OPINI
Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Oleh: Sakinah Marwah
(Muslimah Ideologis)
TanahRibathMedia.Com—Sejumlah peneliti AI kembali memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan “ledakan kecerdasan” atau intelligence explosion, yakni kondisi ketika AI mampu meningkatkan kemampuannya sendiri secara cepat. Kekhawatiran terhadap AI bukan sekadar teori. "Bapak AI" dunia: Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio menyebutkan “ledakan kecerdasan” dipicu oleh otomatisasi penelitian dan pengembangan AI. Jika AI semakin mampu melakukan R&D (Research and Development) terhadap AI itu sendiri, perkembangan teknologi dapat berlangsung sangat cepat dan berpotensi melampaui kemampuan manusia untuk mengawasinya (cnndonesia.com, 29-9-2026).
Dari sini setidaknya ada tiga kelompok risiko. Berupa ancaman biologis dan siber akibat kemampuan AI yang semakin maju. Selanjutnya hilangnya kendali dan keterlibatan manusia apabila sistem AI berkembang terlalu cepat. Serta resiko konflik atau perang antarnegara karena AI dapat mempercepat kemampuan teknologi dan persaingan strategis.
Kekhawatiran terhadap AI bukan sekadar bayangan tentang robot yang suatu hari mengambil alih dunia semata. Ancaman yang lebih nyata justru sudah terlihat. Agen AI berpotensi mengeksploitasi celah keamanan, mencuri uang dan identitas, memanipulasi pasar, hingga mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi. Bahkan, jutaan agen AI dapat bekerja secara serentak dan terus-menerus.
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Ia mampu membantu manusia menganalisis data, menemukan pola penyakit, mempercepat riset, hingga mempermudah berbagai pekerjaan. Namun, di balik kecanggihan tersebut, muncul kekhawatiran yang tidak kalah besar, bagaimana jika kecerdasan yang diciptakan manusia justru berkembang melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya?
Di sisi lain, pemerintah berbagai negara juga menghadapi kesenjangan antara cepatnya perkembangan AI dan kemampuan regulasi untuk mengimbanginya. Teknologi bergerak jauh lebih cepat, sementara aturan membutuhkan waktu untuk dirumuskan dan diterapkan.
Inilah wajah AI sebenarnya, membawa harapan sekaligus kekhawatiran.
Teknologi Maju, Tetapi untuk Apa?
Pada dasarnya, teknologi adalah hasil kreativitas dan kemampuan berpikir manusia. AI pun demikian. Persoalannya bukan semata-mata pada kecanggihannya, tetapi untuk tujuan apa ia dikembangkan dan siapa yang mengendalikannya. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk membantu dokter menemukan penyakit lebih cepat, tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk membuat informasi palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. AI dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan serangan siber secara masif.
Bahkan, kekhawatiran terhadap agen-agen AI yang mampu bekerja secara mandiri muncul karena teknologi tersebut berpotensi melakukan tindakan dalam skala dan kecepatan yang sulit ditandingi manusia. Karena itu, persoalan AI sesungguhnya bukan hanya persoalan teknologi. Ia adalah persoalan manusia, nilai, dan sistem yang mengarahkan teknologi tersebut.
Di sinilah problem mendasarnya. Jika AI dikembangkan dalam peradaban yang menjadikan keuntungan, persaingan, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi sebagai pertimbangan utama, maka kecanggihannya sangat mungkin diarahkan untuk kepentingan tersebut. Bahkan ketika bahaya telah diketahui, perlombaan teknologi dapat terus berlangsung karena setiap negara dan korporasi khwatir tertinggal dari pesaingnya. Fenomena kesenjangan antara perkembangan AI dan kesiapan kebijakan menunjukkan persoalan tersebut.
Maka, sekadar membuat regulasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Sebab, regulasi dapat berubah, sementara orientasi kehidupan yng melandasi pemanfaatan teknologi tetap sama.
Islam Memandang Teknologi sebagai Sarana
Islam tidak memusuhi kemajuan teknologi. Justru Islam memuliakan akal yang diberikan Allah kepada manusia agar digunakan untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya, menggali ilmu, dan memakmurkan bumi sebagai khalifah.
Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (TQS al-Baqarah: 30)
Karena itu, Islam tidak menolak hasil pemikiran dan kreativitas manusia. Dalam khazanah Islam, perlu dibedakan antara hadlarah, yaitu pemikiran dan pandangan hidup yang bersumber dari suatu ideologi dan wajib terikat dengan akidah Islam, dengan madaniyah, yaitu bentuk-bentuk benda atau teknologi yang bersifat universal dan pada asalnya boleh dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
Sirah Nabawiyah pernah menggambarkan bahwa Rasulullah saw. pernah menerima usulan Salman al-Farisi untuk menggali parit sebagai strategi pertahanan ketika menghadapi pasukan Ahzab pada tahun 5 H. Strategi ini dikenal di Persia dan belum lazim digunakan oleh bangsa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa asal suatu teknologi bukan satu-satunya ukuran penerimaannya baik manfaat, karakteristik, dan kesesuaiannya dengan syariat islam wajib diperhatikan.
AI sebagai teknologi dapat dimanfaatkan. Namun, informasi, tujuan, batasan, dan keputusan yang dihasilkan melalui AI tidak boleh dilepaskan dari standar halal dan haram. AI tidak memiliki akidah dengan sendirinya. Ia memproses data, model, tujuan, dan instruksi yang diberikan manusia. Karena itu, manusialah yang menentukan untuk apa teknologi tersebut digunakan dan nilai apa yang menjadi batasnya. Jika manusia memiliki akidah yang kokoh dan tunduk kepada syariat Allah, kecanggihan AI dapat diarahkan untuk kemaslahatan. Baik berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian, pertanian, mitigasi bencana, dan berbagai kebutuhan umat.
Sebaliknya, ketika teknologi dilepaskan dari nilai agama dan hanya diarahkan oleh kepentingan materi, kekuasaan, atau persaingan, kecanggihannya dapat berubah menjadi alat kerusakan. Deepfake, manipulasi informasi, serangan siber, pengawasan massal, hingga perang berbasis teknologi adalah contoh bagaimana teknologi dapat menjadi ancaman ketika tidak dibatasi nilai yang benar.
Bukan Sekadar Mengendalikan AI, tetapi Mengendalikan Arah Kehidupan
Maka, kekhawatiran terbesar bukanlah apakah AI akan semakin pintar. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah siapa yang menentukan arah kecerdasan itu dan nilai apa yang menjadi pengendalinya?
Islam tidak cukup hanya mengajarkan manusia agar “melek teknologi”. Islam membentuk manusia yang memiliki kesadaran bahwa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Negara pun tidak boleh menyerahkan arah perkembangan teknologi kepada kepentingan korporasi atau perlombaan antarnegara.
Negara dalam Islam berkewajiban mengatur pemanfaatan teknologi berdasarkan syariat. Mendorong penelitian dn inovasi yang bermanfaat, mencegah teknologi digunakan untuk kemaksiatan dan kejahatan, serta memastikan kemajuan teknologi benar-benar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dengan demikian, solusi terhadap kekhawatiran AI bukan sekadar membuat aturan baru setiap kali teknologi berkembang. Yang dibutuhkan adalah sistem kehidupan yang menjadikan wahyu Allah sebagai standar dalam mengatur manusia, ilmu, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan negara.
Sebab, teknologi secanggih apa pun tetap berada di tangan manusia. Jika manusia kehilangan arah, kecanggihan hanya akan memperbesar kemampuan untuk berbuat kerusakan. Karena itu, persoalan AI pada akhirnya membawa kita pada persoalan yang lebih besar. Sistem kehidupan seperti apa yang akan mengarahkan kecerdasan manusia?
Islam memiliki jawabannya. Bukan menghentikan kemajuan teknologi, tetapi menundukkan kemajuan itu pada ketundukan kepada Allah. Sebab kecerdasan tanpa iman dapat menjadi alat kehancuran, sementara kecerdasan yang diarahkan syariat dpat menjadi sarana kemaslahatan bagi umat manusia. Bukan “AI berbahaya sehingga harus ditolak”, melainkan “AI adalah teknologi yang harus diarahkan oleh manusia yang tunduk kepada syariat dan berada dalam sistem yang menjadikan syariat sebagai standar hidup.”
Dengan syariat, kecanggihan AI tidak dibiarkan berkembang tanpa arah. Negara mendorong penguasaan teknologi yng dibutuhkan umat, sekaligus mencegah pemanfaatannya untuk kemudaratan. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan penjagaan akidah, kehormatan manusia, keamanan masyarakat, dan kemaslahatan umat.
Wallahua'lam.
Via
OPINI
Posting Komentar