SP
Sunyi di Ujung Malam: Ketika Perjuangan Ojol Tak Lagi Berlanjut
TanahRibathMedia.Com—Kota Batam kembali berduka. Seorang pengemudi ojek online, Asep, ditemukan tertunduk di atas motornya pada sunyinya malam—perjuangannya mencari nafkah berakhir dalam diam (Batamnews.co.id, 16 Februari 2026). Kisah ini bukan sekadar kabar duka, tetapi potret getir kehidupan sebagian rakyat yang harus bertarung dengan waktu dan tenaga demi menyambung hidup.
Realitas ekonomi yang semakin berat menuntut banyak orang bekerja tanpa batas waktu. Harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup meningkat, sementara penghasilan tidak selalu stabil. Bagi pekerja sektor informal seperti ojek online, pendapatan sangat bergantung pada jumlah order. Semakin lama bekerja, semakin besar peluang mendapatkan penghasilan. Akibatnya, tubuh dipaksa melampaui batas kemampuan.
Jam operasional ojol yang fleksibel memang memberi kebebasan, tetapi di sisi lain juga menjadi jebakan. Tanpa aturan jam kerja yang tegas, sebagian pengemudi bekerja dari pagi hingga larut malam. Ketika target harian belum tercapai, mereka enggan berhenti. Keletihan menjadi teman setia dan risiko kesehatan meningkat. Dalam sistem kapitalis, tidak ada jaminan kebutuhan hidup bagi individu yang tidak mampu bekerja. Siapa yang berhenti bekerja, ia berhenti mendapatkan penghasilan. Negara lebih banyak berperan sebagai regulator ketimbang penjamin langsung kesejahteraan. Maka tak heran jika rakyat harus bekerja keras, bahkan mengorbankan kesehatan, demi memenuhi kebutuhan dasar.
Islam menawarkan pendekatan berbeda. Negara dalam Islam bertanggung jawab menjamin kebutuhan pokok rakyat—pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Setiap individu didorong untuk bekerja sesuai kemampuan, tetapi negara hadir memastikan tidak ada rakyat yang terabaikan.
Bagi mereka yang tidak mampu bekerja secara fisik, sakit, lanjut usia, atau kehilangan pekerjaan, negara wajib menjamin kebutuhan hidupnya melalui mekanisme Baitul Mal. Dengan demikian, tekanan untuk bekerja melampaui batas dapat diminimalkan. Rakyat tidak dipaksa mempertaruhkan nyawa demi sekadar bertahan hidup. Islam juga mengatur sistem upah secara adil. Upah diberikan sesuai manfaat atau jasa yang dihasilkan, bukan sekadar pengalaman atau senioritas. Prinsip ini memastikan pekerja memperoleh haknya secara proporsional dan tidak dizalimi oleh sistem.
Kisah Asep menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kota industri, ada perjuangan sunyi para pekerja informal. Mereka bukan sekadar roda ekonomi, tetapi manusia yang memiliki batas fisik dan hak untuk hidup layak. Jika sistem terus membiarkan rakyat bertarung sendirian dengan kerasnya kehidupan, tragedi serupa bisa kembali terjadi. Karena sejatinya, negara bukan hanya pengatur lalu lintas ekonomi, melainkan pelindung kehidupan rakyatnya. Dan setiap nyawa yang hilang dalam perjuangan mencari nafkah adalah cermin bagi sistem yang sedang berjalan.
Ilma Nafiah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar