OPINI
Tidak Perlu Konser K-Pop, Cukup Islam Menjadi Solusi
Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, S.Pd
(Pemerhati Masalah Remaja)
TanahRibathMedia.Com—Di tengah karut-marut yang terjadi akhir-akhir ini, di mana rupiah anjlok parah, harga BBM yang mulai naik, APBN defisit ratusan triliun, bunga utang yang hampir menembus 600 triliun, angka PHK terus meningkat, harga bahan baku logistik dasar yang serba naik, sungguh mengejutkan justru Pemimpin negeri ini mengeluarkan pernyataan bahwa ingin menambah jumlah konser K-Pop di Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkap pembahasan kerja sama saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Keduanya membahas kerja sama budaya, bahkan rencana meningkatkan konser K-Pop di Indonesia. Rencana itu dimaksudkan mengingat banyaknya penggemar K-Pop di Indonesia (detiknews.com, 22-4-2026).
Bagaimana tidak mengejutkan, di tengah situasi melemahnya ekonomi dalam negeri, belum lagi bencana kemanusiaan dunia dan bencana alam Sumatera pun belum ada penanganan tuntasnya, justru pemimpin negeri ini hanya memikirkan kesepakatan dagang. Di mana langkah dari penguatan kerjasama budaya dan ekonomi serta sebagai bentuk dukungan tehadap ekonomi kreatif adalah dengan memperbanyak konser K-Pop. Selain itu, alasan yang diungkapkan mengapa konser K-Pop akan diperbanyak, karena melihat banyaknya warga Indonesia yang senang dengan Korea melalui industri K-Pop. Dengan hal itu, maka akan menciptakan kebahagiaan bagi para pencinta K-Pop yang jumlahnya banyak di Indonesia.
Jika berbicara tentang kebahagiaan, benarkah dengan banyaknya konser K-pop maka masyarakat Indonesia pecinta K-Pop akan bahagia? Saya rasa tidak. Alih-alih memberikan kebahagiaan, justru dengan konser K-pop akan membuat remaja pecinta K-Pop terlalaikan dan semakin kehilangan jati diri sesungguhnya. Terlebih para remaja tersebut mayoritas seorang Muslim. Para remaja akan tenggelam dengan musik yang didengar serta tertarik untuk mengikuti budaya Korea. Seperti yang kita ketahui, budaya korea seperti hallyu, misalnya merupakan life style yang rusak. Dimana para Hallyu ini bisa melakukan apapun bahkan mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi sang idola, tejerumus pergaulan bebas, dan pilihan bunuh diri saat sudah tidak menemukan solusi hidup. Lalu kebahagiaan seperti apakah yang diharapkan?
Kemudian, berbicara ekonomi kreatif, ekonomi siapakah yang paling banyak diuntungkan dengan mendatangkan konser k-pop tersebut? Apakah rakyat Indonesia yang meningkat secara ekonomi? Tentu bukan. Dengan semakin banyaknya konser, maka yang banyak diuntungkan adalah para agensi dan manajemen artis di Korea Selatan. Selain itu, konser tersebut pun berdampak semakin banyak budaya korea yang masuk ke negeri ini, justru bukan wisatawan Korea yang banyak datang ke Indonesia, namun sebaliknya rakyat Indonesia banyak yang ingin pergi ke Korea. Lagi-lagi siapa yang diuntungkan?
Kebijakan yang salah kaprah tentu tidak lepas dari imbas diterapkannya sistem kapitalisme di negara ini. Kapitalisme yang memiliki tolak ukur perbuatan manusia adalah mendapatkan materi sebanyak mungkin. Sementara itu, dalam memimpin negeri dan melayani rakyat sesuka hati, kepentingan rakyat bukanlah sesuatu yang diutamakan. Begitulah sosok pemimpin yang lahir dalam sistem kapitalisme, yakni tidak amanah menjalankan tugasnya.
Dalam Islam, amanah kekuasaan tentu akan dimintai pertanggungjawaban atas kekuasaannya, bahkan Rasulullah SAW mengancam bagi pemimpin yang tidak melayani rakyat dengan tuntunan yang baik, maka tidak akan mencium bau surga. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa yang diamanati Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak memimpinnya dengan tuntunan yang baik, ia tidak akan merasakan bau surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh hanya sistem Islam yang yang mampu melahirkan pemimpin dan pejabat yang amanah, yang akan mengurusi urusan rakyatnya. Hanya dengan sistem Islam pulalah yang akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki untuk rakyatnya. Maka, tidak perlu konser K-pop, yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah pemimpin yang amanah, yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islam.
Via
OPINI
Posting Komentar