OPINI
Refleksi Peringatan Nakba: Palestina masih Terjajah
Oleh: Yuli Ummu Raihan
(Muslimah Peduli Generasi)
TanahRibathMedia.Com—Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 78 tahun Nakba Palestina, Sektor Liga Arab untuk Palestina dan Wilayah Arab yang diduduki menekankan perlunya mengakhiri ketidakadilan historis terhadap rakyat Palestina dan melanjutkan upaya internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel sejak 1967.
Organisasi regional ini juga mendesak zionis untuk menjalankan pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) tentang ilegalitas pendudukan Zionis di Palestina. Zionis juga didesak memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan. Peringatan Nakba tahun ini berlangsung di tengah perang di Jalur Gaza dan eskalasi Zionis di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur (Antara, 15-5-2026).
Para menteri luar negeri negara-negara anggota BRICS juga mendesak gencatan senjata segera tanpa syarat di Jalur Gaza, serta penarikan pasukan Israel dari wilayah Palestina. Para menteri juga menyerukan pembebasan terhadap semua sandera dan penyediaan akses berkelanjutan dan tanpa hambatan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Update terakhir sejak konflik antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023 lebih dari 70.0000 warga Palestina meninggal dunia, dan 170.000 terluka. Perkiraan regional dan internasional mengatakan bahwa pembangunan kembali wilayah yang hancur total akan memakan waktu sekitar 10 tahun dan biaya sekitar 70 miliar dolar AS atau sekitar 1,2 kuadriliun rupiah.
Nakba atau bencana dalam bahasa Arab yang diperingati setiap tanggal 15 Mei adalah momen merefleksikan tragedi kemanusiaan dan pengusiran massal warga Palestina sejak 1948. Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah masa lalu, melainkan menjadi siklus penindasan, perampasan tanah, dan penggusuran yang terus terjadi di Palestina. Peringatan ini juga untuk menghormati dan apresiasi atas keberanian dan ketangguhan warga Palestina yang mempertahankan tanah mereka.
Awal sejarah Nakba secara garis besar adalah ketika berakhirnya Perang Dunia II, peta politik dunia mengalami perubahan besar. Melalui Resolusi PBB Nomor 181 Tahun 1947, PBB membagi wilayah Palestina menjadi dua negara, satu untuk penduduk Arab dan satu lagi untuk imigran Yahudi. Pada 14 Mei 1948, Inggris secara resmi mengakhiri mandat kekuasaannya, dan pada hari yang sama kelompok pemukim Yahudi mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Sehari setelahnya terjadilah peristiwa Nakba, pasukan paramiliter zionis melancarkan serangan besar-besaran ke seluruh wilayah Palestina. Dokumentasi sejarah mencatat adanya upaya pembersihan etnis, pembunuhan warga sipil, dan sekitar 750.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka.
Sepanjang 78 tahun ini dunia menyaksikan bagaimana Palestina terus dijajah, berbagai perlawanan dari warga Palestina dan bantuan kemanusiaan dari berbagai organisasi kemanusiaan terus terjadi. Selama 78 tahun juga Palestina tetap berjuang meskipun diblokade darat, laut dan udara. Berlanjutnya penjajahan di Palestina adalah potret kegagalan sistem hari ini yang berusaha menciptakan perdamaian di dunia. Fakta ini juga menunjukkan bobroknya konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan kekuatannya. Sekaligus bukti nyata bahwa pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan dari negara adidaya, lembaga2 regional bahkan internasional. Semua itu justru ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam.
Dehumanisasi warga Palestina terus terjadi. Tindakan penjajahan yang dilakukan Israel sungguh mengerikan dan kejam. Tidak hanya warga Palestina, zionis juga berusaha membungkam pers untuk tidak menyiarkan kejahatan mereka. Para jurnalis menjadi target pembunuhan zionis. OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023. Sejumlah jurnalis juga mengalami luka selama melakukan peliputan.
Dunia khususnya kaum muslim tidak boleh diam. Israel tidak mempan hanya sekadar kecaman atau kutukan. Bahkan gencatan senjata yang disepakati kerap kali dilanggar. Akar masalah Palestina adalah keberadaan zionis di tanah milik muslim Palestina, maka solusinya adalah mengusir' zionis dan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya. Mirisnya hari ini penguasa muslim belum tergerak untuk membantu membebaskan Palestina. Mereka terbelenggu oleh sekat nasionalisme. Meskipun gelombang seruan persatuan dunia Islam terus digaungkan baik dari kalangan kaum muslimin secara umum, maupun dari para ulama dari negeri-negeri muslim.
Pembebasan Palestina tidak bisa melalui langkah politik pragmatis, butuh langkah strategis dan politik sahih. Palestina adalah tanah kharajiyah milik seluruh umat Islam hingga hari kiamat, meskipun hak gunanya diserahkan kepada penduduk setempat. Dulu ketika ada kekhilafan Islam tanah suci itu terjaga, namun sejak khilafah runtuh dan entitas zionis berdiri di Palestina tanah suci itu terjajah. Maka, tegaknya khilafah menjadi sebuah keharusan.
Khilafah adalah institusi pemersatu umat, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Ali Imran ayat 103:
" Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai berai, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk."
Solusi untuk Palestina saat ini adalah jihad, baik dipimpin oleh penguasa kaum muslimin ketika khilafah belum tegak, atau khilafah telah tegak. Khilafah akan menghentikan pendudukan dan genosida terhadap Palestina, meriayah penduduknya dan mengembalikan kembali kejayaan Islam. Pengabaian terhadap Palestina meskipun hanya sejengkal adalah sebuah penghianatan kepada Allah, RasulNya dan seluruh kaum muslimin. Maka agenda utama umat Islam hari ini adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah.
Wallahua'lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar