kemudian, atau ketika ada sebuah video korban sedang menangis meminta bantuan—kita justru lanjut menggulir layar, alih-alih berhenti sejenak untuk menafakurkan. Sebab kini, dunia yang kita tinggali perlahan berubah menjadi tempat yang sibuk menyaksikan tragedi—dengan menjadikan kita abai dan lalai, hingga kita tak benar-benar merasa perlu untuk berupaya agar semua kriminalitas ini berhenti.
Padahal, di balik jumlah korban yang mencapai ratusan ribu tersebut, masing-masing terdapat kehidupan yang pernah dipenuhi dengan pengalaman, kawan, serta harapan untuk masa depan. Di mana ada anak kecil yang belum sempat belajar membaca atau menghitung, ayah yang belum selesai membangun rumah untuk keluarga kecilnya, ibu yang belum sempat memeluk anaknya lebih lama, mahasiswa yang belum sempat wisuda, pun jurnalis yang pergi membawa kamera dengan harapan dunia tak enggan melihat sebenar-benarnya kebenaran. Akan tetapi, genosida merenggut segalanya dalam kurun waktu yang singkat.
Gaza Terkini: Upaya Zionis Melenyapkan Kebenaran dan Mengendalikan Narasi
Di tengah reruntuhan Gaza, para jurnalis berdiri membawa kamera, mikrofon, dan yang terpenting—keberanian. Mereka tahu, bahwa setiap jejak langkah mereka bisa saja menjadi langkah yang terakhir, tetapi mereka memilih untuk tetap berdiri dan meliput berita demi memastikan dunia melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja, Gaza menjadi wilayah paling mematikan bagi pekerja media—jurnalis. Sebab ratusan pekerja media dilaporkan tewas tatkala sedang menjalankan tugas peliputan sejak agresi besar berlangsung. Padahal, mereka bukanlah tentara. Mereka tidak membawa senjata, mereka hanya menyajikan fakta.
Sementara itu, kematian para jurnalis bukan hanya menorehkan luka akibat kehilangan bagi masing-masing keluarga mereka, tetapi juga menjelma ancaman bagi kebenaran dari berita faktual itu sendiri. Sebab ketika suara-suara yang menyampaikan kebenaran dibungkam, maka dunia akan semakin mudah dipenuhi propaganda dan kedustaan dengan cara pengendalian narasi. Genosida di Palestina pun tidak hanya menghancurkan bangunan atau melenyapkan manusia, tetapi juga sebuah upaya untuk menghancurkan ingatan manusia dan upaya meniadakan setiap laporan yang berhasil didokumentasikan.
Oleh karena itu, keberadaan jurnalis di Gaza merupakan bagian dari urgensi yang sangat vital. Mereka—adalah mata bagi dunia di luar wilayah Palestina. Mereka mengabadikan setiap tangisan anak-anak di rumah sakit, potongan-potongan tubuh yang diangkat dari balik reruntuhan, dan malam-malam panjang yang bising akibat suara ledakan. Mereka, memastikan bahwa Palestina tidak hilang ditelan ketidakpedulian, dan publik dunia harus mengetahui realitas saat ini tentang kondisi Palestina yang jauh dari frasa “baik-baik saja”. Meski ironisnya, mereka juga turut menjadi korban.
Trauma Generasi: Ketika Masa Kanak-Kanak Berakhir Terlalu Dini
Di samping itu, korban paling tragis dalam genosida Gaza adalah anak-anak. Banyak dari mereka terpaksa untuk diberlakukan amputasi pada bagian tubuhnya akibat serangan bersenjata dan ledakan. Sebagian kehilangan anggota tubuh, dan sebagian lain kehilangan seluruh ruang aman dalam hidup mereka. Dan, pemandangan di mana anak-anak kehilangan masa kecilnya, terlebih seluruh hidupnya—merupakan hal yang mampu menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya.
Di Gaza, banyak anak harus hidup tanpa tangan, tanpa kaki, tanpa orang tua, bahkan tanpa rumah untuk pulang. Sebagian dari mereka menjalani amputasi di tengah keterbatasan obat dan listrik. Sebagian lain tumbuh bersama trauma yang bahkan terlalu berat untuk dipahami orang dewasa.
Anak-anak Palestina tidak ditemani dongeng fabel sebelum tidur, alih-alih dentuman bom yang menjadi lagu pengantar tidur mereka. Mereka lebih dahulu mempelajari perbedaan antara suara drone, petir, atau ledakan—sebelum sempat menghafal lagu anak-anak. Mereka lebih cepat mengenal rasa waspada daripada mengenal cita-cita. Bahkan, ada anak yang kehilangan seluruh keluarganya dalam satu malam. Ada yang harus menjadi yatim piatu sebelum sempat memahami arti kehilangan. Ada pula yang tetap tersenyum di atas puing-puing duka, seakan para penguasa dunia belum sepenuhnya puas merampas cahaya kecil dan kepolosan dalam hati mereka.
Akibatnya, hampir seluruh anak-anak di Palestina mengidap mental illness, yaitu PTSD (Post-traumatic-stress-disorder); gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dengan pemicu yang dapat membawa kembali kenangan trauma disertai dengan reaksi emosional dan fisik yang intens (Harry Fear, Dir. Gaza: Still Alive, 2019).
Jadi, di situlah luka terbesar itu terasa, dan bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk perasaan dan perilaku negatif. Sebab bagaimana mungkin anak-anak yang seharusnya sibuk bermain justru dipaksa memahami arti konflik antarnegara, hingga antarideologi? Bagaimana mungkin dunia yang mengaku menjunjung hak asasi manusia masih membiarkan begitu banyak tubuh kecil kehilangan anggota badannya dan dicabik-cabik jiwanya?
Dunia yang Abai: Ketika Diplomasi Tak Berujung pada Aksi
Pada hakikatnya, genosida di Palestina tidak dapat dipandang hanya sebagai konflik teritorial semata. Apa yang terjadi di Gaza memperlihatkan kegagalan sistem global dalam melindungi hak hidup manusia, sekaligus memperlihatkan rapuhnya solidaritas umat Islam dalam menghadapi penindasan yang berlangsung puluhan tahun tersebut. Di mana entitas Zionis Israel selalu melanggar kesepakatan dan tidak mempedulikan gencatan senjata, Zionis Israel selalu menyerang Gaza dengan bantuan dari negeri Paman Sam—Amerika Serikat—baik dalam senjata, politik, militer, serta ekonomi.
Oleh sebab itu, pembahasan mengenai isu Palestina tidak cukup berhenti pada rasa simpati atau kecaman sesaat. Perkara ini membutuhkan kerangka solusi yang lebih mendasar, sistematis, dan berorientasi pada perubahan besar dalam tubuh umat Islam itu sendiri.
Dalam perspektif Islam, Palestina bukan hanya sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, atau wilayah geografis semata. Akan tetapi, bagian dari kehormatan umat Islam yang memiliki nilai historis, spiritual, dan peradaban. Masjid Al-Aqsa pun bukan sekadar simbol keagamaan, alih-alih representasi keterikatan umat Islam terhadap sejarah panjang perjuangan dan persatuan generasi emas umat Muslim terdahulu. Maka, tatkala Palestina terus berada dalam penjajahan dan penderitaan, luka itu tidak hanya dirasakan rakyat Gaza, tetapi juga menggambarkan tercerai-berainya kekuatan politik umat Islam di dunia, saat ini.
Selain itu, realitas yang terlihat sekarang menunjukkan, bahwa negeri-negeri Muslim masih bergerak sendiri-sendiri dalam batas nasionalisme dan sekat geografis masing-masing. Seperti kepentingan politik domestik, tekanan global, ketergantungan ekonomi, dan fragmentasi geopolitik membuat umat Islam kehilangan posisi strategis untuk menghadirkan kekuatan kolektif yang benar-benar mampu melindungi rakyat Palestina secara nyata.
Akibatnya, solidaritas yang muncul kerap kali berhenti pada level pernyataan, bantuan kemanusiaan, atau kecaman diplomatik, sementara penderitaan di Gaza terus berlangsung tanpa penghentian yang berarti.
Qadhiyah Masyiriyah: Urgensi Persatuan Umat yang Terfragmentasi
Sesungguhnya, akar kelemahan umat Islam hari ini terletak pada perpecahan politik dan dominasi sistem negara–bangsa yang membuat negeri-negeri Muslim bergerak secara parsial. Ketika dunia Islam terpecah menjadi puluhan negara dengan kepentingan masing-masing, kekuatan kolektif umat menjadi lemah dan mudah dipengaruhi kekuatan global yang lebih besar. Dan, penjajahan seperti yang terjadi di Palestina maupun di negeri Muslim lainnya menjadi hal yang tak terelakkan, selama tanpa adanya langkah strategis yang benar-benar mampu menghentikannya secara menyeluruh.
