Nafsiah
Filosofi di Balik Perjuangan Mendapatkan Nikmatnya Makan Sahur
Oleh: Kartika Soetarjo
(Pengasuh Kajian Anak-Anak Raudhatul Jannah)
TanahRibathMedia.Com—Makan, dalam kehidupan sehari-sehari hukumnya mubah atau ‘wenang’, artinya: dilakukan tidak mendapat pahala, ditinggalkan pun tidak berdosa. Mubah/wenang tergantung niat. Jika niatnya baik, misalnya kita makan karena ingin kuat dalam melaksanakan salat, atau dalam ibadah yang lainnya, maka makan akan mendapatkan pahala. Tapi jika niatnya hanya karena ingin kenyang saja, maka tidak mendapat pahala, pun tidak berdosa.
Tapi di bulan Ramadan, makan hukumnya menjadi sunnah. Ya, makan sahur hukumnya sunnah muakkad. Sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karena dalam makanan sahur terdapat keberkahan.
"Bersahurlah kalian, karena dalam makanan sahur terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Secara spiritual, sahur adalah momen di mana kita berada dalam kesadaran penuh, atau niat yang mendalam. Kita bangun bukan karena lapar, tapi karena taat. Kita makan bukan karena ingin kenyang, tapi karena ingin kuat dalam menjalankan ibadah puasa.
Namun, makan sahur bagi sebagian orang muslim seolah menjadi beban. karena dipaksa harus makan di waktu terlelapnya tidur. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang melewatkan sahur, karena mengantuk, dan merasa kuat melaksanakan puasa walau tanpa makan sahur.
Padahal, Rasululullah saw. telah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Makan sahur adalah berkah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur." (HR. Ahmad)
Oleh karenanya, usahakanlah agar tidak sampai meninggalkan makan sahur. Lantas, bagaimana agar makan sahur itu tidak menjadi beban atau tidak menjadi tuntutan, dan bagaimana cara agar makan sahur itu terasa nikmat, dan selalu menjadi kebutuhan?
Pertama, niat dan persiapan awal.
Kita bangun lebih awal dan sudah ada niat akan sahur. Namun sebelum sahur, kita mulai dengan ritual mandi, dilanjutkan melaksanakn salat, dan diakhiri dengan zikir. Di samping sebagai amalan yang mulia, amalan itu pun adalah sebagai pemanasan fisik dan mental. Kita bangun tidur tidak langsung ujug-ujug makan. Di mana badan masih kaget, atau kurang siap.
Kedua, hadirkan kebutuhan.
Setelah persiapan tersebut, maka kita akan merasakan capek, kedinginan, dan perut pun minta diisi. Dengan begitu, makan sahur akan terasa nikmat, dan makan sahur pun bukan hanya sebuah keharusan, tapi juga satu kebutuhan yang benar-benar harus dirasakan.
Ketiga, hadirkan rasa syukur.
Setelah menikmati makan sahur, maka hadirkan rasa syukur kepada Sang Maha Pemberi rezeki, dan saat sahur itulah waktu mustajab untuk berdoa. Maka, selain penuh keberkahan, makan sahur pun penuh kenikmatan.
Dengan begitu, makan sahur menjadi semangat. Puasa pun Insyaa Allah kuat. Jadi intinya, puasa itu dari sahurnya pun fisik dan mental harus dipersiapkan, tidak bisa dikerjakan dengan dadakan. Karena segala sesuatu yang dikerjakan dengan dadakan tanpa persiapan, hasilnya tidak akan memuaskan.
Begitu pun dalam kehidupan sehari-hari. Mempersiapkan diri ketika akan menghadapi sesuatu yang kita anggap penting, adalah satu keharusan. Seperti ketika kita akan menghadapi sebuah pekerjaan, atau sebuah proyek. Kita persiapkan diri semaksimal mungkin. Riset, membuat rencana, istirahat yang cukup, dan fokus dalam mengerjakannya. Pasti hasilnya akan maksimal, dan memuaskan.
Dalam hubungan pertemanan, ketika kita akan memberikan bantuan kepada teman, baik itu berupa moral atau spiritual, kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi pendengar yang baik dan meluangkan waktu, maka interaksinya jadi lebih tulus, dan membahagiakan kedua belah pihak.
Apalagi dalam dakwah, persiapan diri haruslah paripurna. Dari mulai ilmu yang memadai, adab yang menghiasi diri, serta akhlak mulia yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Di samping perintah Allah yang wajib kita kerjakan, semua itu adalah modal utama bagi seorang pendakwah. Dahulukan mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain, dengan cara menggali ilmu dari ulama-ulama wara, agar dakwah lebih terarah, dan indah. Setelah itu, maka dakwah akan lebih memikat dan akan terasa nikmat.
Karena, umat yang notabene sebagai objek dakwah, tidak hanya mendengar atau membaca apa yang kita ucap, dan apa yang kita tulis. Tapi kebanyakan dari mereka melihat apa yang kita lakukan.
Maka, ketika seorang pendakwah sudah siap dengan ilmunya, cara penyampaiannya, dan istikamah dalam mengamalkan apa yang didakwahkannya. Maka ia akan menikmati hasil yang memuaskan. Karena hasil dakwah yang nikmat dan memuaskan dihasilkan dari pendakwah yang terdidik bukan dari pendakwah yang mendadak.
Semoga Ramadhan sekarang ini menjadi Ramadhan terbaik bagi kita. Ramadhan yang benar-benar menjadi persiapan bagi jiwa kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan takwa dan keimanan yang matang. Lakukan pemanasan, sebagai persiapan sebelum sahur dengan mandi, salat, dan zikir, agar makan sahur terasa nikmat.
Ini yang paling krusial, melakukan pemanasan di dunia sebagai persiapan menyambut wafat yang husnul khatimah, dengan cara bershabar dalam dakwah, bersabar dalam taat, dan bersabar dalam menjauhi maksiat, serta tidak putus dalam bertobat, dan mengharap Rahmat Sang Maha Penguasa jagat. Agar di akhirat surga didapat, yakni tempat istirahat ternikmat.
"Nikmat adalah syukur.
Nikmat adalah cinta.
Nikmat adalah rindu, dan nikmat sejati bukan nikmat fana duniawi, tetapi nikmat cinta dan nikmat rindu pada Sang Illahi."
Wallahu'alam bisshawwab
Via
Nafsiah
Posting Komentar