Pojok Redaktur
Menjaga Spirit Ramadan, Mengokohkan Langkah Perjuangan
TanahRibathMedia.Com—Ramadan bulan mulia. Kehadirannya begitu dinantikan dan disambut dengan penuh gembira oleh kaum muslimin seantero dunia. Bulan yang di dalamnya bertabur ampunan, rahmat, dan keberkahan. Di bulan tersebut, peluang untuk dapat mendulang pahala sangat besar. Berbagai amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.
Setiap insan beriman saling berlomba untuk mendapatkan pahala dan kebaikan di bulan suci tersebut. Mulai dari ibadah salat tarawih dan witir, meskipun hukumnya sunah, merasa sayang jika harus dilewatkan. Kecuali memang ada uzur syar'i yang tidak lagi bisa menunaikan.
Bukan hanya itu, gema lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar menenangkan dan menyejukkan. Seakan menyiram jiwa yang selama sebelas bulan kering dengan berbagai kesibukan dunia yang melelahkan. Rasa lemah karena puasa menjadikan suasana keimanan membara, meluluhkan segala nafsu dunia.
Dorongan untuk taat kian membuncah. Rasa ingin mendapatkan ampunan dan keberkahan itu sangat besar. Sehingga wajar orang berbondong-bondong untuk saling memberi dan berbagi. Selain itu, di bulan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, itulah malam Lailatul Qadar. Orang berburu malam tersebut dengan melakukan i'tikaf di 10 Ramadan terakhir.
Kepergian Ramadan dan Ritualisasi Tahunan
Sayangnya, tidak sedikit dari kita bersuka cita saat menyambut Ramadan, namun tak banyak yang menangisi ketika Ramadan pergi. Aktivitas puasa, sahur, berburu takjil, tilawah Al-Qur'an dan salat malam tak lebih sebatas ritual tahunan yang tak berbekas dalam aspek sikap dan perilaku.
Padahal, Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk menjalankan sahum di bulan Ramadan selama satu bulan itu bukan main-main. Bukan tanpa maksud. Namun, ada tujuan besar yang hendak dipersiapkan oleh Allah yakni melatih dan membentuk habit agar menjadi insan bertakwa.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 182 yakni:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُم الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Bertakwa adalah taat menjalankan segala yang Allah Swt. perintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Ketaatan yang dimaksud juga tidak terbatas pada ibadah mahdho (ibadah yang mengharuskan syarat dan rukun) saja. Namun ibadah yang dimaksud dalam konteks yang lebih luas. Baik menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama. Kesemuanya itu telah diatur secara jelas dan terperinci. Baik dalam Al-Qur'an maupun sunah.
Ramadan Bulan Perjuangan
Hakikat puasa adalah perjuangan. Berjuang untuk menahan lapar dahaga, berjuang untuk sabar dan menahan hawa nafsu. Menahan diri dari aktivitas maksiat. Puasa Ramadan merupakan momentum pendisiplinan diri, peningkatan keimanan dan produktivitas dalam ibadah.
Jika kita membuka lembaran sejarah, perang Badar yaitu pertempuran pertama setelah Daulah Islam tegak di Madinah. Pertempuran yang dahsyat. Kaum muslimin yang berjumlah hanya sekitar 313 orang harus menghadapi Kafir Quraisy yang berjumlah 1000 pasukan. Jelas bukan lawan yang seimbang. Namun, karena keteguhan iman dan besarnya keyakinan mendapatkan pertolongan Allah.
Benar, setelah bertempur habis-habisan, maka atas izin dan pertolongan Allah, maka kaum muslimin berhasil membuat musuh kocar-kacir, dan ini terjadi pada bulan Ramadan.
Selain itu peristiwa penting yang terjadi di Bulan Ramadan adalah Fathul Mekah (penaklukan kota Mekah). Sebuah simbol hancurnya segala bentuk kemaksiatan, kesyirikan dan kembali kepada Tauhid.
Jika sejarah mencatat berbagai perjuangan, maka seyogoanya kita sebagai hamba beriman, mari kita jadikan Ramadan tahun ini untuk berjuang, bergabung dengan jamaah dakwah dalam rangka membebaskan manusia dari menghamba makhluk.
Sebagaimana perintah puasa di Bulan Ramadan, menyeru menyeru manusia dalam kebaikan juga bagian dari perintah Allah Swt sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 110:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Yang artinya adalah: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
Ayat di atas menekankan kepada kita untuk senantiasa berjuang menyadarkan umat yang sedang terbius oleh pemahaman sekuler kapitalisme agar kembali kepada syari'at Allah Swt. yakni menerapkan aturan-aturannya secara kaffah dalam bingkai khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Karena tanpa institusi negara syariat Islam mustahil dapat dilakukan secara sempurna. Oleh karena itu mewujudkan tegaknya sebuah institusi tersebut hukumnya menjadi wajib. Sebagaimana dalam kaidah fikih: "Fala yatimu wajib illa bihi fahuwa wajib." Artinya, segala sesuatu yang mengantarkan kepada kewajiban maka hukumnya wajib. Wallahu a'lam.[] L. Nur Salamah
Via
Pojok Redaktur
Posting Komentar