OPINI
Kekerasan terhadap Anak di Daycare, Menagih Kembalinya Peran Ibu
Oleh: Rusna Ummu Nahla
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Hati ibu mana yang tidak hancur menyaksikan buah hatinya disakiti. Bayi dan balita yang polos justru mengalami perlakuan kekerasan dan tidak manusiawi di daycare atau tempat penitipan anak Little Aresha, Desa Sorosutan Umbul Harjo, DIY. Dari sekitar 100 anak yang terdaftar, sebanyak 53 anak terkonfirmasi mengalami kekerasan. Bentuknya beragam, mulai dari kulit melepuh akibat cubitan hingga luka di beberapa bagian tubuh.
Kasat Reskrim Polresta mengungkapkan ada 13 tersangka dalam kasus ini, terdiri dari 1 kepala yayasan, 1 kepala sekolah, dan 11 pengasuh. Dampak psikologis dari perlakuan kasar, baik verbal maupun fisik, tentu menjadi perhatian serius. Apalagi mayoritas korban masih sangat kecil, berusia antara 3 bulan hingga 3 tahun. Pemerintah setempat berencana mengambil langkah pencegahan, seperti memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya memilih layanan pengasuhan anak yang aman dan terverifikasi (MetroTVNews.com, 30-4-2026).
Fenomena ini tentu sangat mengejutkan dan membuat geram berbagai pihak terlebih kepada ibu korban. Tentunya persoalan ini bukanlah sekadar masalah yang hanya dipandang sebagai tindak kriminal individu semata. Namun Lebih dari itu, ini adalah salah satu bukti bahwa ada kerusakan yang bersifat sistemik.
Tidak bisa dimungkiri, dalam sistem kapitalisme saat ini keberadaan daycare menjadi sebuah kebutuhan bagi banyak keluarga, terutama ketika para ibu harus bekerja di luar rumah. Kondisi ini tentu tidak lahir begitu saja, tetapi hal ini berkaitan erat dengan tekanan dalam sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan hari ini yang memunculkan kemiskinan struktural. Akibatnya, seluruh anggota keluarga, termasuk perempuan, terdorong untuk ikut mencari nafkah.
Sistem Kapitalisme adalah sebuah sistem yang berdiri di atas paham sekularisme, yakni paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dari paham inilah muncul cara pandang baru tentang kesuksesan dan peran perempuan. Bahwa perempuan yang sukses adalah perempuan yang tinggi capaian finansialnya sehingga perempuan didorong untuk bebas dan setara dengan laki-laki di berbagai bidang, termasuk dalam dunia kerja.Perempuan yang memilih fokus mengurus rumah dan anak sering dianggap tidak produktif, bahkan kurang dihargai. Kondisi ini membuat banyak ibu merasa terdorong bahkan terpaksauntuk meninggalkan peran pengasuhan, baik karena tekanan ekonomi maupun tuntutan sosial. Perempuan akhirnya mereka memikul dua peran sekaligus yakni bekerja di luar rumah dan tetap bertanggung jawab atas urusan dalam rumah tangganya. Lebih jauh, sekulerisme juga menjauhkan nilai moral dari kehidupan publik.
Selain itu, dalam logika kapitalisme, hampir segala hal bisa dijadikan komoditas, termasuk layanan pengasuhan anak. Ketika terlihat seorang ibu berduyun-duyun bekerja ke luar rumah, di situlah mereka menciptakan pasar dan kebutuhan daycare pun akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi ladang bisnis. Sayangnya, daycare saat ini tidak sedikit yang hanya lebih mengutamakan keuntungan dibandingkan kualitas dan keamanan.
Kondisi inilah yang diduga terjadi di Daycare Little Aresha, dan bukan tidak mungkin juga terjadi di tempat lain. Kapitalisme sekuler melemahkan sistem pengasuhan keluarga yang sejatinya memiliki aturan jelas dalam Islam.
Dalam Islam, anak adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dengan sebaik-baiknya. Menyerahkan pengasuhan kepada pihak lain tanpa jaminan yang kuat tentu mengandung risiko besar, terlebih jika pengasuhan tersebut lebih berorientasi bisnis daripada dilandasi iman dan tanggung jawab. Islam juga telah menetapkan bahwa pengasuhan anak (hadanah) merupakan tanggung jawab utama seorang ibu, khususnya kepada anak usia dini. Para ulama menjelaskan bahwa ibu adalah pihak yang paling berhak dan paling utama dalam mengasuh anak.
Hal ini sekaligus menunjukkan kepada kita betapa Islam sangat memuliakan peran ibu, sebuah peran yang tidak tergantikan oleh institusi mana pun. Seorang ibu yang mengasuh anaknya dengan penuh perhatian sejatinya sedang membangun generasi masa depan. Karena itu, solusi mendasar bukan hanya sekadar memperbaiki fasilitas, dan tetapi mengembalikan peran ibu sebagai pengasuh utama.
Islam juga mengatur struktur keluarga secara seimbang. Suami bertanggung jawab penuh sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga, sementara istri berperan sebagai pengelola rumah tangga sekaligus pendidik dan pengasuh anak. Di sisi lain, negara dalam sistem Islam berfungsi sebagai pengurus rakyat yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan masyarakat. Negara dalam Islam akan memastikan setiap kepala keluarga memiliki penghasilan yang layak, sehingga para ibu tidak akan meninggalkan perannya sebagai Ibu pengurus Rumah tangga.
Bukan hanya itu aminan kesejahteraan terhadap keluarga Pun bukan hanya sebatas penyediaan lapangan pekerjaan namun juga disediakan melalui Baitul Mal, yakni Tidak hanya itu, jaminan kesejahteraan keluarga tidak semata-mata bergantung pada penyediaan lapangan kerja. Negara juga memberikan jaminan melalui Baitul Mal, yaitu lembaga yang mengelola dan menyalurkan harta umat kepada pihak yang berhak menerimanya. Bantuan diberikan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal bagi fakir dan miskin, sehingga perempuan tetap terjaga kebutuhannya tanpa harus dipaksa bekerja.
Dalam sistem Islam, lingkungan yang aman bagi anak pun dibangun melalui sistem pendidikan Islam yang menanamkan keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, setiap individu memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jika terjadi pelanggaran, Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas dan memberi efek jera.
Inilah gambaran bagaimana Islam memberikan jaminan perlindungan dan pengasuhan bagi anak. Semua hal tersebut tentu sulit terwujud apabila masih menerapkan sistem kapitalisme sekuler. Karena itu, diperlukan upaya untuk menghadirkan sistem yang berdiri di atas asas yang benar, yaitu berlandaskan wahyu Ilahi dengan penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).
Wallahu ‘alam bishshawab.
Via
OPINI
Posting Komentar