OPINI
Mengembalikan Ramadan dan Lebaran pada Fitrahnya dalam Naungan Sistem Islam
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Lebaran seharusnya menjadi momentum kebahagiaan. Hari kemenangan yang identik dengan rasa syukur, kebersamaan, dan ketenangan jiwa. Namun realitas hari ini justru menunjukkan ironi. Di tengah gema takbir yang berkumandang, banyak keluarga Muslim di Indonesia justru dihimpit beban utang.
Kondisi seperti ini merupakan potret rapuhnya sistem ekonomi yang menaungi kehidupan masyarakat. Setiap tahun, menjelang Ramadan dan Idulfitri, harga kebutuhan pokok melonjak, ongkos transportasi meningkat, dan kebutuhan sosial ikut bertambah. Sementara itu, penghasilan sebagian besar masyarakat tidak mengalami peningkatan.
Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, bahkan menyebut kondisi ini sebagai ritual tahunan. Rakyat kembali menghadapi tekanan ekonomi yang sama: harga mahal, daya beli lemah, dan ketergantungan pada bantuan negara yang belum tepat sasaran. Program diskon, bansos, hingga pasar murah yang digelontorkan dengan anggaran besar ternyata belum mampu menyelesaikan akar persoalan (Inilah.com, 14-3-2026).
Bansos memang menjadi andalan dan harapan keluarga-keluarga dengan penghasilan minim. Tetapi, dengan adanya bansos tidak menyelesaikan masalah mendasar. Karena sejatinya persoalan masyarakat adalah sempitnya akses pekerjaan.
Lebih memprihatinkan lagi, data menunjukkan peningkatan penggunaan layanan utang seperti pinjaman online, multifinance, dan gadai selama Ramadan hingga Idulfitri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri memproyeksikan tren ini terus meningkat. Artinya, banyak keluarga terpaksa memaksakan kebahagiaan dengan cara berutang.
Sungguh, kapitalisasi momen Ramadan dan lebaran melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga. Ramadan dan lebaran sering dijadikan momen bisnis besar-besaran. Akibatnya, banyak orang merasa harus belanja lebih agar terlihat layak sehingga muncul tekanan dari lingkungan dan beban keuangan bagi keluarga.
Di tengah lemahnya daya beli dan pertumbuhan upah yang minim, era digitalisasi justru menghadirkan solusi buruk yang memunculkan persoalan yakni kemudahan akses utang. Layanan pinjaman online, paylater, hingga kredit digital hadir dengan proses cepat, minim syarat, dan jangkauan luas.
Sekilas, hal ini tampak seperti solusi. Namun pada kenyataannya, justru menjadi jebakan utang yang lebih dalam, terutama bagi keluarga dengan kondisi keuangan terbatas. Oleh karena itu, keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya pemilik kapital.
Lebih dari itu, keluarga membutuhkan sistem ekonomi yang stabil baik dari sisi nilai mata uang maupun harga barang. Ketidakstabilan hanya akan melahirkan kecemasan, menekan daya beli, dan menjadikan keluarga terus berada dalam ketidakpastian.
Di sisi lain, sistem ekonomi yang dibutuhkan adalah yang mampu menyediakan lapangan kerja yang layak dan kontinu. Bukan memfasilitasi utang ribawi sebagai solusi fatamorgana. Sebab utang bukanlah jalan keluar, melainkan pintu masuk bagi jeratan masalah baru yang semakin membebani keluarga. Kondisi ini akan makin menjadikan keluarga bergantung pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan rutin serta kebutuhan lainnya.
Maka dari itu kesejahteraan hanya akan didapatkan dari sistem ekonomi Islam. Di mana sistem ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dengan sistem politik Islam. Karena butuh kekuatan politik untuk melepaskan ketergantungan negara dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga negara mampu menerapkan sistem ekonomi Islam untuk membangun kesejahteraan bagi keluarga. Termasuk sistem Islam akan mengembalikan momentum Ramadan dan Idulfitri sesuai pandangan syariat, yaitu untuk mewujudkan ketakwaan bukan hanya pada tataran individu namun juga sistem negara.
Tidak kalah penting, Islam membangun kesadaran masyarakat untuk menjadikan Lebaran sebagai momentum kesederhanaan dan ketakwaan, bukan ajang pamer dan konsumsi berlebih. Sehingga standar kebahagiaan tidak lagi diukur dari materi, tetapi dari ketaatan kepada Allah Swt.
Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, Ramadan dan Lebaran akan kembali pada fitrahnya: momen ibadah yang menenangkan, bukan tekanan yang membebani. Tidak ada lagi keluarga yang harus berutang pada saat Ramadan dan Lebaran. Karena negara hadir menjamin, dan masyarakat hidup dalam ketenangan dan kesejahteraan. Mari kembali pada solusi hakiki, yakni solusi Islam yang menentramkan dalam naungan Khilafah.
Wallahualam Bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar