OPINI
Israel Klaim Tepi Barat, Bukti Solusi Dua Negara Hanya Ilusi dan Kebohongan
Oleh: Rini Rahayu
(Aktivis Muslimah Yogyakarta)
TanahRibathMedia.Com—Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir yang dengan arogannya mengklaim bahwa seluruh wilayah administratif di Tepi Barat adalah milik Israel, seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh negara-negara Islam untuk bersatu membebaskan Palestina.
Padahal, berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga area. Area A berada di bawah kendali penuh Otoritas Palestina, Area B di bawah kendali sipil Palestina dan keamanan Israel, dan Area C yang mencakup 60% wilayah Tepi Barat di bawah kendali penuh Israel (metrotvnews.com, 3-10-2026).
Bagi Ben-Gvir, pembagian itu tidak ada artinya. Baginya Area A, B, dan C semuanya adalah milik Zionis. Ia bahkan mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina. Ini bukan sekedar retorika politik seorang menteri ekstremis. Ini adalah cita-cita asli gerakan Zionisme yaitu menguasai seluruh tanah Palestina dari sungai ke laut untuk mewujudkan Israel Raya.
Allah Swt. telah memberi peringatan dengan sangat jelas dalam firman-Nya.
Artinya: "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, wanita, dan anak-anak..." (TQS. An Nisa ayat 75)
Ayat ini menjadi legitimasi kuat bahwa membantu umat Muslim yang dizalimi di tanah suci Palestina adalah kewajiban iman.
Kejahatan yang Sistemik
Apa yang terjadi di Tepi Barat tidak bisa dipisahkan dari apa yang terjadi di Gaza. Ini adalah satu paket kejahatan yang sistemik. Di Gaza, genosida dan penghancuran total terus berjalan. Di Tepi Barat, perampasan rumah, pengusiran petani zaitun, pembakaran puluhan masjid, penyerbuan Masjid Ibrahimi di Hebron oleh Ben-Gvir bersama ratusan pemukim bersenjata, hingga pendudukan dan penodaan komplek Al-Aqsa terjadi setiap hari.
Semua itu, sangat nyata memperlihatkan kejahatan besar Zionis Israel kepada umat Islam. Jika Tepi Barat yang dalam dokumen internasional masih diakui sebagai wilayah Palestina saja sudah diklaim sepihak sebagai milik Israel, lalu di mana sisa ruang untuk negara Palestina?
Di sinilah kebohongan solusi dua negara terlihat dengan sendirinya. Semuanya hanya ilusi yang tidak mungkin terjadi.
Hanya Ilusi dan Kebohongan
Solusi dua negara yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat beserta negara-negara Barat sekutunya, dan para penguasa negeri-negeri muslim hanyalah ilusi dan kebohongan yang diulang selama 30 tahun. Bagaimana mungkin akan ada dua negara, jika satu pihak secara terang-terangan menyatakan negara pihak lain adalah miliknya? Bagaimana mungkin akan ada perdamaian jika yang diajak berdamai adalah penjajah yang setiap hari merampas tanah dan melakukan penyerangan?
Amerika Serikat adalah penyokong utama Zionis. Jadi, mustahil bersikap adil dan membela Palestina. Puluhan tahun jalur diplomasi telah dilakukan, perundingan Oslo, Camp David, hingga konferensi di PBB tidak pernah ada satupun yang menghasilkan kemerdekaan. Yang dihasilkan justru perluasan permukiman ilegal, tembok apartheid, dan sungai darah.
Lebih menyakitkan lagi, di saat Ben-Gvir mengklaim Tepi Barat, para pemimpin negara Arab justru menyambangi Netanyahu, berjabat tangan, dan melakukan normalisasi. Ini adalah pengkhianatan besar terhadap perjuangan Palestina dan pengkhianatan terhadap Al-Aqsa. Mereka menjual darah syuhada Gaza demi mempertahankan kursi kekuasaan dan jaminan dari Washington.
Jihad dan Khilafah Satu-satunya Jalan
Kejahatan Zionis Israel tidak bisa ditolerir dan tidak akan selesai dengan kutukan, kecaman, apalagi solusi dua negara dan jalur diplomasi. Palestina adalah tanah kharajiyah, tanah milik umat Islam yang dirampas secara paksa. Hukum syariat atas tanah seperti ini adalah wajib dibebaskan dengan jihad fii sabilillah.
Namun, jihad ini tidak akan pernah terwujud dengan sempurna jika dilakukan secara parsial oleh kelompok-kelompok kecil yang terpisah, atau oleh tentara-tentara negeri muslim yang terbelah oleh sekat nasionalisme dan terikat oleh perintah penguasa yang menjadi antek Barat.
Jihad membutuhkan persatuan umat. Jihad membutuhkan satu komando.
Sejarah telah membuktikan, bahwa Palestina pernah dibebaskan dua kali. Pertama oleh Khalifah Umar bin Khattab, kedua oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Umar membuat perjanjian damai yang menjamin keamanan dan kebebasan beragama bagi penduduk Kristen serta tempat-tempat ibadah mereka. Sedangkan Shalahuddin membebaskan kota suci tersebut setelah dikuasai Pasukan Salib selama 88 tahun dan memulihkan fungsi Masjid Al-Aqsa dengan penuh kedamaian. Keduanya ada dalam naungan Khilafah Islamiyah, institusi pemersatu seluruh umat Islam.
Hari ini, negara-negara muslim seperti Mesir, Turki, Yordania, bahkan Indonesia mempunyai jutaan tentara dan persenjataan lengkap. Namun, semuanya diam karena tidak ada pemimpin yang mempersatukan umat untuk memberi perintah jihad. Karena itu, perjuangan menegakkan Khilafah menjadi sangat penting dan mendesak. Khilafah yang akan menyatukan seluruh kekuatan umat dan menggerakkan jihad untuk benar-benar membebaskan Al-Aqsa dan seluruh tanah Palestina.
Klaim Ben-Gvir adalah bukti final: Zionis tidak akan pernah berhenti sampai seluruh Palestina dirampas. Selama solusi dua negara masih dijadikan disuarakan, penjajahan akan terus langgeng.
Via
OPINI
Posting Komentar