SP
Timpang Jumlah Korban Pascabencana; Salahnya di Mana?
TanahRibathMedia.Com—Dari BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana, terdapat 94 pengungsi bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah meninggal dunia di pengungsian. Jumlah korban meninggal tersebut dinyatakan lebih banyak daripada jumlah korban yang terdampak langsung yang berjumlah 48 jiwa. Menindaklanjuti situasi memprihatinkan tersebut, DPR RI mendorong audit terhadap kondisi pengungsian pascagempa besar di NTT (news.republika.com, 17-9-2026).
Kenapa bisa demikian? Tingginya angka kematian di pengungsian pascagempa tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya fasilitas sampai minimnya tingkat layanan medis yang mendesak di tengah cuaca ekstrem ini. Cuaca di tempat tersebut sangat panas saat siang dan sangat dingin di malam hari. Menyebabkan banyak pengungsi yang tidak dapat bertahan di tengah situasi itu.
Dengan kondisi yang demikian, menjadi bukti yang lebih jelas bahwa kapasitas penanganan pemerintah terhadap korban gempa di sana sangatlah kurang. Ditambah kurangnya peran negara di dalam penanggulangan bencana saat itu. Saat ini, negara menjalankan sistem sekuler, sehingga peran negara sebagai Ra'in bagi rakyatnya tidak berjalan optimal. Sehingga menyebabkan banyak rakyat yang sengsara oleh negara yang seharusnya menaungi rakyat. Apalagi bagi korban terdampak bencana, mereka lebih sengsara lagi.
Tidak terjadi demikian jika negara menjalankan sistem pemerintahan Islam. Syariat Islam memandang bahwa tiap jiwa itu wajib untuk dilindungi. Hak dasar kesehatan setiap individu di negara itu haruslah dijamin oleh negara yang menaunginya.
Islam mewajibkan pemegang kekuasaan untuk menjalankan fungsi ri'ayah yang mengatur dan juga memberikan perlindungan secara optimal dan maksimal. Sistem kesehatan ini dalam Islam dilandasi oleh sistem ekonomi Islam dan sistem keuangan Islam yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup setiap individu rakyat secara optimal. Jadi, kondisi memprihatinkan tersebut, tidak lain karena negara yang lalai terhadap kebutuhan hidup rakyatnya.
Sarah Fauziah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
Via
SP
Posting Komentar