OPINI
Judi Online: Bukan Sekadar Candu, Melainkan Buah Pahit Sistem Sekuler
Oleh: Dewi Royani
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Sebuah peristiwa kelam merobek rasa kemanusiaan di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Sadis, brutal, dan sulit diterima nalar. Seorang pemuda berinisial AF (23) mengakhiri hidup ibu kandungnya sendiri, SA (63). Motifnya terdengar sepele, permintaan uang untuk judi online yang ditolak. Namun akibatnya mengerikan. Korban tidak sekadar dibunuh; jasadnya dibakar, dimutilasi, lalu dikubur dalam tiga karung plastik di sebuah kebun (metrotvnews.com, 9-4-2026).
Peristiwa ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, rentetan kasus serupa terjadi mulai dari pembunuhan, penganiayaan, pencurian, bahkan bunuh diri—semuanya berkelindan dengan satu benang merah yakni kecanduan judi online. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi sekadar "mengapa hal ini terjadi”, melainkan kondisi sistemik semacam apakah yang telah menciptakan kondisi kehidupan sedemikian rupa sehingga kekerasan semacam ini bisa terjadi berulang?
Akar masalah: Kejahatan Sistem Sekularisme
Tragedi seperti ini tidak muncul dengan sendirinya, ia tumbuh, dipupuk, dibiarkan. Terdapat persoalan yang saling bertaut, membentuk kondisi yang memungkinkan kekerasan semacam ini terjadi. Faktor pemicunya antara lain:
Pertama, sekularisme mengubah orientasi hidup. Beberapa dekade ini, kehidupan masyarakat tidak lagi dikendalikan nilai-nilai agama, tapi nilai-nilai sekularisme. Hal ini disebabkan oleh sistem kapitalisme yang diterapkan dalam kehidupan hari ini berlandaskan pada sekularisme. Sekularisme adalah paham memisahkan agama dari kehidupan publik. Sekularisme menyebabkan mayoritas masyarakat tidak memiliki pola pikir Islam. Sekularisme disadari atau tidak, telah mengubah orientasi hidup manusia. Nilai-nilai agama tersisih perlahan, digantikan oleh dorongan mengejar materi tanpa batas. Masyarakat terdidik dengan standar hidup hedonisme, materialism, dan liberalisme. Tolok ukur kebahagian jadi tunggal yaitu untung atau tidak. Akibatnya dalam menjalani kehidupan, moralitas kehilangan pijakan. Agama menjadi hiasan, bukan penuntun. Maka ketika judi online menawarkan janji kekayaan instan meski semu tapi banyak yang tergoda. Terutama mereka yang kosong pemahaman agamanya.
Kedua, tekanan ekonomi. Sistem kapitalisme telah menciptakan ketimpangan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Kekayaan terakumulasi ditangan para pemilik modal, sementara pekerja hanya mendapatkan upah yang sering kali tidak setara dengan nilai tambah yang dihasilkan. Sumber daya alam dikuasai korporasi. Akibatnya, kebutuhan dasar masyarakat tidak selalu mudah untuk dipenuhi. Masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Dalam kondisi terdesak, sebagian orang memilih jalan pintas. Judi online dianggap sebagai solusi cepat dan mudah.
Ketiga, absennya negara sebagai pelindung rakyat. Dalam paradigma sekular-kapitalis, peran negara tidak lagi berfungsi sebagai pengayom dan pelindung ramyat. Negara berubah menjadi fasilitator pasar yang memprioritaskan kepentingan ekonomi di atas kepentingan rakyat. Akibatnya, judi online dibiarkan berkembang, bahkan seringkali mendapat ruang gerak yang legal. Upaya penanganan sering kali bersifat tambal-sulam, parsial dan reaktif. Ironisnya, aktivitas ini kadang masih dipandang sebagai bagian dari perputaran ekonomi digital.
Keempat, lemahnya daya cegah hukum. Secara normatif, ancaman hukuman memang berat. Namun realitas berbicara lain. Kasus serupa terus berulang. Ini menandakan bahwa hukum, dalam praktiknya, belum cukup memberi efek jera. Sistem hukum yang ada gagal berfungsi baik sebagai pencegah maupun sebagai alat pemulihan tatanan sosial yang rusak.
Solusi Tuntas Islam
Persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan parsial. Bukan sekadar menambah aturan atau memperketat pengawasan. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik, menyentuh akar masalahnya, bukan hanya gejala. Islam sebagai agama yang sempurna memiliki kerangka solusi yang bersifat mendasar dan komprehensif, di antaranya:
Pertama, akidah sebagai fondasi. Dalam Islam, keimanan bukan sekadar urusan ritual. Ia adalah pusat kendali bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya. Halal dan haram menjadi standar, bukan untung-rugi secara materi. Bagi seorang muslim, ketika iman tertanam kuat, ia akan memiliki benteng diri yang kokoh. Godaan seperti judi tidak lagi menarik, karena ada kesadaran dalam diri yakni pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Kedua, sistem ekonomi yang berkeadilan dan berkah. Islam melalui sistem ekonomi Islam menawarkan mekanisme yang memastikan kebutuhan dasar setiap individu terpenuhi. Negara mengelola sumber daya alam strategis untuk kemaslahatan bersama, bukan segelintir elite. Sistem ekonomi Islam menghilangkan eksploitasi kekayaan milik umum dan riba yang seringkali menjadi akar kemiskinan. Dalam kondisi sejahtera yang lebih merata, dorongan mencari jalan pintas seperti judi akan melemah dengan sendirinya.
Ketiga, peran negara yang utuh. Negara dalam sistem Islam bukan sekadar regulator, tetapi pengurus dan pelindung. Rasulullah saw. bersabda:
"Imam (Khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).
Dalam kerangka ini, judi online tidak hanya dibatasi melainkan diberantas secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Platformnya, aliran dananya, hingga promosinya.
Keempat, sistem sanksi yang efektif. Dalam Islam, hukuman memiliki dua fungsi sekaligus: mencegah dan menebus. Ketika diterapkan secara konsisten dan adil, ia tidak hanya sebagai penebus dosa (jawabir) bagi pelaku tetapi juga membuat efek jera (jawazir) bagi masyarakat. Sistem uqubat (sanksi) Islam menetapkan pelaku judi dikenai hukuman ta’zir oleh qadhi (hakim). Bentuk hukumannya bisa disesuaikan untuk memberi efek jera bisa berupa denda finansial, pengucilan, cambuk sampai hukuman mati.
Demikianlah solusi yang ditawarkan Islam. Islam hadir bukan sekadar solusi tambal sulam, tapi sebagai sistem kehidupan yang utuh. Sistem hidup yang menciptakan keamanan, kenyamanan, keadilan, dan kesejahteraan. Tidak ada sistem mulia kecuali buatan pencipta.
Via
OPINI
Posting Komentar