Sehubungan dengan hal itu, gagasan tentang ukhuwah Islamiyah menemukan relevansinya. Persatuan umat Islam bukan hanya konsep emosional atau simbolik, tetapi kebutuhan strategis dalam menghadapi persoalan global yang menyangkut kepentingan umat secara luas. Ukhuwah tidak cukup dimaknai sebagai rasa persaudaraan dalam doa dan slogan, melainkan harus diwujudkan dalam kesatuan visi politik, kekuatan ekonomi, keberanian diplomasi, peraturan hidup, serta kemampuan menjaga kehormatan dan keselamatan umat Islam di berbagai wilayah dunia.
Dengan kata lain, persatuan tersebut hanya dapat diwujudkan secara sempurna melalui institusi politik yang menyatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan global, yakni Khilafah ‘ala minhaaj an-nubuwwah.
Dalam hal ini, Khilafah dipahami bukan sekadar sistem kekuasaan, tetapi sistem pemersatu umat yang mampu mengonsolidasikan ideologi Islam—baik sumber daya manusia, alam, ekonomi, hukum, maupun militer—untuk melindungi umat dari penjajahan dan penindasan. Genosida Palestina kemudian ditempatkan sebagai salah satu qadhiyah masyiriyah (agenda utama/perkara krusial) yang harus dibebaskan melalui kekuatan persatuan tersebut.
Pembelaan yang Hakiki: Palestina sebagai Barometer Keimanan Umat Masa Kini
Demikian, satu hal yang tidak dapat dibantah adalah, bahwa Palestina membutuhkan solidaritas yang lebih nyata, lebih kuat, dan lebih terorganisasi. Hal ini hanya bisa direalisasikan apabila sistem Islam ditegakkan. Umat Islam tidak bisa hanya menjadi penonton yang bersedih setiap kali melihat penduduk Palestina menjadi korban—dan setelahnya dilupakan.
Sewaktu mereka dijajah, kita wajib untuk melangkah menuju keniscayaan; berupaya dengan belajar Islam secara komprehensif. Sehingga kita akan memiliki kesadaran kolektif, bahwa perjuangan Palestina bukan hanya tanggung jawab rakyat Palestina sendiri, melainkan tanggung jawab moral bersama, terutama umat Islam di berbagai belahan dunia.
Untuk itu, pembelaan terhadap Palestina seharusnya dibangun di atas kesadaran peradaban: bahwa penjajahan, dehumanisasi, dan pembunuhan warga sipil tidak boleh dinormalisasi dalam bentuk apa pun. Persatuan umat harus diarahkan secara terstruktur untuk menghadirkan keadilan yang hakiki, melindungi kehidupan manusia, dan mengatur dunia agar tidak membiarkan kekuatan menjadi alat untuk menindas yang lemah.
Refleksi: Iman dan Nurani yang Senantiasa Diuji
Palestina—pada akhirnya, bukan hanya tentang wilayah yang diperebutkan, melainkan tentang pertarungan antara kebaikan dan kebatilan. Tidak ada institusi yang benar-benar bisa membebaskan Palestina dari agresi Zionis Israel secara utuh, selain institusi Khilafah yang dirancang untuk mengurusi umat secara menyeluruh. Kembali kepada kehidupan dengan Islam sebagai ideologi adalah solusi.
Meski masih banyak daripada kita yang bertanya-tanya: apakah dunia masih bisa dipercaya, bahwa di dalamnya setiap manusia bisa berhak hidup merdeka dan bermartabat? Ataukah justru kemanusiaan akan terus dikalahkan oleh kekuasaan para oligarki? Apakah manusia masih mampu untuk memandang sesamanya sebagai manusia? Apakah dunia masih memiliki keberanian untuk berdiri di sisi kemanusiaan ketika kekuasaan dan kepentingan individu lebih mendominasi? Ataukah kita semua perlahan sedang terbiasa hidup berdampingan dengan penderitaan saudara kita yang tak kunjung berhenti?
Artinya, di Palestina dan di negeri-negeri Muslim lainnya, selama masih ada ibu yang menangis di samping jasad anaknya yang kondisinya tragis, selama masih ada suara ambulans yang bersaing dengan dentuman bom atau pertempuran senjata, dan selama masih ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, serta masa depan dalam satu waktu—maka penjajahan di Palestina belum usai.
Dan, selama itu pula, kita mempunyai amanah besar di pundak, sebab Gaza bukan hanya luka bagi Palestina, tetapi cermin tentang bagaimana kita—umat terbaik—justru gagal menghadirkan kebutuhan dasar; kemanusiaan itu sendiri. Maka, apakah kita masih memiliki hati, atau justru kita telah kehilangan empati terhadap aksi dehumanisasi yang telah dinormalisasi?
Wallahua’lam bisshawab.
Via
OPINI
Posting Komentar