OPINI
Momentum Kartini, dari Gelapnya Kapitalisme Menuju Cahaya Islam Gemilang
Oleh: Lisa Herlina
(Kontributor Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Peringatan hari Kartini ke 147 di Medan, perempuan dari berbagai latar tampil menginspirasi di gedung Warenhius, jalan Hindu, Senin (27-4-2026). Tamu yang hadir mengenakan seragam kebaya dari berbagai elemen, mulai dari organisasi wanita, PKK, jajaran perangkat daerah hingga kaukus perempuan Parlemen DPRD Medan dan istri Konsul negara sahabat serta drivel ojol perempuan (Portal.medan.go.id, 27-4-2026).
Rico Waas selaku Walikota Medan pada kesempatan itu menekankan pentingnya peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Dirinya mengapresiasi semakin banyaknya perempuan yang menduduki jabatan strategis, baik di legislatif, pemerintahan, maupun organisasi.
Selayang Pandang Sosok Kartini
RA. Kartini adalah pegiat wanita yang mengusung kesetaraan gender. Dalam hal ini yang dimaksud kesetaraan gender versi Kartini adalah wanita yang mempunyai hak untuk belajar, hak untuk hidup, hak untuk berkarya sama seperti lelaki. Ia berasal dari keluarga bangsawan sehingga bisa sekolah, namun hanya sampai usia tertentu saja karena adat pingitan. Meski begitu, Kartini tetap belajar dengan membaca buku dan menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Ia memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan kebebasan. Pemikirannya dibukukan dalam judul "Dari Gelap Terbitlah Terang". Kartini meninggal di usia muda yaitu 25 tahun, setelah 4 hari melahirkan anak pertamanya. Namun dalam perjalanannya di era sekarang, emansipasi diartikan berbeda dengan tujuan mulia Kartini sebenarnya.
Wanita dalam Demokrasi
Perjuangan Kartini di masa kini diidentikkan dengan emansipasi wanita dengan dalih perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Prinsip kebebasan yang di pertengahan jalan menimbulkan kebingungan. Sebagai contoh supir bus dari laki-laki menjadi perempuan, atau hak kebebasan dalam berekspresi, berpakaian sama dengan laki-laki, dan bekerja dari waktu pagi hingga menjelang malam. Tentu saja ini bertentangan dengan apa yang diperjuangkan Kartini yang ingin mendapatkan hak menjadi memiliki standar hak yang sama dengan laki-laki.
Dalam demokrasi kapitalisme, wanita dibebaskan meninggalkan tugas utamanya sebagai pendidik generasi menjadi pejuang nafkah lalu menitipkan anak ke baby sitter atau tempat penitipan seharian tanpa jangkauan penuh, tanpa pelukan kasih sayang orang tua. Pendekatan agama akhirnya tidak diajarkan. Inilah yang dikehendaki oleh kapitalisme yaitu lahirnya generasi yang jauh dari pemahaman Islam. Saat generasi jauh dari pemahaman Islam justru sangat menguntungkan negara-negara kapitalisme, karena akan terus mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim, tanpa ada perlawanan karena generasinya tidak faham syariat. Inilah alat Barat untuk tetap bisa menjajah negeri Islam. Sekalipun konsep kesetaraan gender dan emansipasi wanita nampak indah, namun tidak ada kebaikan sedikitpun, karena lahir dari akal manusia semata. Di mana pahala dan dosa juga ditentukan dari sana. Padahal sifat manusia adalah lemah, terbatas, dan serba kurang.
Belum lagi target planet 50-50 yang mendorong Indonesia menetapkan larangan menikah dini, kuota imbang di legeslatif antara laki-laki dan perempuan. Tentu saja aturan itu semua representasi dari sistem liberal, melabrak hukum syariat. Di bidang politik, Barat senantiasa membuat narasi bahwa makin banyak anggota parlemen atau penguasa perempuan, makin banyak pula dihasilkan regulasi yang memihak perempuan yang nantinya dapat menjadi solusi berbagai persoalan mereka. Maka ditetapkanlah kuota 30% perempuan dalam keanggotaan parlemen sebagai syarat verifikasi partai politik untuk tujuan tersebut.
Perempuan juga diajak untuk maju menjadi kepala daerah atau penguasa bahkan kepala negara demi terwujudnya kesetaraan politik, serta melahirkan regulasi dan anggaran responsif gender. Bahkan di Indonesia sendiri dibangun Desa Ramah Perempuan dan Perlindungan Anak (DRPPA) demi mewujudkan kepemimpinan perempuan sejak tingkat desa. Sejatinya penerapan kapitalisme menciptakan kemiskinan global, beragam ketimpangan serta ketidakadilan. Kemiskinan inilah salah satu sumber yang mendorong perempuan keluar rumah dan meniti karir untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Laki-laki dan Perempuan dalam Timbangan Islam
Islam memandang laki-laki dan perempuan secara manusiawi adalah sama karena sebagai makhluk Allah yang sama-sama mempunyai akal, perasaan, ingin dihormati dan lainnya. Syeikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Nidzhom al-Ijtimaiy fiil islam menjelaskan bahwa satu-satunya sistem yang mampu menjamin ketentraman hidup dan mampu mengatur hubungan laki-laki dan perempuan dengan pengaturan alamiyah hanyalah sistem pergaulan pria dan wanita dalam Islam.
Sistem ini sangat membolehkan manusia untuk menikmati kehidupan, meraih prestasi, kedudukan, tapi dengan mengikuti hukum yang telah ditetapkan. Islam mencermati apa yang menjadi hak dan kewajiban yang berlaku sama bagi perempuan dan laki-laki semisal salat, puasa, zakat, haji. Terdapat pula hak dan kewajiban yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, misalnya batasan aurat, peran dalam keluarga, hukum bekerja, kewajiban nafkah, kepemimpinan, pemerintahan, persaksian, imam sholat dan lainnya.
Perbedaan hukum ini tidak lantas membuat wanita tidak mulia. Sebab dalam Islam kemuliaan manusia terletak pada ketaqwaannya pada Allah Ta'ala. Sebagaimana firmanNya, " Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (TQS. Al Hujurat:13)
Demikian juga peran perempuan pada sektor publik. Peran ini sejatinya sama dengan hak yang Allah berikan kepada laki-laki. Berkiprahnya laki-laki dan perempuan di sektor publik secara otomatis membuka peluang bagi keduanya untuk melakukan aktivitas politik. Karena dalam Islam politik adalah mengatur urusan umat. Aktivitas politik tidak hanya berlaku bagi laki-laki sebab perempuan juga adalah bagian yang tak terpisahkan dari umat. Sebagaimana firmanNya, "Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat, yang menyeru kebaikan (Islam), memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran..."(TQS Ali Imran:104).
Saat laki-laki dan perempuan mampu menjalankan perannya sesuai tuntunan Islam, sesungguhnya kemuliaan dan kebahagiaan akan dapat diraih. Tatkala perempuan bisa menjalankan peran utamanya sebagai ummun wa robbatul bayt secara maksimal (ibu pengurus urusan rumah tangga) secara maksimal dan melaksanakan kewajiban lainnya, kemuliaan dapat ia raih.
Dengan demikian arah pemberdayaan perempuan perspektif Islam adalah upaya mencerdaskan perempuan sehingga mampu berperan menyempurnakan seluruh kewajiban yang datang dari Allah Ta'ala baik sebagai ummun wa robbatul bayt maupun bagian dari masyarakat. Ke sanalah aktivitas pemberdayaan perempuan diarahkan. Islam juga menetapkan negara sebagai pengatur urusan umat yang wajib memenuhi kebutuhan umat, laki-laki maupun perempuan. Islam memiliki mekanisme sempurna menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat sehingga peran alami perempuan sebagai istri dan ibu generasi dapat tertunaikan dengan baik.
Meski peran ini dianggap tidak mendatangkan nilai ekonomi, Islam menganggap peran perempuan ini sangat mulia dan strategis karena berpengaruh terhadap pembentukan generasi dan terwujudnya peradaban yang mulia. Bekerja bagi perempuan hukumnya mubah (boleh) sebagai sebuah pilihan bukan keharusan bertahan hidup yang menyebabkan tugas utama terabaikan. Di sektor publik perempuan hadir membaktikan ilmunya sebagai subjek peradaban, guru, dokter ilmuwan yang berkontribusi untuk kemaslahatan umat tanpa mengabaikan tugas utamanya bukan sebagai objek eksploitasi ekonomi sebagaimana dalam sistem hari ini, sistem demokrasi kapitalisme
Tradisi amar makruf nahi mungkar harus terus terjaga baik di keluarga maupun di tengah masyarakat. Karena bukan hanya kesejahteraan kolektif yang ingin didapatkan namun ketakwaan secara kolektif juga sangat dibutuhkan demi menumbuh suburkan cahaya kehidupan seterang cahaya Islam.
Wallahu a'lam bisshowab.
Via
OPINI
Posting Komentar