Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda OPINI Perang AS - Iran: Saat Umat Bersatu, Hegemoni Tumbang
OPINI

Perang AS - Iran: Saat Umat Bersatu, Hegemoni Tumbang

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Mei, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)

TanahRibathMedia.Com—Di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah, Mojtaba Khamenei menyatakan strategi perlawanan Iran berhasil melemahkan dominasi Barat dan memperkuat posisi Iran di panggung global. Menurutnya, kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistik, sehingga Iran kini dipandang sebagai inspirasi bagi pihak-pihak yang menuntut keadilan.

Ia juga menilai kegagalan sanksi serta tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel sebagai bukti pergeseran kekuatan global. Hingga kini, Washington dan Tel Aviv belum memberi respons resmi, sementara para analis memandang pernyataan itu sebagai upaya memperkuat narasi internal Iran di tengah isolasi ekonomi yang masih berlangsung (Media Indonesia, 10-4-2026).

Tentu saja pernyataan itu tidak berlebihan. Buktinya, AS-Israel tidak mudah menaklukkan Iran, padahal Iran hanya satu negeri Muslim. Tehran tidak mudah tumbang, meskipun mendapat serangan besar dan tekanan militer. Hal ini menunjukkan hegemoni global tidak setangguh yang dicitrakan ketika berhadapan dengan kekuatan perlawanan berlandaskan ideologi. Fakta lain, tidak semua negara sekutu AS bersedia terseret konflik terbuka melawan Iran. Ini menandakan dukungan terhadap agenda perang Washington tidak solid. Ironisnya, sebagian penguasa Muslim justru berpihak kepada AS, alih-alih membela sesama negeri Muslim. Bahkan beberapa rezim di kawasan lebih memilih menjadi mitra strategis Washington, baik secara politik maupun logistik.

Sebaliknya, Iran justru mengajukan 10 syarat gencatan senjata kepada AS, di antaranya penghentian agresi, pencabutan sanksi, penarikan pasukan AS dari kawasan, dan pengakuan hak pengayaan uranium. Sikap ini menegaskan Iran tidak menyerah tanpa posisi tawar. Semua ini mencerminkan satu hal: AS dan Israel tidak sekuat citra adidaya yang dibangun. Perlawanan Iran membuktikan dominasi militer tidak selalu berujung kemenangan. Konflik berkepanjangan justru membuka kelemahan kekuatan besar saat menghadapi lawan yang siap bertahan dan melawan.

Dengan demikian, dalam politik tidak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi. Dukungan sekutu bisa berubah sesuai kalkulasi untung rugi politik, ekonomi, dan keamanan masing-masing. Inilah watak hubungan internasional yang bertumpu pada kepentingan. Harusnya disadari, pengkhianatan sebagian penguasa Muslim justru melemahkan kesatuan umat. Ketika penguasa lebih dekat kepada agenda asing dibanding kepentingan umat. Negeri-negeri Muslim kehilangan daya tawar politik. Perpecahan internal inilah celah utama bagi dominasi luar untuk terus berlangsung.

Padahal, potensi persatuan negeri-negeri Muslim dapat menjadi kekuatan global baru. Jika satu negeri saja mampu memberi tekanan strategis, maka bayangkan jika negeri-negeri Muslim bersatu. Dengan sumber daya energi, populasi besar, letak geopolitik penting, dan kekuatan militer yang terkoordinasi, umat Islam dapat melahirkan poros dunia baru yang menggetarkan musuh. Oleh karena itu, langkah mendesak saat ini adalah membangun kesadaran umat bahwa persatuan negeri-negeri Muslim adalah kebutuhan vital. Kelemahan hari ini bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena tercerai-berai dalam sekat nasionalisme. Selama negeri-negeri Muslim masih terkukung  sendiri-sendiri, mereka akan mudah ditekan, diadu domba, dan dieksploitasi kekuatan asing.

Sesungguhnya, kesatuan negeri-negeri Muslim dalam institusi Khilafah Islam akan menjadi kekuatan strategis dunia. Jika umat disatukan dalam satu kepemimpinan, potensi besar berupa jumlah penduduk, kekayaan energi, jalur perdagangan, serta kekuatan militer akan terintegrasi. Dengan begitu, hegemoni negara-negara adidaya kafir dapat dihentikan dan dominasi global yang zalim dapat diakhiri. Selama ini banyak negeri Muslim hidup di bawah intervensi asing, utang ribawi, pangkalan militer asing, dan penguasa boneka. Karena itu, Khilafah hadir untuk menghapus ketergantungan tersebut, memulihkan kedaulatan umat, serta melindungi wilayah-wilayah Muslim yang tertindas dan terjajah.

Selanjutnya, Khilafah Islam mengemban dakwah untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia, sedangkan jihad berfungsi menghilangkan penghalang fisik dakwah. Dengan keduanya, Khilafah bukan ancaman bagi manusia, tetapi rahmat bagi seluruh alam yang membebaskan dunia dari penindasan kapitalisme, imperialisme, dan kerusakan moral. Maka, jalan kebangkitan umat bukan bergantung pada dukungan Barat, tetapi dengan mengembalikan kepemimpinan Islam yang mempersatukan kekuatan umat dalam naungan Khilafah.
Wallahualam bissawab
Via OPINI
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan semakin Memprihatinkan

Tanah Ribath Media- Mei 04, 2026 0
Refleksi Hardiknas: Dunia Pendidikan semakin Memprihatinkan
Oleh: Reni Susanti, S.A.P (Muslimah Riau) TanahRibathMedia.Com—  Dunia pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kasus demi kasus terus terj…

Most Popular

Tragedi Guru: Krisis Marwah dalam Sistem Pendidikan yang ‘Sakit’

Tragedi Guru: Krisis Marwah dalam Sistem Pendidikan yang ‘Sakit’

Mei 01, 2026
Selat Hormuz Tutup Kembali, Geopolitik semakin Memanas

Selat Hormuz Tutup Kembali, Geopolitik semakin Memanas

Mei 01, 2026
Demiliterisasi Gaza, Upaya Barat Untuk Terus Menjajah Palestina

Demiliterisasi Gaza, Upaya Barat Untuk Terus Menjajah Palestina

April 29, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Tragedi Guru: Krisis Marwah dalam Sistem Pendidikan yang ‘Sakit’

Tragedi Guru: Krisis Marwah dalam Sistem Pendidikan yang ‘Sakit’

Mei 01, 2026
Selat Hormuz Tutup Kembali, Geopolitik semakin Memanas

Selat Hormuz Tutup Kembali, Geopolitik semakin Memanas

Mei 01, 2026
Demiliterisasi Gaza, Upaya Barat Untuk Terus Menjajah Palestina

Demiliterisasi Gaza, Upaya Barat Untuk Terus Menjajah Palestina

April 29, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us