OPINI
Tragedi Lahat dan Kebutuhan Akidah sebagai Asas Kehidupan
Oleh: Vera Ulva Theana, S.E., CBMT.
(Pemerhati Ibu dan Anak)
TanahRibathMedia.Com—Di tengah riuhnya kehidupan modern yang kian cepat dan tak jarang melalaikan akidah, setiap harinya kita disuguhkan potret-potret kelam yang menyentak nurani, kecanduan judi online (judol) yang perlahan mengikat banyak jiwa dalam lingkaran harapan palsu, serta tragedi pilu di Lahat ketika seorang anak diduga merenggut nyawa ibu kandungnya sendiri. Dua peristiwa ini meski berdiri dalam bentuk yang berbeda seakan bertemu pada satu ruang yang sama ruang hampa yang tumbuh di balik gemerlap kemajuan zaman.
Di sana manusia tidak lagi sekadar kehilangan arah, tetapi juga kehilangan rasa, kehilangan kemampuan untuk menimbang, merasakan, dan menyadari betapa berharganya kehidupan itu sendiri. Berita-berita semacam ini tidak lagi hanya menjadi konsumsi sesaat, tetapi cermin yang memantulkan pertanyaan besar tentang kondisi batin masyarakat hari ini.
Fenomena kecanduan judi online hadir bukan sekadar sebagai bentuk pelanggaran moral, tetapi jerat halus yang merayap pelan ke dalam ruang-ruang kesadaran manusia. Ia datang tanpa suara, tetapi perlahan menguasai pikiran, mengaburkan logika, dan menumpulkan kepekaan terhadap realitas. Di balik layar-layar kecil yang tampak biasa, tersimpan harapan-harapan semu yang terus memanggil, seolah menjanjikan jalan keluar dari kesulitan hidup padahal justru menyeret lebih dalam ke jurang kehilangan.
Banyak jiwa yang awalnya hanya mencoba, tetapi akhirnya tenggelam, bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara emosional dan spiritual. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi berdiri sebagai subjek yang bebas menentukan arah hidupnya, melainkan perlahan menjadi objek yang dikendalikan oleh dorongan, kebiasaan, dan ilusi kemenangan yang tak pernah benar-benar tiba.
Kegelapan Dunia Judol
Aksi keji di luar nalar mengguncang Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Seorang pemuda bernama Ahmad Fahrozi (23) tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, SA (63), hanya karena perkara uang judi online (judol). Tragedi ini berakar dari ketergantungan pelaku pada judi online jenis slot. Berdasarkan penyelidikan polisi, emosi Fahrozi memuncak saat dirinya meminta sejumlah uang kepada ibunya untuk modal bermain judi, tetapi permintaan itu ditolak oleh korban (Gelora.co, 8-4-2026).
Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menyerahkan tersangka dan barang bukti kasus judi online (judol) senilai Rp55 miliar kepada Kejaksaan. Bareskrim menegaskan penyidikan perkara judol itu telah dilakukan secara profesional. Dalam penyerahan itu, penyidik Polri turut menyerahkan berbagai barang bukti, termasuk uang tunai yang diduga berasal dari aktivitas judol dengan nilai mencapai sekitar Rp55 miliar (News.detik.com, 1/-4/2026).
Fenomena Kecanduan Judi Online
Dunia yang kian merayap dalam sunyi kehidupan modern, serta tragedi pilu yang mengguncang nurani ketika seorang anak diduga menghilangkan nyawa ibu kandung sendiri, sesungguhnya bukan sekadar rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah potret batin dari sebuah zaman yang perlahan kehilangan pijakan makna, ketika sekularisme membingkai cara manusia memandang hidup sebatas ruang material yang terukur dan segera.
Dalam pandangan ini, hidup tidak lagi dipahami sebagai amanah yang sarat nilai, melainkan sebagai arena perlombaan tanpa henti untuk meraih sebanyak mungkin kenikmatan duniawi. Maka yang tersisa sering kali hanyalah jiwa-jiwa yang gelisah, yang mengejar sesuatu tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka cari. Dalam lanskap pemikiran yang demikian, orientasi hidup manusia perlahan bergeser menuju pengejaran kepuasan materi yang sebesar-besarnya.
Keberhasilan tidak lagi diukur oleh ketenangan hati atau keluhuran budi, tetapi oleh angka-angka, capaian, dan keuntungan yang dapat disentuh serta dihitung. Standar “manfaat” pun mengalami penyempitan makna, dari yang semestinya mencakup kebijaksanaan, kebaikan, dan keberkahan, menjadi sekadar apa yang dianggap berguna secara praktis dan ekonomis.
Dalam ruang seperti ini, bahkan hal-hal yang sejatinya merusak akal dan jiwa dapat tampak wajar, selama ia menjanjikan keuntungan sesaat atau jalan pintas menuju kepuasan. Pelan namun pasti, hati menjadi tumpul, dan akal kehilangan kepekaan terhadap batas-batas moral yang dahulu begitu dijaga.
Akidah Tombak Utama Kehidupan
Ketika cara pandang materialistik ini terus mengakar tanpa penyeimbang nilai spiritual yang kokoh, manusia perlahan berjalan tanpa kompas batin yang menuntun arah pulang. Ia hidup di tengah gemerlap dunia, tetapi sering kali kehilangan cahaya dari dalam dirinya sendiri. Di titik inilah berbagai bentuk penyimpangan mulai menemukan ruangnya bukan semata karena keburukan individu, tetapi kosongnya fondasi nilai yang seharusnya menjaga jiwa tetap utuh.
Dalam pandangan Islam, solusi atas kerapuhan jiwa dan kekacauan perilaku yang tampak di tengah masyarakat modern bukanlah sekadar perbaikan di permukaan, melainkan pengembalian manusia kepada akar terdalam eksistensinya akidah yang lurus kepada Allah. Akidah ini bukan hanya rangkaian keyakinan yang diucapkan, tetapi cahaya yang menuntun hati agar selalu merasa terhubung dengan Sang Pencipta dalam setiap detik kehidupan.
Ia menumbuhkan kesadaran yang lembut tetapi dalam, bahwa manusia tidak dibiarkan berjalan sendiri di dunia ini, dan setiap langkahnya akan kembali dipertanggungjawabkan. Dari kesadaran inilah hidup menjadi lebih terarah, karena orientasi manusia tidak lagi terpaku pada gemerlap dunia yang sementara, tetapi pada ridha Allah yang abadi dan menenangkan jiwa. Wallahualam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar