Telusuri
  • Pedoman Media
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • Form Pengaduan
Tanah Ribath Media
Pasang Iklan Murah
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Lensa Daerah
    • Internasional
  • Afkar
    • Opini Tokoh
    • Opini Anda
    • Editorial
  • Remaja
    • Video
  • Sejarah
  • Analisa
    • Tsaqofah
    • Hukum
  • Featured
    • Keluarga
    • Pernikahan
    • Pendidikan Anak
    • Pendidikan Remaja
    • FiksiBaru
Tanah Ribath Media
Telusuri
Beranda Opini Dakwah Mengubah Arah, Bukan Mengikuti Arus
Opini

Dakwah Mengubah Arah, Bukan Mengikuti Arus

Tanah Ribath Media
Tanah Ribath Media
05 Jul, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Maman El Hakiem
(Pegiat Literasi)

Coba kita bayangkan sejenak... 

TanahRibathMedia.Com—Seorang dokter datang ke sebuah desa. Di sana, ia melihat masyarakat hidup dalam kondisi sakit: ada yang demam tinggi, ada yang terkena infeksi, bahkan ada yang kritis. Tapi ketika dokter menawarkan obat, mereka berkata: “Kami belum siap menerima pengobatan. Biarkan dulu, sampai keadaan kami lebih baik.”

Tentunya, kita akan berkata: “Itu keliru!”

Pasalnya, justru obat dibutuhkan saat sakit, bukan ketika sehat. Maka seperti itulah posisi syariat Islam di tengah kerusakan masyarakat hari ini. Ketika kita melihat moral yang runtuh, hukum yang tumpul, keluarga yang rapuh, dan keadilan yang langka — Itu semua adalah gejala dari masyarakat yang sedang sakit. Oleh sebab itu, syariat Allah adalah obatnya.

Sayangnya, sebagian orang terbalik memahaminya. Mereka berpikir: “Masyarakat belum siap menerima syariat. Nanti saja kalau sudah lebih baik.” Padahal, justru syariat itulah obat yang membuat masyarakat menjadi lebih baik.

Syariat Tanpa Syarat

Dalam Islam, syariat bukan hasil kesepakatan manusia. Ia adalah petunjuk dari Allah Dzat yang menciptakan manusia, tahu kelemahannya, tahu apa yang terbaik untuk kehidupannya.

Allah Swt. berfirman:
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama ini), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (TQS. Al-Jatsiyah: 18)

Ayat ini mengajarkan satu hal penting: jangan menjadikan kondisi masyarakat sebagai dalil hukum, apalagi kompas kebenaran. Karena hawa nafsu dan kebiasaan manusia tak selalu benar. Yang harus jadi panduan adalah syariat — wahyu dari Dzat yang Maha Tahu.

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. diutus ke tengah masyarakat Quraisy yang rusak: menyembah berhala, menindas yang lemah, berjudi, mabuk, dan zalim. Bagi beliau, masyarakat yang rusak hanya sebagai fakta atau obyek hukum. Dalam hal ini, dengan syariat Islam-lah, beliau memperbaiki masyarakat itu secara menyeluruh dari akidah, akhlak, hingga tatanan negara. 

Kalau saja Rasulullah saw. berpikir seperti banyak orang sekarang, “Tunggu masyarakat siap dulu.” maka Islam tak akan pernah tegak.

Sejatinya, dakwah itu mengubah arah, bukan mengikuti arus. Tugas kita bukan mengejar penerimaan masyarakat dengan mencairkan ajaran Islam. Tapi mendidik masyarakat agar memahami, mencintai, dan mau tunduk kepada aturan Allah. Di sinilah peran dakwah: mengubah kesadaran, bukan mengikuti arus.

Apakah mudah? Tidak. Namun, bukankah semua perubahan besar memang dimulai dari keberanian membawa arah baru?

Allah Swt. berfirman lagi:
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Ma’idah: 50)

Oleh karena itu, jangan biarkan kerusakan menjadi alasan untuk diam. Jika masyarakat sedang rusak, maka semakin mendesak bagi kita untuk menghidupkan syariat. Bukan menundanya, apalagi melembutkannya hingga kehilangan bentuk. Sebabnya, syariat adalah cahaya, dan gelapnya masyarakat adalah alasan paling kuat untuk menyalakan cahaya itu. Dengan demikian, bukan Islam yang harus menyesuaikan zaman, tetapi zaman yang harus diarahkan dengan Islam. 

Wallahu a’lam bish shawwab.
Via Opini
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Pasang Iklan Murah
- Advertisment -
Pasang Iklan Murah

Featured Post

Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan

Tanah Ribath Media- Maret 13, 2026 0
Ironi 1.000 Ton Impor Beras di Tengah Janji Swasembada Pangan
Oleh: Nurhy Niha (Sahabat Tanah Ribath Media) TanahRibathMedia.Com— Besar pasak daripada tiang, begitulah cara kita memaknai kedaulatan pangan hari…

Most Popular

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Editor Post

Tak Habis Pikir

Tak Habis Pikir

Juni 11, 2023
Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Untuk Engkau yang Merindu Bahagia

Juni 09, 2023
Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Terhubung tapi Terasing: Mengungkap Kesepian akibat Media Sosial di Era Kapitalisme Liberalisme

Oktober 02, 2025

Popular Post

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat dan Suburnya Ketidakadilan, Dampak Sistem Sekuler

Maret 10, 2026
Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Aneh, MBG tetap Jalan Meski di Bulan Ramadan

Maret 10, 2026
Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Kekerasan Aparat, Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Maret 08, 2026

Populart Categoris

Tanah Ribath Media

Tentang Kami

Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Contact us: contact@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 Tanah Ribath Media All Right Reserved
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Advertisement
  • Contact Us