OPINI
Refleksi Nakba: Derita Palestina
Oleh: Pudji Arijanti
(𝘗𝘦𝘨𝘪𝘢𝘵 𝘓𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯)
TanahRibathMedia.Com—Para menteri luar negeri negara anggota BRICS menyerukan komunitas internasional agar terus mendukung bangsa Palestina dalam upayanya mencapai kemerdekaan dan kedaulatan, sebagaimana tercantum dalam dokumen hasil Pertemuan Tingkat Menlu BRICS. Dengan menegaskan pula bahwa Jalur Gaza merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki.
Saat ini umat muslim di Palestina, masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin muslim dunia. Peringatan 𝘕𝘢𝘬𝘣𝘢 menjadi pengingat bahwa penderitaan rakyat Palestina belum berakhir. Rumah-rumah dihancurkan, wilayah mereka terus dipersempit, dan ribuan nyawa melayang, termasuk anak-anak dan perempuan. Namun di tengah segala keterbatasan, rakyat Palestina tetap mempertahankan tanah, identitas, dan kehormatan mereka.
Ilusi Pembebasan Palestina
𝘕𝘢𝘬𝘣𝘢 yang berarti bencana, merupakan pengingat bahwa tragedi Palestina bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi luka yang dampaknya masih dirasakan hingga hari ini. Fakta sejarah Palestina mengalami 𝘕𝘢𝘬𝘣𝘢 sejak 15 Mei 1948, ketika 700 ribu lebih warga Palestina terusir saat berdirinya Negara Israel.
Peristiwa ini terlepas dari Keputusan Balfour 1917 yang dikeluarkan Inggris. Berlanjutnya penjajahan terhadap Palestine menjadi potret kegagalan sistem yang hari ini mendominasi dunia dalam mewujudkan keadilan dan kerahmatan bagi manusia. Ketika kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan lebih diutamakan dibanding nilai kemanusiaan.
Maka, penderitaan rakyat tertindas pun terus dibiarkan berlangsung tanpa penyelesaian.
Kondisi ini juga memperlihatkan rapuhnya konsep negara bangsa yang memecah belah umat Islam ke dalam batas-batas wilayah dan kepentingan nasional masing-masing. Akibatnya, kaum muslim kehilangan kekuatan besar politik dan persatuan yang dahulu mampu melindungi negeri-negeri Islam dari penjajahan serta menjaga kehormatan umat secara bersama.
Pembebasan Palestina tidak bisa sepenuhnya diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga internasional, ataupun forum regional yang selama ini terbukti belum mampu menghentikan penjajahan dan penderitaan rakyat Palestina secara nyata. Berbagai resolusi dan celaan, kerap tidak diikuti sikap tegas dalam melindungi rakyat tertindas. Bahkan, Blok sebesar BRICS dengan 45% populasi dunia saja tak mampu hentikan Israel. Apalagi jika umat Islam tetap tercerai-berai jadi 57 negara bangsa.
Tentu saja kondisi tersebut membuat banyak pihak menilai bahwa sistem politik global saat ini lebih kuat menjaga kepentingan kekuasaan dan aliansi tertentu dibanding menghadirkan keadilan yang hakiki. Akibatnya, penjajahan terus berlangsung sementara rakyat Palestina tetap hidup dalam tekanan, pengusiran, dan kekerasan yang berkepanjangan.
Islam sebagai Mabda
Perjuangan membebaskan Palestina harus disertai upaya membangun kepemimpinan Islam yang dapat menyatukan potensi umat Islam, baik kekuatan politik, ekonomi, maupun militer. Dengan persatuan di bawah kepemimpinan Islam, umat tidak lagi menjadi lemah dan mudah diintervensi oleh kepentingan asing.
Kepemimpinan Islam juga memiliki kewajiban syar’i untuk menjaga kehormatan kaum muslim dan melindungi wilayah-wilayah Islam dari penjajahan. Dalam sejarah, Islam pernah memimpin dunia bahkan menjadi pelindung umat dalam menghadapi kekuatan besar dunia. Karena itu, banyak kaum muslim meyakini bahwa hanya dengan kembalinya kepemimpinan Islam yang kuat dan mandiri, perjuangan membebaskan Palestina dapat dilakukan secara serius dan menyeluruh, bukan sekadar menjadi isu kemanusiaan tanpa penyelesaian nyata.
Perjuangan membebaskan Palestina tidak boleh dipisahkan dari perjuangan membangun kepemimpinan Islam yang menyatukan umat. Jadi, membebaskan Palestina dari penjajahan hanya bisa dilakukan ketika Islam telah memimpin dunia. Palestina akan sulit bebas dari pendudukan dan penjajahan jika umat Islam tetap tercerai-berai dalam banyak negara dan kepentingan politik masing-masing.
Saat ini negara-negara muslim tidak memiliki satu kepemimpinan bersama untuk melindungi umat. Karena itu, diperlukan kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan kekuatan politik, ekonomi serta militer agar umat bisa menghadapi penjajahan dan kekuatan sekutu. Jadi, pembebasan Palestina tidak diarahkan dengan bantuan kemanusiaan atau diplomasi, tetapi harus menjadi bagian dari perjuangan membangun persatuan dan kepemimpinan umat Islam.
Catatan Penting
Sungguh, perjuangan saat ini harus terfokus pada penyadaran umat bahwa kepemimpinan Islam adalah tuntutan iman yang tak bisa ditawar. Kepemimpinan dalam Islam akan menyatukan dan mengerahkan kekuatan umat Islam dengan satu komando sehingga kewibawaan umat kembali dan umat Islam siap mengambil alih kepemimpinan dunia dan menebar rahmat ke seluruh alam.
Dalam hal ini, hanya kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan umat, yang selama ini tercerai-berai oleh batas negara bangsa, kepentingan politik, dan pengaruh kekuatan asing. Dengan persatuan akidah serta kepemimpinan yang mandiri, potensi besar umat baik sumber daya manusia, ekonomi, maupun militer dapat dimobilisasi untuk melindungi kaum muslim dan menghadapi berbagai bentuk penjajahan.
Kembalinya kewibawaan umat penting bagi kaum muslim agar tidak terus berada dalam posisi lemah dan bergantung pada kekuatan dunia lain. Dengan demikian, akan menghadirkan rahmat, keadilan, dan perlindungan bagi manusia melalui penerapan hukum-hukum Islam dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara. Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar