OPINI
Just Dunyaa: Tapi Kenapa Bisa Secapek Ini?
Oleh: Lekha Ummu Mahira
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Dalam kehidupan ini, manusia punya kebutuhan dgn beragam rutinitas, seperti: bekerja, mengurus rumah dan anak, bisnis, dan sebagainya. Padahal apa yg kita lakukan ini adalah ha-hal yang memang harus dilakukan. Tapi setelah semuanya dilakukan, kenapa secapek ini, selelah ini?
Ternyata rasa lelah dalam melakukan rutinitas secara berulang-ulang dapat dirasakan oleh semua orang. Rasa lelah yang berkepanjangan ini dalam ilmu medis disebut dengan istilah ‘burnout’ (stres akibat lelah yang berkepanjangan). Karena tuntutan dan tekanan yang berlangsung terus-menerus membuat ketidakseimbangan terhadap Hormon. Jika dibiarkan dapat memicu berbagai gangguan serius pada fisik dan mental, sampai pada tindakan bunuh diri.
Sebagaimana yang dialami, Seorang mahasiswi berinisial AA (21), warga Perumahan Kartini I, Kelurahan Sungai Harapan, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, ditemukan meninggal dunia di kediamannya pada Rabu (23-9-2026). Korban diketahui tengah menghadapi persoalan terkait penyelesaian skripsi. Jadi burnout bukan sekadar “capek karena banyak aktivitas”. Tetapi tenaga yang terasa terkuras meskipun sudah beristirahat, kehilangan semangat, dan mulai merasa sulit menjalani aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan.
Akar Masalah
Rutinitas yang membentuk manusia tidak lepas dari paham yang diyakini umat saat ini, yakni sekularisme atau pemahaman yang memisahkan agama dalam rutinitas kehidupan. Paham tersebut dapat mengeluarkan manusia dari rutinitasnya yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Fitrah secara sederhana dapat difahami sebagai keadaan dan kecenderungan dasar yang Allah tetapkan pada manusia, seperti pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan naluri-nalurinya. Ketika kehidupan manusia diatur dengan cara yang bertentangan dengan aturan Allah, manusia bisa mengalami ketidakseimbangan. Banyak yang dikejar, tetapi ketenangan dan kebahagiaan justru sulit didapatkan.
Pada akhirnya, sulit menikmati rutinitasnya. Rutinitas yang kaku dan membosankan, di mana semua hal beruntun sama persis, jam sama, caranya sama, jalannya sama, sedangkan otak butuh hal baru untuk tetap terangsang. Kalau stagnan, lama-lama otak jadi mati rasa, karena sudah hafal ritmenya, merasa stagnan/tidak berkembang, tidak ada momen kecil yang dihargai, dan rutinitas bisa terasa melelahkan ketika hidup hanya dijalani sebagai kewajiban yang harus diselesaikan, tanpa memahami untuk apa semua itu dilakukan. Sebenarnya rutinitas tidaklah selalu buruk, hanya saja yang membuat terasa berat itu ketika kehidupan hanya dijalani sebagai sekadar menuntaskan kewajiban mulai dari aktivitas ibadah yang harus diselesaikan, bangun tidur, ngurus anak dan rumah itu karena keharusan. Jadi semuanya terasa seperti formalitas saja.
Selain itu sistem kapitalisme, membentuk pola hidup yang berorientasi pada materi dan pencapaian, kebahagiaan sering dikaitkan dengan berprestasi dalam pendidikan, punya penghasilan tinggi, memiliki pekerjaan atau bisnis yang sukses punya rumah, kendaraan, dan berbagai fasilitas mendapatkan pengakuan dari orang lain mencapai standar kesuksesan. Ini bisa diperparah dari media sosial yang menciptakan narasi perlombaan kehidupan untuk membandingkan status sosial dan standar keberhasilan harus tampak selalu berada satu langkah di depan dari yang lainnya. Bukan lagi sekedar untuk membandingkan diri dengan tetangga, tetapi untuk membandingkan diri dengan ratusan bahkan ribuan orang setiap hari.
Kata bahagia sulit untuk dirasa, apa yang diraih dan apa yang dimiliki masih dianggap masih kurang. Sebab, "cukup" tidak ditentukan oleh kebutuhan, tetapi perbandingan dan keinginan. Keinginan terus dipacu melalui iklan, tren, dan gaya hidup, yang berubah bukan hanya isi dompetnya tetapi standar cukup di kepala. Sehingga belanja bukan karena butuh tetapi karena ingin merasa senang, mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal, liburan atau hiburan terus diagendakan sebagai pelarian dari tekanan hidup. Mengukir kebahagiaan dari apa yang bisa dimiliki dan dinikmati, maka kebutuhan dan keinginan sulit untuk dibedakan, dan begitulah gaya hidup hedonisme yg dibentuk oleh sistem kapitalisme saat ini.
Solusi dan Pandangan Islam
Beberapa prinsip dalam Islam yang bisa dijadikan panduan hidup di antaranya:
• Memahami hakikat dunia sebagai amanah dan ujian.
Dalam Islam, dunia bukanlah tujuan akhir kehidupan, tetapi tempat manusia menjalankan amanah, ujian dan mempersiapkan bekal menuju akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk 67: 2)
Apa pun yang Allah titipkan kepada manusia pada hakikatnya adalah amanah sekaligus ujian. Allah melihat bagaimana manusia menggunakan, menjaga, dan mempertanggungjawabkannya.
seperti, Kekayaan, pekerjaan, pendidikan, keluarga, kesehatan, kesulitan maupun kesenangan semuanya menjadi bagian dari ujian kehidupan.
- Menjadikan dunia sebagai sarana.
Oleh karena itu amanah bukan hanya sesuatu yang menyenangkan. Sebab tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari kebahagiaan dunia, kekayaan, kesuksesan, atau memenuhi keinginan. Melainkan tujuan utama hidupnya adalah beribadah kepada Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: 56)
Islam tidak melarang menikmati dunia. Artinya, manusia boleh bekerja, memiliki harta, berbisnis, menikmati makanan, memiliki rumah yang baik, dan merasakan kebahagiaan—selama semuanya berada dalam batas yang Allah halalkan dan tidak melalaikan kewajiban. Berbagai kenikmatan dunia seharusnya dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah, Ibadah bukan hanya shalat, puasa, atau membaca Al-Qur'an, tetapi seluruh aktivitas yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah dapat menjadi ibadah: bekerja, mengurus keluarga, belajar, berdagang, dan aktivitas lainnya.
- Memahami kebahagiaan berasal dari ketenangan hati.
Dalam Islam, bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah, memiliki banyak harta, atau selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi hakikat ebahagiaan itu ketika hati dekat dengan Allah, hidup berada dalam ketaatan, dan seseorang mendapatkan ridha-Nya. Ketenangan tidak semata-mata ditentukan oleh keadaan luar. Contohnya, seseorang bisa memiliki banyak hal tetapi hati nya tetap gelisah, sementara orang yang sederhana dapat memiliki ketenteraman karena hatinya bergantung kepada Allah. Dan Islam juga tidak menjanjikan kehidupan yang selalu mudah. Manusia tetap akan menghadapi ujian, kehilangan, kelelahan, dan kesulitan.
Namun seorang Muslim memiliki iman, sabar, tawakal, dan keyakinan kepada Allah sebagai bekal menghadapi semuanya.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (TQS. Al-Insyirah: 5–6)
- Menikmati dunia dengan skala prioritas.
Islam tidak melarang seseorang menikmati rezeki, memiliki rumah, bekerja, berbisnis, berkumpul dengan keluarga, atau menikmati hal-hal yang halal. Bukan semua yang kita inginkan harus dikejar dan dimiliki. Ada yang wajib untuk di penuhi, ada yang mubah untuk di tunda atau dipilih, dan ada juga yang harus ditinggalkan ketika bertentangan dengan syariat atau melalaikan kewajiban.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
الإيمان بضعٌ وسبعون – أو بضع وستون – شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan laa ilaaha illallah, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.” (HR. Muslim no. 35)
Islam mengajarkan bahwa amalan-amalan itu tidaklah sama satu dengan yang lainnya, dan setiap amalan memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Sehingga seorang muslim dituntut untuk lebih bijak dan cerdas dalam memilih amalan mana yang harus ia utamakan.
Karena kualitas amal lebih utama daripada kuantitas.
Peran Negara terhadap Rakyat
Peran negara dalam Islam tidak hanya mengatur agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menciptakan kehidupan yang memungkinkan manusia menjalankan ketaatan kepada Allah dan bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar rakyat tidak terbengkalai, seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, serta keamanan. Menciptakan sistem ekonomi yang adil, agar kekayaan tidak hanya berputar dikalangan tertentu, dengan mencegah praktik yang merugikan masyarakat serta memastikan hak-hak kepemilikan terlindung. Menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam orientasi materi lewat pendidikan dan pembinaan, membangun pemahaman bahwa kebahagiaan dan keberhasilan dari ketakwaanddan amal. Dalam kehidupan ekonomi dan pekerjaan, negara berperan memastikan tidak terjadi kezaliman—misalnya hak pekerja diabaikan atau manusia diperlakukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan.
Jadi, peran negara bukan membuat manusia bebas dari semua masalah, melainkan memastikan kehidupan masyarakat berjalan dengan keadilan, pemenuhan kebutuhan, perlindungan hak, dan aturan yang sesuai dengan prinsip Islam.
Via
OPINI
Posting Komentar