OPINI
Merawat Kenangan, Menjemput Ridha Allah
Oleh: Eka Sulistya
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Ada masa yang tak mungkin kembali, ada kehilangan yang tak bisa diganti, dan ada kenangan yang diam-diam membuat hati untuk berhenti sejenak. Di tengah perjalanan hidup yang semakin dewasa, sesekali kita ingin kembali ke masa ketika beban terasa ringan, tawa begitu mudah tercipta, dan kebahagiaan hadir dari hal-hal sederhana.
Dahulu, kita mungkin tak pernah menyangka bahwa kebersamaan dengan orang tua, bermain bersama teman, atau duduk menikmati obrolan keluarga akan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Kita menjalaninya sebagai rutinitas biasa. Namun, setelah waktu berlalu dan sebagian orang terkasih telah mendahului kita, barulah terasa bahwa momen sederhana itu menyimpan begitu banyak makna.
Masa lalu memang memiliki tempat tersendiri di hati. Ada senyum yang muncul ketika mengingatnya, tetapi ada pula air mata yang jatuh karena menyadari bahwa semuanya tak mungkin terulang kembali. Waktu terus bergerak, usia bertambah, dan kehidupan membawa kita pada tanggung jawab yang semakin besar.
Kini, kita bukan lagi anak-anak yang hanya memikirkan permainan. Ada keluarga yang harus dijaga, pekerjaan yang harus ditunaikan, anak-anak yang perlu dididik, serta amanah kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan. Hari-hari dipenuhi kesibukan hingga terkadang kita lupa bahwa usia yang berkurang berarti kesempatan hidup pun semakin terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, mengenang masa lalu bukanlah sesuatu yang keliru. Kenangan bisa menjadi pengingat akan nikmat Allah, menguatkan rasa syukur, dan menyadarkan kita tentang berharganya waktu. Namun, jangan sampai hati terlalu sibuk menoleh ke belakang hingga kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan hari ini.
Sebagai seorang Muslim, kita perlu memiliki cara pandang yang benar terhadap waktu dan kehidupan. Dunia bukan sekedar tempat singgah untuk mengumpulkan cerita, tetapi juga ladang amal untuk meraih ridha Allah Swt. Setiap fase kehidupan memiliki amanahnya sendiri. Masa muda, masa dewasa, hingga usia senja tetap menjadi kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.
Allah Swt. berfirman:
“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (TQS. Al-'Ashr: 1–3)
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar rangkaian hari yang berlalu. Ada pertanggungjawaban di balik setiap kesempatan yang Allah berikan. Kerugian bukan hanya ketika kita kehilangan orang yang dicintai atau tak mampu mengulang kebahagiaan masa lalu, melainkan juga ketika waktu berlalu tanpa diisi dengan iman dan amal saleh.
Karena itu, kenangan seharusnya mengantarkan kita pada perenungan, bukan sekadar kerinduan. Jika dahulu orang tua membesarkan kita dengan penuh kasih, kini kita bisa meneruskan kebaikan melalui doa dan bakti yang masih dapat dilakukan. Jika masa muda pernah dipenuhi kelalaian, hari ini masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika banyak waktu terbuang, jangan biarkan sisa usia berlalu tanpa arah.
Begitu pula ketika memasuki usia senja. Berkurangnya tenaga bukan berarti berakhirnya kesempatan beramal. Lisan masih bisa digunakan untuk berzikir dan menasihati dalam kebaikan. Hati masih bisa diperbaiki. Ilmu masih bisa dibagikan. Bahkan, kesabaran menghadapi keterbatasan pun dapat menjadi jalan meraih pahala.
Jangan biarkan kerinduan kepada masa lalu mencuri kesempatan untuk memperindah hari ini. Jadikan setiap kenangan sebagai pelajaran, setiap kehilangan sebagai pengingat kefanaan, dan setiap pergantian usia sebagai dorongan untuk semakin taat kepada Allah.
Sebab, perjalanan hidup bukan tentang seberapa indah cerita yang pernah kita miliki, melainkan bagaimana kita mengisi setiap fase dengan ketaatan. Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah berapa panjang kenangan yang kita tinggalkan, tetapi seberapa banyak amal yang menjadi bekal ketika kembali kepada Allah.
Masa lalu telah menjadi bagian dari takdir. Hari ini adalah kesempatan untuk beramal, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang harus kita persiapkan. Maka, mari terus melangkah. Bukan dengan melupakan kenangan, melainkan dengan menjadikannya pengingat bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan berbuat baik tak selayaknya disia-siakan. Semoga Allah memberkahi usia kita, menerima amal-amal kita, dan husnul khatimah saat tiba waktunya kembali kepada-Nya.
Via
OPINI
Posting Komentar