PUISI
Pulang dalam Ketundukan
Oleh: Rianti Budi Anggara
TanahRibathMedia.Com—Bahkan setelah sekian purnama ku berjalan
Hamparan semu hadir dalam berjuta bayangan
Baik dan buruk silih berganti dalam pandangan
Sedang hakikat ilmu kerap hilang dari pemahaman
Bibit yang tertanam pada tanah penuh harapan
Tumbuh perlahan bersama hujan dan angin
Mengakar menembus kerasnya tanah kehidupan
Menjulang tinggi, namun tunduk dalam keyakinan
Betulkah itu aku yang berjalan tanpa asa?
Ataukah hanya jiwa yang letih mencari cahaya?
Sedang mata manusia silau oleh megah dunia
Namun hati yang hampa perlahan kehilangan makna
Aku pernah mengejar gemerlap dunia fana
Mengira bahagia lahir dari pujian manusia
Justru aku tau, jiwa ini haus akan mata air makna
Yang hanya mengalir dari ingat pada-Nya
Di malam yang sunyi dan syahdu,
Kudengar nurani memanggil lirih namaku
Tentang jalan yang telah lama hilang dariku
Tentang hati yang terlalu jauh dari Tuhanku
Ada masa ketika langkah terasa begitu bebas
Tanpa batas, tanpa arah, tanpa tuntunan
Hingga dunia dipeluk seperti tujuan yang pantas
Sedang akhirat hanya tinggal angan dan ingatan
Padahal bumi selalu mengajarkan ketundukan
Pohon yang tinggi tetap merunduk diterpa angin
Langit yang luas pun patuh pada ketetapan Tuhan
Lalu mengapa manusia enggan tunduk pada Rabbul ‘Alamin?
Aku melihat zaman berjalan penuh kebingungan
Kebenaran diukur oleh suara terbanyak
Yang hak perlahan dibungkus oleh kepalsuan
Sedang yang batil dihias seolah tampak layak
Banyak hati dibangun tanpa pondasi iman
Ilmu dipelajari hanya demi kedudukan
Lisan mengucap kebaikan dalam perkataan
Namun amal kehilangan ruh penghambaan
Lalu perlahan kupungut serpihan keyakinan
Dari doa-doa yang lama tercecer di perjalanan
Kutata kembali arah dan tujuan kehidupan
Agar langkah ini pulang menuju keridhaan Tuhan
Kusadari hidup bukan sekadar tentang bertahan
Bukan pula hanya mengejar dunia yang sementara
Namun tentang menjadi hamba dalam keseluruhan
Menjadikan iman cahaya bagi setiap langkah dan asa
Sebab agama bukan sekadar nama dan ucapan
Bukan hanya hadir dalam waktu peribadatan
Ia adalah nafas dalam setiap denyut kehidupan
Yang menuntun akal, hati, hingga peradaban
Maka bila kelak badai kembali datang menghadang
Dan tubuh ini lelah menahan deras ujian
Semoga hati tetap teguh dalam memandang
Bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi insan beriman
Jika akhirnya aku harus rebah di penghujung usia
Jangan biarkan jiwaku gugur dalam kesia-siaan
Biarlah tubuh jatuh kembali menjadi tanah dunia
Namun iman tetap hidup menghadap Tuhan dalam ketundukan
Via
PUISI
Posting Komentar