Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Gaza Terus Menderita, Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam
OPINI

Gaza Terus Menderita, Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Mei, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)


TanahRibathMedia.Com—Wilayah Gaza yang dikuasai Israel makin luas. Ada desakan dari militer Israel untuk melanjutkan operasi militer. Sementara itu, Hamas menyebut penguasaan Israel sudah lebih dari 60%.  Laporan yang sama juga menyebut pejabat militer senior Israel mendorong dimulainya kembali pertempuran di Gaza dan menilai ini waktu yang tepat untuk mengalahkan Hamas (AntaraJatim, 4 Mei 2026).

Dunia kembali dibuat geram. Kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan yang melaju di perairan internasional dekat Yunani, disita paksa oleh militer Zionis. Sebanyak 211 aktivis ditangkap, 31 orang terluka, hanya karena berusaha menembus blokade Gaza. Zionis berdalih penahanan itu sah karena kapal dianggap beroperasi di bawah arahan Hamas. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan yang terjadi adalah perampokan di laut lepas terhadap misi kemanusiaan.

Kejahatan seperti ini bukan kali pertama, dan tidak ada yang tahu kapan berakhir. Sejak Oktober 2023, agresi Zionis Israel ke Gaza tidak pernah berhenti. Data OHCHR (Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia) mencatat hampir 300 jurnalis tewas. Angka yang mencengangkan untuk profesi yang seharusnya dilindungi hukum internasional. Selama dua tahun, lebih dari 72.000 orang syahid, 172.000 lainnya terluka, dan 90 persen infrastruktur sipil rata dengan tanah. Sekolah, rumah sakit, masjid, sumur air bersih, semua dihancurkan secara sistematis. Tujuannya jelas: membuat Gaza tidak layak dihuni.


Pelanggaran yang Dilegalkan

Apa yang terjadi di laut lepas itu adalah bukti nyata bahwa entitas Zionis tidak mengenal batas. Menyita kapal di perairan internasional adalah pelanggaran hukum laut internasional. Namun pelanggaran itu dibiarkan, bahkan dipuji oleh para pendukungnya. Mengapa? Karena Zionis memahami satu hal: selama dunia diam, mereka bebas melakukan apa saja. Geramnya, label "teroris" terus dipakai untuk melegitimasi agresi. Padahal label itu hanya alat politik untuk mengkriminalisasi solidaritas terhadap Palestina. Permainan seperti ini berulang, karena memang tujuannya bukan menegakkan hukum, melainkan membungkam perlawanan.

Lebih menyakitkan, tidak ada satu pun negeri Muslim yang mengerahkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut. Padahal secara geografis dan politis, negara-negara Muslim memiliki kekuatan untuk itu. Kenyataan ini membuktikan bahwa sistem negara-bangsa Tidak ada satu pun negeri-negeri Muslim yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut. Ini membuktikan bahwa sistem negara-bangsa (nation-state) yang ada hari ini tidak dirancang untuk melindungi umat Islam, tetapi menjaga eksistensi Zionis. 

Kita sering mendengar bahwa masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Benar, dampaknya kemanusiaan. Tapi akar masalahnya politik. Selama dua tahun Gaza dibombardir, bantuan yang masuk hanya setetes air di tengah gurun. Kenapa? Karena tidak ada kekuatan politik yang berani memaksa Zionis membuka blokade.

Akar masalahnya adalah tidak adanya negara yang berdiri atas landasan akidah Islam yang mampu menyatukan kekuatan militer, ekonomi, dan politik umat. Tanpa itu, negeri-negeri Muslim, termasuk Palestina, akan terus menjadi sasaran empuk penjajahan Kapitalis Barat. Yang bisa kita lakukan hanyalah: ketika mereka menyerang, kita cukup mengutuk. Mereka membunuh, kita berdonasi. Kondisi ini akan terus berulang jika tidak diubah arah perjuangan kepemimpinan politik.


Umat Butuh Perisai, Bukan Sekadar Kecaman

Gaza adalah bagian dari tanah kaum Muslimin. Membiarkan blokade berlanjut tanpa tindakan nyata adalah kemungkaran yang wajib diubah dengan kemampuan tertinggi yang dimiliki umat. Tidak dicukupkan hanya mengutuk dan mengirim bantuan tetap menghentikan jet tempur dan kapal perang. Sejarah mencatat, ketika umat Islam memiliki institusi politik yang menyatukan mereka, agresi terhadap kaum Muslimin bisa dihentikan. Institusi itu dalam Islam disebut Khilafah Islamiyyah. Khilafah bukan sekadar nama, melainkan institusi yang secara syar'i memiliki kewenangan dan kewajiban untuk melindungi jiwa-jiwa kaum Muslimin yang ditindas dengan jihad fii sabilillah. Ia adalah perisai, junnah, bagi umat. 

Karena itu, kemarahan umat atas penyitaan kapal ini tidak boleh berhenti pada kecaman dan keprihatinan. Kemarahan itu harus diarahkan pada kesadaran mendalam bahwa umat membutuhkan kepemimpinan politik Islam yang bertumpu pada ideologi yang sahih. Perjuangan mewujudkan Khilafah adalah kewajiban yang harus ditempuh umat, mengikuti metode perjuangan Rasulullah saw. Selama perisai itu belum tegak, maka darah Gaza akan terus mengalir. Selama  sekuler masih dipertahankan, maka blokade akan terus berjalan. Pertanyaannya sekarang: sampai kapan kita membiarkan saudara kita menderita, sementara kita hanya bisa menonton dari layar ponsel?
Wallahualam bissawab.
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Pekerja Informal Menjamur, Bukti Negara Gagal Ciptakan Lapangan Kerja

Tanah Ribath Media- Mei 13, 2026 0
Pekerja Informal Menjamur, Bukti Negara Gagal Ciptakan Lapangan Kerja
Oleh: Pudji Arijanti (Pegiat Literasi untuk Peradaban) TanahRibathMedia.Com— Julukan Zamrud Khatulistiwa memang pantas diberikan kepada Indonesia. …

Most Popular

Mengkritisi Proyek BRT, ketika Kemajuan Tak Sekadar Fisik

Mengkritisi Proyek BRT, ketika Kemajuan Tak Sekadar Fisik

Mei 08, 2026
Refleksi May Day, Negara Mandul Ciptakan Lapangan Kerja

Refleksi May Day, Negara Mandul Ciptakan Lapangan Kerja

Mei 08, 2026
Kampus Tak Lagi Aman: Peringatan Serius atas Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan

Kampus Tak Lagi Aman: Peringatan Serius atas Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan

Mei 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Mengkritisi Proyek BRT, ketika Kemajuan Tak Sekadar Fisik

Mengkritisi Proyek BRT, ketika Kemajuan Tak Sekadar Fisik

Mei 08, 2026
Refleksi May Day, Negara Mandul Ciptakan Lapangan Kerja

Refleksi May Day, Negara Mandul Ciptakan Lapangan Kerja

Mei 08, 2026
Kampus Tak Lagi Aman: Peringatan Serius atas Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan

Kampus Tak Lagi Aman: Peringatan Serius atas Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan

Mei 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us