OPINI
Gaza Memanggil Umat Islam
Oleh: Eulis Martini
[Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KKM) Depok]
TanahRibathMedia.Com—Gaza terus bersimbah darah. Anak-anak menjadi sasaran bombardir, rumah-rumah dihancurkan, rumah sakit dilumpuhkan, bahkan kamp-kamp pengungsian tak luput dari serangan. Di tengah blokade dan keterbatasan fasilitas kesehatan, banyak anak Palestina harus kehilangan anggota tubuh mereka akibat luka berat yang tak tertangani.
Dunia menyaksikan tragedi itu dengan gamblang. Puluhan ribu warga Palestina gugur sejak agresi berlangsung pada Oktober 2023. Mayoritas korban perempuan dan anak-anak. Kelaparan meluas, fasilitas publik hancur, dan ribuan jenazah masih tertimbun reruntuhan. Namun ironisnya, dunia internasional hanya sibuk dengan kecaman, resolusi, dan diplomasi tanpa penghentian nyata terhadap penjajahan ini.
Padahal Palestina bukan sekadar persoalan wilayah atau konflik politik biasa. Palestina adalah negeri kaum Muslimin, tanah yang diberkahi Allah Swt., sekaligus tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Allah Swt. berfirman, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (TQS. Al-Isra’: 1).
Karena itu, membela Palestina wajib, bukan hanya dorongan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari akidah dan ukhuwah Islamiyah. Rasulullah ï·º bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun pertanyaannya, mengapa penderitaan Gaza terus berlangsung, diam, padahal negeri-negeri Muslim memiliki jumlah penduduk besar, kekayaan alam melimpah, dan kekuatan militer yang tidak sedikit?
Di sinilah akar persoalannya terletak pada perpecahan umat. Kaum Muslimin hari ini dipisahkan oleh nasionalisme, kepentingan politik, dan loyalitas kepada sistem sekuler. Ikatan akidah tidak lagi menjadi dasar persatuan. Akibatnya, ketika Gaza dibombardir, negeri-negeri Muslim hanya mampu mengeluarkan kecaman tanpa kekuatan nyata untuk menghentikan penjajahan.
Padahal, Allah Swt. berfirman, “Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (TQS Ali ‘Imran: 103).
Maka, selama umat Islam tetap tercerai-berai dan tunduk pada dominasi negara-negara besar, tragedi demi tragedi akan terus berulang di Palestina maupun negeri-negeri Muslim lainnya. Padahal, Islam sejatinya bukan hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga mengatur kehidupan secara menyeluruh: politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan internasional. Karena itu, solusi atas persoalan Palestina tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan dan diplomasi. Persoalan ini harus diselesaikan dari akarnya, yaitu dengan mengembalikan persatuan umat di bawah syariat Allah Swt.
Allah Swt. berfirman, “Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu...” (TQS al-Jatsiyah: 18).
Rasulullah ï·º juga bersabda, “Imam (pemimpin) adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanyi” (HR Muslim).
Persatuan politik umat, penerapan syariat secara kaffah, serta kepemimpinan yang menjadikan penjagaan darah kaum Muslimin sebagai prioritas adalah ajaran Islam yang hari ini semakin dijauhkan dari kehidupan. Gaza hari ini bukan hanya tentang Palestina. Gaza adalah cermin keadaan umat Islam: besar jumlahnya, tetapi kehilangan persatuan dan pelindungnya. Selama kaum Muslim tetap terpecah dan jauh dari aturan Allah Swt., darah umat akan terus menjadi murah di hadapan dunia.
Harusnya penguasa negeri-negeri kaum Muslim lainnya membantu Gaza dengan mengerahkan pasukan melawan zionis Yahudi. Apalagi Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 75 yang artinya, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?”
Sudah saatnya umat Islam kembali menjadikan akidah dan syariat sebagai dasar persatuan, agar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin benar-benar terwujud. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (TQS al-Hujurat: 10)
Via
OPINI
Posting Komentar