Pojok Redaktur
KRL, Day Care, dan Nuansa Kapitalisasi Perempuan
TanahRibathMedia.Com—Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Sungguh sangat menyayat hati. Tragedi KRL yang terjadi beberapa waktu lalu ternyata 16 korbannya adalah perempuan. Kemudian kasus Day Care Little Aresha, di Yogyakarta, ada 53 lebih bayi dan balita teraniaya dengan diikat tangan dan kakinya.
Jika kita renungkan sejenak baik korban kecelakaan KRL maupun kasus day care ini sepertinya erat kaitannya dengan perempuan. Mengapa demikian? Disadari atau tidak, mereka yang kebetulan menjadi korban adalah para pekerja perempuan. Meskipun hal itu tidak bisa digeneralisir. Karena ditemukan juga perempuan lansia di sana. Namun, ada hal menarik yang perlu diulas, yakni perempuan harus pergi keluar rumah, meninggalkan suami, anak dan tanggung jawabnya yang lain.
Demikian halnya kasus day care. Bayi-bayi itu tidak hanya diikat dengan menggunakan bedong atau tali. Namun, mereka juga terikat oleh sebuah sistem. Sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas yakni sekuler kapitalisme. Sebuah aturan yang memisahkan agama dari aktivitas kehidupan. Perbuatan yang seharusnya terikat oleh aturan-aturan kini terpisah atau berdiri sendiri. Tidak berkaitan satu dengan yang lain. Agama hanya dipakai dalam ranah pribadi.
Para orang tua, dalam hal ini adalah ibu, yang seharusnya menjaga, melindungi, dan mendidik anak-anaknya (day care terbaik) tak tergantikan oleh apa pun dan siapa pun, kini harus meninggalkan peran mulia itu untuk terjun mengais pundi-pundi rupiah.
Sungguh, bukan sepenuhnya salah perempuan. Mereka dipaksa oleh keadaan. Mereka terjebak oleh sebuah sistem (aturan) yang sama sekali tidak ramah terhadap nasib perempuan. Mungkin di antara mereka ada yang single parent atau karena tuntutan ekonomi (gaji suami tidak mencukupi/ suami korban PHK dll). Sehingga tidak ada pilihan kecuali harus berjuang dengan segenap kemampuan agar tetap bisa bertahan. Di lain sisi, alih-alih mengurusi rakyat, kebijakan penguasa hari ini justru semakin menyengsarakan rakyat dan terkesan ugal-ugalan, represif dan anti kritik.
Di sini lah urgensi dakwah, mengedukasi umat agar mereka menyadari bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Memiliki seperangkat aturan kehidupan. Termasuk melindungi dan menjaga kehormatan perempuan.
Tidak seperti kapitalisme yang menjadikan perempuan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan serta mengeksploitasinya atas nama pemberdayaan dan kesetaraan gender.
Wallahu a'lam.[] Nur Salamah
Via
Pojok Redaktur
Posting Komentar