OPINI
Kebun Zaitun Menjadi Incaran Israel: Belum Puaskah Mereka Mendzolimi Rakyat Gaza ?
Oleh: Dwi R Djohan
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Bulan Oktober ini seharusnya menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Gaza. Bulan di mana mereka akan mengadakan panen buah Zaitun musiman. Namun, hal pahit harus mereka rasakan. Para pemukim Israel melakukan tindakan pogrom yaitu serangan kekerasan besar-besaran yang dilakukan oleh massa terhadap kelompok minoritas yang didukung, disetujui atau dibiarkan secara pasif oleh pihak berwenang. Mereka melakukan intimidasi pada para petani Zaitun.
Dimulai pada bulan sebelumnya yaitu akhir September (cnnindonesia.com, 28-9-2026), menjelang panen, buldoser milik militer Israel meratakan kurang lebih 31 ribu meter persegi lahan milik petani Palestina di kota Beit Rima, barat laut Ramallah yang mengakibatkan lebih dari 400 pohon zaitun hancur. Bahkan menurut salah satu petani, dia menyaksikan sendiri kalau buldoser itu menghancurkan bagian atas salah satu pohon sebelum mencabut akarnya secara penuh dari tanah.
Militer Israel berdalih bahwa mereka melakukan pembersihan lahan zaitun untuk mencegah ancaman keamanan atau penyergapan terhadap pasukan. Namun, hal tersebut dibantah tegas oleh kelompok hak asasi manusia Palestina. Mereka menganggap militer Israel melakukan penghancuran tersebut dengan niat untuk merampas pendapatan petani Palestina dari penjualan zaitun dan minyak zaitun. Zaitun sendiri, menurut Kementerian Pertanian Otoritas Palestina, merupakan tulang punggung pertanian Palestina, karena menyumbang sekitar 8 persen dari PDB juga memberikan lapangan kerja lebih dari 60.000.
Aksi penyerangan ini dilakukan oleh puluhan para pemukim Israel bertopeng. Mereka melempari batu menggunakan ketapel dan membakar pohon. Mengutip dari Aljazeera.com (16-10-2026) serangan ini tidak hanya menimbulkan korban pada warga sipil Palestina saja tetapi juga salah satu foto jurnalis lepas Amerika Serikat dari The Washington Post bernama Heidi Levine dan sebuah delegasi Eropa yang mengunjungi kawasan tersebut selama masa panen Zaitun. Menurut saksi mata, Levine saat tergeletak di tanah dengan posisi telah dikeliling orang-orang bertopeng yang memukulinya dengan pentungan, merampoknya, menariknya berdiri, memukulinya kembali lalu menendangnya. Padahal pada waktu itu, Levine menggunakan rompi pelindung bertuliskan “PRESS” di bagian depan dan belakang.
Tentara Israel baru datang setelah serangan itu dan malah melemparkan tembakan dan melepaskan gas air mata kepada warga sipil Palestina. Sehingga bisa dikatakan hadirnya tentara Israel ini sia-sia bahkan tidak berguna. Bukannya mencari pelaku atas serangan ini, malah ikutan menyerang penduduk Palestina. Dengan kata lain, bisa jadi ini adalah setingan dari pemerintahan Israel itu sendiri. Terlihat dari tindakan intimidasi ini meluas dari lahan pertanian hingga ke rumah-rumah dan kendaraan milik warga Palestina, sehingga seolah-olah ingin menciptakan tekanan pada masyarakat agar segera pindah. Dengan kepindahan itu akan digunakan oleh pemerintahan Israel dan mengubahnya menjadi permukiman Israel sendiri.
Bagaimana reaksi dunia? Seperti yang sudah kita duga bahwa dunia akan bereaksi jika ada orang asing yang menjadi korban, tetapi kalau orang Palestina sendiri, mereka beranggapan bahwa itu adalah resiko menjadi penduduk Palestina. Astaghfirullah.
Melansir dari economictimes.indiatimes.com (18-10-2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, memberikan komentar setelah beredarnya video penyerangan terhadap Levine. Marco menyatakan keprihatinannya dan akan mencari informasi terkait peristiwa kekerasang itu. UE (Uni Eropa) sendiri juga mengecam keras atas aksi penyerangan terhadap delegasinya dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku penyerangan serta langkah konkret Pemerintahan Israel agar hal serupa tidak terjadi (metrotvnews.com, 18-10-2026).
Melihat fakta di atas semakin menyakinkan kita bahwa derita rakyat Palestina oleh Israel masih terus berlanjut. Tidak ada perubahan disana. Tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Israel sendiri tetapi juga rakyat sipil mereka. Semakin brutal dan tidak berprikemanusiaan. Tujuannya satu, yaitu ingin merusak kondisi ekonomi rakyat Palestina sehingga memaksa mereka pergi dari Tanah Palestina secara sukarela. Adapun upaya mereka menyerang jurnalis dan aktivtis adalah untuk menghentikan mereka dari membersamai rakyat Palestina sehingga kekejaman Israel tidak terekspos kepada dunia luar. Bahkan berharap negara lain tidak mengirimkan delegasi mereka ke Palestina dengan dalil keamanan jiwa mereka sendiri.
Reaksi dunia pun tidak bisa diharapkan. Mereka hanya bereaksi saat warga sipil, jurnalis atau aktivis dari negara mereka menjadi korban. Dan reaksi mereka hanya sekedar kecaman seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada tindakan nyata kepada Pemerintahan Israel, meski tahu bahwa kebrutalan Israel terhadap Palestina telah mengundang kebencian warga dunia. Belum lagi para penguasa negeri muslim terutama negara-negara Arab yang hanya berdiam diri saat melihat itu semua. Bahkan ada yang tetap melakukan kerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel sekaligus menjadi kaki tangannya.
Palestina hanya butuh hadirnya kesatuan umat dalam naungan Khilafah yang bergantung pada Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah kepimpinan khilafahlah satu-satunya cara menghentikan kedzaliman Israel dan Amerika Serikat.
Wallahu a’lam.
Via
OPINI
Posting Komentar