Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Pojok Redaktur Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?
Pojok Redaktur

Klaim Kemenangan Manusia, Siapakah Pemenang di Sisi Allah?

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
13 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

TanahRibathMedia.Com—Gencatan senjata bersyarat selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, sebagaimana telah disampaikan kepada masing-masing penguasa AS-Iran, menghadirkan secercah harapan di tengah ketegangan Timur Tengah yang memanas selama berminggu-minggu. Pemerintah AS menyebut kesepakatan ini sebagai “kemenangan militer”, sementara Iran juga mengklaim keberhasilan di medan perang yang akan diperkuat melalui jalur diplomasi antara negara. Namun di balik klaim kemenangan tersebut, realitas di lapangan justru memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks berupa masih terjadi serangan di Lebanon, drone masih melintas di kawasan Teluk, dan masyarakat sipil hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang atas pertempuran dunia ini, tetapi siapa yang benar-benar menang di sisi Allah Swt?

Konflik global modern tidak hanya lahir dari pertarungan militer antarnegara, tetapi dari paradigma politik dunia yang memisahkan kekuasaan dari nilai moral dan wahyu. Dalam sistem internasional modern, kemenangan diukur melalui dominasi strategis, bukan keadilan kemanusiaan.

Perdamaian yang Masih Bersyarat

Berbagai laporan media menunjukkan bahwa gencatan senjata ini bukan akhir konflik besar yang telah terjadi, melainkan jeda strategis, yang disertai syarat geopolitik, termasuk isu pembukaan Selat Hormuz dan negosiasi nuklir. Bahkan setelah kesepakatan diumumkan, aktivitas militer di wilayah lain tetap berlangsung. 

Fenomena ini menegaskan bahwa perdamaian modern sering kali lahir bukan dari kesadaran kemanusiaan, tetapi dari perhitungan kekuatan, tekanan ekonomi, dan kepentingan geopolitik yang terjadi di negaranya.

Dalam politik global, klaim kemenangan merupakan hal lazim karena setiap negara membutuhkan legitimasi di hadapan rakyatnya. Namun fakta kemanusiaan menunjukkan bahwa korban terbesar perang bukanlah negara, melainkan masyarakat sipil, keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan generasi yang tumbuh dalam trauma konflik berkepanjangan. 
Di sinilah terlihat bahwa dunia sering kali menutup mata: angka statistik korban bukan sekadar data, melainkan kehidupan nyata manusia yang masa depannya berubah selamanya akibat keputusan politik para pemimpin.

Kemenangan Dunia Tidak Selalu Kemenangan Hakiki

Islam tidak memandang kemenangan sebagai sekadar keberhasilan geopolitik, tetapi sebagai bagian dari visi peradaban yang menempatkan keadilan, penjagaan kehidupan, dan ketundukan kepada Allah sebagai ukuran utama keberhasilan sejarah manusia.
Pandangan ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an dalam memandang konflik dan perdamaian di dalam QS. Al-Anfal [8]: 61

وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ 
عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

"Jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakal-lah kepada Allah. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 61)

Ayat ini memberi pelajaran penting bahwa klaim kemenangan yang disampaikan Iran belum tentu merupakan kemenangan sejati di sisi Allah Swt. Sebuah negara mungkin memenangkan pertempuran, menguasai wilayah, atau memperoleh keuntungan strategis, tetapi jika konflik masih meninggalkan ketakutan, kehancuran, dan penderitaan masyarakat sipil, maka kemenangan tersebut hanyalah kemenangan duniawi yang bersifat sementara.

Sebaliknya, kemenangan hakiki menurut Al-Qur’an adalah ketika permusuhan berhenti, nyawa terselamatkan, kezaliman dihentikan, dan manusia kembali hidup dalam keamanan. Tawakal yang diperintahkan dalam ayat ini juga mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan keimanan, manusia berusaha menciptakan perdamaian, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala rencana manusia.

Sejarah Islam juga memperlihatkan hal serupa. Pada Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw. menerima kesepakatan antara kaum Quraisy yang secara politik tampak merugikan kaum Muslimin seluruhnya. Namun Allah menyebutnya sebagai “kemenangan yang nyata" (QS. Al-Fath [48]: 1), karena membuka jalan bagi perdamaian dan penyebaran kebaikan tanpa pertumpahan darah.

Mengapa Perdamaian Dunia Rapuh?

Konflik global sering kali terus terjadi secara berulang karena perdamaian yang dibangun di atas tiga hal yang rapuh:

1. Kepentingan politik, bukan keadilan.
2. Keseimbangan kekuatan, bukan rekonsiliasi hati.
3. Tekanan ekonomi, bukan kesadaran moral.

Selama akar dari konflik (ketidakadilan, dominasi, dan balas dendam) tidak diselesaikan secara keseluruhan, maka gencatan senjata yang disepakati hanya akan menjadi waktu istirahat  sebelum konflik berikutnya terjadi kembali.

