SP
Superpower Baru: Khilafah Mengubah Peta Energi Dunia
TanahRibathMedia.Com—Dunia kembali menyaksikan ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, akibatnya, terjadi fluktuasi harga minyak mentah dunia dan ketidak stabilan ekonomi global (https://www.aljazeera.com/news/2026/3/16/the-tell-tale-signs-how-bad-has-the-iran-war-hit-the-global-economy)
Minyak adalah komponen utama dalam biaya produksi dan distribusi berbagai komoditas. Kenaikan harga minyak mentah secara otomatis menaikkan biaya logistik, yang kemudian memicu kenaikan harga barang dan jasa secara umum (cost-push inflation) (https://fypmedia.id/kenapa-harga-apa-pun-ikut-naik-saat-harga-minyak-dunia-naik). Kenaikan harga ini akan langsung memangkas kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan hidup.
Bagi negara pengimpor neto minyak seperti Indonesia, kenaikan harga minyak dunia memaksa pemerintah meningkatkan alokasi subsidi BBM atau menaikkan harga jual di tingkat domestik. Hal ini berisiko memperlebar defisit anggaran dan menekan APBN Republik Indonesia (https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/minyak-bumi-dalam-negeri-produksi-impor-dan-perkembangan-harga-bbm).
Di bawah cengkeraman hegemoni global yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, sumber daya alam dikelola sebagai komoditas bisnis yang tunduk pada hukum pasar dan kepentingan geopolitik. Fluktuasi harga minyak mentah dunia akibat dan ketidakstabilan ekonomi global telah menjadi bukti nyata kerapuhan sistem ekonomi kapitalisme. Saat harga minyak dunia naik, rakyat dipaksa ikut menanggung beban.
Menentang hegemoni global dapat dilakukan dengan menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan Khilafah. Umat Islam akan memiliki posisi tawar yang tak tertandingi karena sebagian besar cadangan minyak dunia berada di wilayah negeri-negeri Muslim (https://www.penglobalinc.com/crude-oil-countries-with-the-largest-proven-reserves). Integrasi ini akan mengakhiri sekat-sekat batas negara dan nasionalisme yang selama ini menguntungkan kepentingan elite global. Penyatuan umat Islam dalam satu negara islam yaitu Daulah Khilafah akan membawa perubahan struktural yang mendasar terhadap peta kekuatan ekonomi dan geopolitik minyak dunia.
Dalam Islam kepemilikan dibagi menjadi tiga kategori: individu, negara, dan umum. Sumber daya alam seperti minyak bumi secara syar’i ditetapkan sebagai Kepemilikan Umum (Al-Milkiyyah al-Ammah). Rasulullah saw. bersabda:
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud)
Minyak bumi (sebagai representasi "api" atau energi) wajib dikelola negara atas nama rakyat dan mengembalikan seluruh hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Ketika Indonesia tergabung dalam Khilafah dengan negeri-negeri muslim lain. Minyak yang melimpah di wilayah Arab, termasuk Iran, akan di distribusikan untuk seluruh negeri di wilayah khilafah sehingga kemandirian BBM akan terwujud. Khilafah akan menjadi negara independen, bahkan adidaya, sehingga politik dan ekonominya tidak mudah terguncang akibat gejolak global.
Putri Ramadhini
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar