Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Puisi Palestina Memanggil
Puisi

Palestina Memanggil

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
02 Okt, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Pay Jarot Sujarwo

TanahRibathMedia.Com—Dengarkanlah kisah ini. 
tentang sebuah tanah suci,  
yang pernah dipijak langkah nabi 

Di bawah panji Byzantium  
tanah itu terbungkus muram 
gereja-gereja menjulang namun jiwa-jiwa lapar dan dahaga 
pajak menjerat petani, tentara menguasai jalanan,  
pasar berisik dengan tagihan upeti 
sementara rakyat kecil meratap pada langit yang jauh 

Hingga Sang Pembebas, Umar bin Khattab datang,  
ia telah menundukkan kota dengan janji keamanan.  
Tanah itu masuk ke pangkuan Islam,  
dan rakyat merasa memiliki rumah di mana masjid dan pasar 
bisa bernafas dengan damai. 

Angka-angka di kalender bertanggalan 
hari berganti pekan berganti bulan berganti tahun 
peristiwa demi peristiwa menjelma sejarah yang diceritakan turun temurun 

Episode berikutnya, di tanah itu, adalah episode datangnya para salibis 
Mereka membawa api dan besi,  
menutup jalan adzan, merampas masjid, menodai tanah yang suci.  
bertahun-tahun rakyat hidup dalam ketakutan,  

Tapi ini tanah bukan sembarang tanah.  
ia adalah tanah yang suci, tanah para nabi  
berikutnya, kembali Sang Pembebas datang. 
Namanya Salahudin. 

Berabad-abad tanah itu dijaga,  
kesejahteraan bukan sekadar dongeng pengantar tidur tapi nyata adanya 
rahmat menyelimuti dalam waktu yang lama 

Tapi lagi, ujian besar lagi-lagi menerpa kaum muslimin.  
begitu besar, mengguncang, menyakitkan. 
khilafah hancur,  
Khalifah sang pelindung diusir 
panji-panji berserakan.  
Palestina ditinggalkan sendirian.  
muslimin sibuk menjahit warna benderanya masing-masing 
dan tak berhenti menggaris batas negara.  

Pada episode inilah Yahudi masuk  
menusukkan duri demi duri ke tubuhnya 
dari luka itulah darah mengalir,  
hari demi hari, tahun demi tahun. 

Hari ini, di Gaza.  
bayi-bayi lahir dalam terowongan sempit, 
di atas kepala mereka,  
dentuman roket menyalak seperti gonggongan anjing neraka. 
seorang ibu menggigil, bukan karena musim dingin,  
tetapi karena darah anaknya telah kering di pelukannya. 

Ayah-ayah yang tersisa, menggali reruntuhan dengan tangan kosong,  menemukan potongan tubuh yang masih hangat.  
itu adalah anak kandungnya. 
itu adalah keponakannya.  
itu adalah anak tetangganya.  
entah berapa jumlah potongan tubuh yang telah mereka pungut dari puing 

Gaza adalah kota yang setiap pagi bangun dengan reruntuhan di ambang pintu. anak-anaknya belajar berhitung dari jumlah sirene dan dentum bom,  
bukan dari papan tulis.  
di udara, bau mesiu bercampur dengan bau roti yang tak sempat masak. 
orang-orang di sana tahu bahwa setiap hari bisa menjadi hari terakhir. 
tapi mereka tetap menyalakan lampu, menyalakan doa, menyalakan harapan, meski listrik hanya hadir sebentar, meski air hanya menetes sebaris. 

Di Gaza, hidup adalah cara lain menyebut ketabahan. 
dan derita adalah nama lain dari kesetiaan: 
kesetiaan pada tanah, pada rumah yang hanya tinggal bayangan, 
pada palestina yang tak pernah mereka tinggalkan. 

Hari ini orang-orang memperingati hari lahirnya seorang nabi. di berbagai penjuru bumi, ada yang menari, ada yang barzanzi, ada yang terpekur dalam zikir malam yang panjang. ada yang tak henti henti melantukan shalawat.  

Di sekolah-sekolah, di masjid-masjid, di tempat-tempat dengan jumlah muslimin yang begitu banyak, mereka memperingati maulid nabi dengan megah. membahas, sudahkah kita mencintai nabi?  

Cinta kepada nabi bukanlah hiasan kata, ia adalah perintah yang menuntut ditegakkan: menaati syariatnya dengan sepenuh jiwa, merajut persatuan yang telah tercerai oleh batas buatan, memikul amanah jihad yang sering kita tinggalkan, dan mengingat bahwa cinta itu hanya sah bila sampai pada pembebasan masjidil aqsha, di mana nama beliau selalu disebut dengan air mata dan darah yang tertumpah. 

Palestina adalah cermin yang retak di hadapan kita,  
setiap pecahannya memantulkan wajah umat yang tercerai. 
darah yang mengalir di jalan gaza bukan milik mereka saja,  
melainkan darah kita yang sama merah.  
tangisan di bawah puing bukan sekadar gema asing,  
melainkan seruan yang mengetuk hati setiap muslim.  

Ooo umat muhammad, sampai kapan engkau diam? 
bangkitlah, satukan langkahmu, karena persatuanmu adalah doa yang menjelma menjadi tentara, adalah cinta kepada nabi yang menolak kalah oleh zaman. 

Sungguh, jalan terbaik kembali pada persaudaraan yang tak kenal batas: persatuan islam sebagai nafas yang mengangkat kembali kehormatan kita; tegaknya keadilan sebagai bayangan khilafah yang kita cita-citakan—bukan saja sebagai mahkota kuasa, tetapi juga sebagai payung bagi rakyat jelata  

Bangkitlah, saudaraku, dari bumi yang merah dari kota-kota yang sunyi, dari kamp-kamp pengungsi  
bangkitlah dari sajadah yang basah oleh air mata 
bangkitlah dari tidur panjang, dari mimpi yang patah! 

Kita telah mendengar seruan itu,  
di masjid-masjid yang berdebu, di jalanan yang berlubang, 
di setiap darah yang tumpah, di setiap adzan yang parau,  
palestina memanggil, memanggil, memanggil! 

Ooo kaum muslimin! apakah kita masih menikmati duduk-duduk di pelataran sejarah?  sementara anak-anak kecil mendekap batu seperti mendekap ibu mereka yang tak kunjung pulang? 

Wahai kaum muslimin!  
di mana tangan-tangan yang dulu mengangkat panji?  
di mana dada-dada yang tak pernah gentar oleh pedang?  
di mana lidah-lidah yang menggemakan takbir ke langit terbuka? 
bangkitlah! 

Jadilah sungai yang menerjang batu, 
jadilah bendera yang robek tapi berkibar, 
jadilah suara yang menembus pagar-pagar baja! 

Hari ini, kita adalah satu tubuh!  
jika satu luka, seluruh tubuh pun berdarah 
jika satu menangis, seluruh jiwa pun merintih 
 
Kita bukan sekadar nama dalam paspor,  
yang terbelenggu dengan batas batas negara 
kita adalah ummat yang satu!  
kita adalah ummat yang satu! 
bangkitlah, saudaraku,  

Jangan tunggu bulan membelah malam  
jangan tunggu hujan mencuci luka  
jangan tunggu! jangan tunggu! 

Karena bumi telah bersaksi 
langit telah bersumpah 
darah telah mengalirkan pesan:  
palestina memanggil 
memanggil 
memanggil  

Allahu Akbar 

Kuala Lumpur - Bogor,
September 2025
Via Puisi
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Remaja: yang Muda yang Berkarya, Lindungi dari Malapetaka Narkoba

Tanah Ribath Media- November 28, 2025 0
Remaja: yang Muda yang Berkarya, Lindungi dari Malapetaka Narkoba
Oleh: Tri W  (Aktivis Muslimah) TanahRibathMedia.Com— Miris, prihatin, sedih, gemas dan entah apa lagi kata yang bisa mewakili kondisi ini. Surabay…

Most Popular

Darurat Narkoba pada Anak, Buah Sistem Rusak

Darurat Narkoba pada Anak, Buah Sistem Rusak

November 25, 2025
Narkoba Dikonsumsi, Remaja Hilang Jati Diri

Narkoba Dikonsumsi, Remaja Hilang Jati Diri

November 26, 2025
Remaja dan Narkoba, Malapetaka Sistem Cela

Remaja dan Narkoba, Malapetaka Sistem Cela

November 25, 2025

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Agustus 06, 2024

Popular Post

Darurat Narkoba pada Anak, Buah Sistem Rusak

Darurat Narkoba pada Anak, Buah Sistem Rusak

November 25, 2025
Narkoba Dikonsumsi, Remaja Hilang Jati Diri

Narkoba Dikonsumsi, Remaja Hilang Jati Diri

November 26, 2025
Remaja dan Narkoba, Malapetaka Sistem Cela

Remaja dan Narkoba, Malapetaka Sistem Cela

November 25, 2025

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us