OPINI
Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Kehidupan manusia semakin berubah seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). AI telah menjadi harapan manusia dalam aktivitas dan pekerjaan. Kecanggihan ini menghadirkan kemudahan dan efisiensi. Sehingga para peneliti kecerdasan buatan (AI) merasa kawatir, termasuk Geoffrey Hinton, Bapak AI dunia, menerbitkan riset agar pemerintah mengantisipasi dalam menghadapi "ledakan kecerdasan" AI.
AI memang memberi manfaat besar bagi manusia, seperti kemajuan di sektor kesehatan dan teknologi. Akan tetapi, ketergantungan yang berlebihan pada AI berpotensi menimbulkan bahaya besar apabila disalahgunakan, mulai dari risiko biologis dan serangan siber, hilangnya peran serta kendali manusia, hingga memicu konflik antarnegara (CNN Indonesia, 30 September 2026).
Teknologi dan Peradaban Islam
Kehadiran teknologi AI telah menghadirkan berbagai kemudahan, salah satunya adalah kemampuannya dalam mengolah data dan informasi secara cepat. Mempermudah kehidupan manusia yang perlu cepat dan penuh persaingan. Namun dibaliknya, terdapat bahaya mengintai manusia. Ketergantungan pada teknologi AI membuat manusia terbiasa menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis makin melemah.
Teknologi apapun, termasuk kecerdasan buatan, pada dasarnya hanyalah alat untuk memudahkan kehidupan manusia. Jika digunakan untuk kebaikan, teknologi dapat membawa kemudahan dan manfaat. Sebaliknya, jika disalahgunakan, teknologi bisa saja menjadi alat kejahatan.
Oleh sebab itu ledakan kecerdasan buatan (AI) harus dikendalikan dengan akidah dan Sistem Islam, agar tidak disalahgunakan dan membahayakan manusia itu sendiri.
Memahami Hadarah dan Madaniyah.
Akal yang Allah berikan kepada manusia adalah kemuliaan, harusnya digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dan menjadikan dirinya sebagai khalifah di muka bumi, bukan sekadar mengelola atau menjaga bumi, melainkan menjalankan perintah Allah dengan menaati Syariat-Nya. Dalam kehidupan yang serba abu-abu, umat Islam harusnya memahami bentuk hadarah dan madaniyah. Agar dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dipenuhi ketaatan kepada Allah. Hadarah adalah: sekumpulan pemikiran serta pandangan hidup. Jadi selain hadarah Islam, tidak boleh diambil. Sedangkan madaniyah adalah: sebuah bentuk benda yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Jadi, madaniyah juga bisa sebagai teknologi AI, di mana manusia bisa mengambilnya sebagai alat bantu belajar, termasuk kecerdasan buatan. Namun, perlu diperhatikan, apakah ada pemikiran yang bertentangan dengan Islam di balik pengembangannya serta memastikan penggunaannya tidak bertentangan dengan akidah dan Syariat Islam.
AI merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi yang diciptakan oleh manusia. Oleh sebab itu, perlu didetili apakah informasi dan pemikiran yang mendasari pengembangannya, dapat memuat pandangan hidup tertentu selain pandangan hidup Islam. Hal tersebut pada akhirnya turut memengaruhi pemikiran umat Islam dalam menentukan halal dan haram akibat paham sekularisme. Tenologi hanyalah alat untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tetapi, jika tidak dibarengi dengan keimanan dan ketundukan pada syariat akan mendatangkan mudarat bagi manusia itu sendiri. Seperti halnya kafir barat, teknologi digunakan untuk memusnahkan manusia yang menghalangi tujuannya, sehingga mendatangkan bahaya dan kerusakan bagi umat manusia.
Sejarah peradaban Islam mencatat, para ilmuwan muslim di masa keemasan tidak memisahkan antara sains dan ketaatan kepada Allah Swt. Sains dipelajari berlandaskan akidah Islam, sehingga pengembangannya terikat dengan hukum Syara'. Oleh sebab itu, teknologi bukan sekadar untuk kemajuan dan kemaslahatan manusia, akan tetapi siapa yang mengendalikan dan ideologi apa yang mendasarinya. Sehingga, ledakan kecerdasan AI tidak menjadi ancaman dan bencana bagi manusia, tetapi menjadi kemajuan teknologi yang dapat dinikmati keberadaannya dengan penuh rasa syukur kepada Rabb-nya.
Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar