OPINI
Tragedi Guru: Krisis Marwah dalam Sistem Pendidikan yang ‘Sakit’
Oleh: Putri Ramadhini, S.I.Kom
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Ada yang patah pada dunia pendidikan kita hari ini. Ilmu tidak lagi dipandang sebagai cahaya yang harus dijemput dengan kerendahan hati, melainkan hanya menjadi informasi digital yang bisa dengan mudah diakses dengan cepat melalui internet. Murid pun merasa tidak lagi butuh “berkhidmat” pada guru. Di bawah naungan sistem yang mekanistik dan kering akan nilai-nilai spiritual, guru dipaksa menjadi sekadar mesin pengajar. Ketika takzim telah menguap dari dada para murid, kita sebenarnya sedang menyaksikan runtuhnya fondasi masa depan akibat diterapkannya standar-standar hidup yang serba materialistik.
Aksi tak terpuji dilakukan sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta dengan ramai-ramai mengacungkan jari tengah ke seorang guru. Video yang kini beredar luas di media sosial itu sontak viral dan menjadi perhatian berbagai kalangan (https://www.metrotvnews.com/read/NnjCWX1q-viral-video-siswa-sman-1-purwakarta-ramai-ramai-acungkan-jari-tengah-ke-guru). Guru PKN SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, mengaku baru mengetahui adanya video siswa mengacungkan jari tengah usai viral di media sosial. Syamsiah mengaku memaafkan siswanya meski mendapat perlakuan tidak pantas dari muridnya (https://news.detik.com/berita/d-8452639/guru-di-purwakarta-maafkan-siswa-sma-yang-viral-acungkan-jari-tengah).
Dulu, langkah kaki seorang guru di koridor sekolah sudah cukup untuk membungkam kebisingan kelas dengan rasa hormat. Kini, ruang kelas sering kali berubah menjadi medan laga di mana guru harus berhadapan dengan ancaman laporan polisi hingga perundungan digital. Ruang kelas yang dulunya sakral kini berubah menjadi area rawan hukum. Teguran guru yang bermaksud mendidik tak jarang berujung pada jeruji besi, sementara perilaku menyimpang murid berlindung di balik dalih hak asasi yang kebablasan.
Fenomena matinya wibawa guru ini bukanlah sekadar masalah kesantunan individu, melainkan sinyal merah dari kegagalan sistem pendidikan yang telah kehilangan ruhnya. Ketimpangan ini adalah produk nyata dari sistem sekuler-kapitalistik yang mendewakan kebebasan individu tanpa batas moral, hingga akhirnya marwah guru kian memudar dalam membentuk karakter generasi.
Seringkali kita hanya meratapi buruknya moral pelajar hari ini tanpa mau menoleh pada akar yang menopangnya. Matinya wibawa guru hanyalah buah pahit dari pohon pendidikan yang ditanam di atas tanah sekularisme yang gersang. Selama sistem pendidikan kita masih bernapas dalam paru-paru kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan materi, maka selama itu pula sosok pendidik akan terus diposisikan di bawah kaki kepentingan, tanpa marwah dan tanpa perlindungan.
Penyelesaian atas kemelut dunia pendidikan kita tidak bisa lagi hanya bersifat tambal sulam. Kita membutuhkan revolusi paradigma melalui kurikulum berbasis akidah Islam yang bukan sekadar mencetak siswa menjadi tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah (kepribadian islam). kita tidak hanya sedang memperbaiki sekolah, tetapi sedang membangun fondasi peradaban baru. Kepribadian Islam adalah perpaduan antara cara berpikir dan cara bersikap yang terbentuk ketika Pola Pikir (Aqliyyah) dan Pola Jiwa (Nafsiyyah) seseorang sepenuhnya berlandaskan pada akidah Islam, menjadikan syariat sebagai standar hidup, dan hatinya hanya terikat pada ridho Allah dalam melakukan setiap tindakan.
Negara juga harus berperan dalam mengatur lingkungan sosial dan media sebagai filter terhadap budaya dan informasi. Kontrol media dapat dilakukan dengan menyiarkan konten yang mendukung penguatan moral dan pemahaman islam, serta mencegah konten yang merusak perilaku seperti kekerasan dan pelecehan. Penegakan hukum dan sanksi (uqubat) dalam islam yang ditegakkan oleh negara dapat berfungsi sebagai pencegah (zajir) dan penebus dosa (jawabir) akan memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syari’at. Keberadaan hukum yang tegas memastikan bahwa kepribadian yang sudah terbentuk di bangku sekolah tidak rusak oleh godaan kriminalitas atau lingkungan yang menormalisasi kemunkaran.
Krisis marwah guru yang kita saksikan hari ini hanyalah puncak gunung es dari sistem pendidikan yang rusak. Islam menawarkan solusi yang melampaui sekadar perbaikan teknis semata. Dengan Islam, pendidikan akan kembali ke jalurnya, yaitu melahirkan generasi yang tak hanya kompeten menaklukkan dunia, tapi juga memiliki integritas moral yang berakar pada akidah yang jernih. Menjadikan keimanan sebagai dasar dari seluruh bangunan ilmu, pendidikan akan memperkokoh ketaatan kepada Allah, sehingga adab tumbuh secara alami sebagai buah dari keimanan yang kuat, yang secara otomatis akan mengangkat kembali derajat guru ke posisi mulia yang semestinya.
Via
OPINI
Posting Komentar