OPINI
Asap Dapur Menipis: Saat BBM dan Plastik Menguji Keadilan Ibu
Oleh: Eka Sulistya
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Dapur ibu selalu menjadi tempat paling jujur untuk membaca keadaan negeri. Ia tidak pandai berdebat, tidak lantang bersuara, tetapi setiap perubahan harga terasa nyata di sana. Ketika harga BBM naik dan plastik ikut melambung, dapur ibu adalah yang pertama merasakan sesaknya. Bukan sekadar soal belanja yang bertambah mahal, melainkan tentang bagaimana menjaga agar piring tetap terisi, tanpa mengorbankan gizi dan keberkahan.
Kenaikan BBM membawa dampak berantai. Ongkos distribusi melonjak, harga bahan pokok ikut terkerek, dan ibu rumah tangga harus kembali menyusun strategi: mengurangi, mengganti, bahkan terkadang menahan keinginan. Di sisi lain, plastik yang sering dipandang remeh justru menjadi penopang aktivitas dapur modern. Dari membungkus lauk, menyimpan bahan makanan, hingga menunjang usaha kecil rumahan. Ketika harga plastik naik, bukan hanya pengeluaran yang bertambah, tetapi juga ruang gerak ibu semakin sempit.
Dalam Islam, dapur bukan sekadar ruang memasak. Ia adalah bagian dari amanah besar menjaga kehidupan. Setiap butir nasi yang dihidangkan bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari ibadah. Ketika dapur mulai terhimpit oleh mahalnya kebutuhan, sejatinya yang sedang diuji bukan hanya ekonomi, tetapi juga keadilan dalam pengelolaan kehidupan masyarakat.
Islam menempatkan negara sebagai pelindung dan pengurus urusan rakyat. Pemimpin bukan sekadar pembuat kebijakan, tetapi penanggung jawab atas kesejahteraan umat. Dalam prinsip ini, kebutuhan dasar seperti pangan dan energi seharusnya mudah diakses dan terjangkau. Ketika harga BBM terus berfluktuasi mengikuti mekanisme pasar, sementara rakyat tidak memiliki daya tawar, maka ketimpangan itu menjadi nyata. Ibu-ibu di dapurlah yang harus menanggung dampaknya setiap hari.
Energi dalam Islam bukan sekadar komoditas bisnis, melainkan bagian dari kepemilikan umum yang seharusnya dikelola untuk kemaslahatan bersama. BBM, sebagai sumber vital, semestinya tidak menjadi beban yang terus menekan rakyat. Begitu pula dengan industri turunannya, seperti plastik, yang sangat bergantung pada bahan baku energi. Ketika semua diserahkan pada logika keuntungan, maka yang terjadi adalah tekanan berlapis pada kehidupan masyarakat kecil.
Namun, Islam tidak hanya berbicara tentang kritik, tetapi juga solusi dan sikap. Di tengah kondisi yang menekan, Islam mengajarkan kesabaran yang aktif—bukan pasrah tanpa usaha, tetapi tetap bergerak dengan penuh tawakal. Ibu-ibu tetap memasak dengan kreativitas, mengolah bahan seadanya menjadi hidangan bermakna, bahkan banyak yang berjuang melalui usaha kecil untuk menopang ekonomi keluarga.
Di sinilah nilai solidaritas Islam menjadi penting. Ketika dapur satu mulai redup, dapur lain seharusnya ikut peduli. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi menjadi jaring pengaman sosial. Islam membangun masyarakat yang tidak membiarkan beban ditanggung sendirian. Dalam kebersamaan itu, tekanan ekonomi bisa diringankan, dan harapan tetap dijaga.
Lebih jauh, kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Bahwa ketahanan umat tidak boleh terus bergantung pada sistem yang mudah mengguncang kehidupan dasar. Dapur ibu adalah fondasi peradaban. Jika ia kuat, maka generasi akan tumbuh dengan baik. Namun jika ia terus tertekan, maka bukan tidak mungkin akan lahir generasi yang tumbuh dalam kekurangan dan ketidakstabilan.
Maka persoalan naiknya harga BBM dan plastik tidak bisa dianggap remeh. Ia bukan sekadar isu ekonomi, tetapi menyentuh sisi paling mendasar dari kehidupan manusia. Islam mengajarkan bahwa keadilan bukan hanya tentang hukum, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu bisa hidup layak tanpa dihimpit kebutuhan yang seharusnya bisa dijamin.
Akhirnya, dapur ibu adalah cermin keadilan sebuah negeri. Jika ia masih mampu mengepul dengan tenang, maka di sana ada keberpihakan. Namun jika asapnya mulai menipis, maka itu tanda bahwa ada yang perlu dibenahi. Islam hadir bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi sebagai panduan kehidupan yang memastikan setiap dapur tetap menyala dengan cukup, dengan tenang, dan dengan penuh keberkahan.
Via
OPINI
Posting Komentar