Islam menyebut kondisi ini sebagai akibat hilangnya nilai keadilan dan persatuan umat. 

"Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (TQS. Al-Maidah [5]: 8)

Persatuan Umat sebagai Pelajaran Besar Konflik Global

Konflik antara kekuatan besar dunia seharusnya menjadi pelajaran penting bagi negeri-negeri kaum muslimin. Peristiwa ini menunjukkan bahwa politik global sering digerakkan oleh kepentingan kekuasaan dan dominasi, bukan semata nilai kemanusiaan. Karena itu, umat Islam dituntut untuk memperkuat persatuan, solidaritas, dan kemandirian politik agar tidak terus menjadi objek konflik dan perebutan pengaruh global.

“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (TQS. Ali Imran [3]: 103)

Persatuan umat bukan berarti mengikuti konflik atau memperluas permusuhan, tetapi membangun kekuatan bersama dalam keadilan, ilmu, dan peradaban. Ketika umat Islam tercerai-berai oleh kepentingan nasional, mazhab, maupun politik sempit, maka mereka menjadi lemah di hadapan kekuatan global yang lebih terorganisasi.

Sejarah menunjukkan bahwa kelemahan terbesar umat bukan hanya tekanan dari luar, tetapi hilangnya persatuan, keadilan internal, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat secara menyeluruh. Karena itu, konflik dunia seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif bagi kaum muslimin untuk kembali membangun persatuan berbasis nilai Islam yang adil, bijak, dan membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Jalan Perdamaian yang Hakiki

Islam menawarkan solusi yang tidak hanya politis, tetapi juga moral dan spiritual:

1. Perdamaian berbasis keadilan (‘adl)
Kesepakatan damai harus melindungi semua pihak, terutama anak-anak, wanita dan masyarakat sipil bukan hanya kepentingan negara yang kuat berkuasa apalagi atas kepentingan politik semata.

2. Diplomasi sebagai prioritas
Islam mendorong musyawarah dan negosiasi dengan damai antara pihak terkait (AS-Iran) sebelum konflik semakin meluas. Mediasi seperti yang dilakukan oleh PM Pakistan menunjukkan pentingnya ada pihak penengah yang adil tidak berpihak di salah satu pihak.

3. Menjaga nyawa sebagai tujuan utama
Keamanan manusia harus menjadi indikator keberhasilan perdamaian, bukan kemenangan militer dan kekuasan semata.
Dalam Islam, menjaga kehidupan manusia (hifzh an-nafs) merupakan salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid asy-syarī‘ah). Al-Qur’an menegaskan bahwa menyelamatkan satu jiwa seakan menyelamatkan seluruh manusia, menunjukkan betapa tingginya nilai kehidupan di sisi Allah Swt.

4. Tanggung jawab moral pemimpin
Dalam Islam, pemimpin adalah amanah. Rasulullah bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Menghidupkan nilai Rahmatan lil ‘Alamin
Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya [21]: 107), artinya perdamaian harus melampaui batas negara, suku, dan kepentingan ideologi.

Gencatan senjata AS–Iran mungkin menjadi kemenangan diplomasi bagi sebagian pihak dan kemenangan militer bagi pihak lain. Namun sejarah menunjukkan bahwa kemenangan manusia sering kali bersifat sementara dan fana. Kemenangan sejati di sisi Allah adalah ketika kezaliman berhenti, darah tidak lagi tertumpah, dan manusia dapat hidup dengan aman serta bermartabat.

Selama dunia tetap dibangun di atas logika kekuatan dan dominasi, konflik akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Islam menawarkan paradigma alternatif: kekuasaan sebagai amanah, perdamaian sebagai kewajiban moral, dan hubungan antarbangsa sebagai sarana menghadirkan keadilan universal di bawah nilai ketuhanan.

Karena pada akhirnya, dalam pandangan Islam, pemenang sejati bukanlah yang paling kuat senjatanya, tetapi yang paling besar menghadirkan rahmat bagi kehidupan manusia.[] Rianti
Via Pojok Redaktur
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan

Tanah Ribath Media- April 13, 2026 0
Di Balik Mahalnya Plastik, Akibat Permainan Pasar Kapitalisme yang Menyengsarakan
Oleh: Marlina Wati, S.E  (Muslimah Peduli Umat) Viralnya kenaikan harga plastik bukan sekadar isu biasa, melainkan sinyal adanya masalah yang lebih dalam. Dulu…

Most Popular

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Lebih dari 70 Muslimah Hadiri Talk Show Kajian Risalah Akhir Tahun 2023

Januari 01, 2024
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023

Popular Post

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

Arus Balik, Arus Masalah: Urbanisasi sebagai Bukti Gagalnya Sistem

April 08, 2026
BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

BoP dan Ilusi Perdamaian, ketika Umat Harus Bersikap Tegas

April 08, 2026
Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

Urbanisasi setelah Idulfitri, Wujud Kesenjangan

April 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us