OPINI
Genosida Belum Usai, Umat Butuh Perisai
Oleh: Yuke Octavianty
(Forum Literasi Muslimah Bogor)
TanahRibathMedia.Com—Genosida di Palestina sampai hari ini belum berakhir. Bahkan kondisinya makin parah. Segala solusi yang disajikan dunia telah terbukti gagal total menghentikan genosida.
Korban Terus Berjatuhan
Data paling menyedihkan datang dari Gaza. Departemen Pendidikan Palestina pada 7 Oktober 2026 menyampaikan, tak kurang dari 20.748 pelajar dan 1.058 guru tewas selama tiga tahun genosida sejak Thufan Al-Aqsha 7 Oktober 2023. Laporan Anadolu Agency juga menyebut puluhan ribu warga tewas dan ribuan lainnya luka berat.
Gaza dan Tepi Barat porak poranda. Hampir semua sendi kota lumpuh. Rumah-rumah hancur, sekolah hanya tersisa puing, sektor ekonomi mati total, fasilitas kesehatan dan infrastruktur rata dengan tanah. Warga sipil hanya bisa menatap kehancuran di depan mata.
Di saat yang sama, Zionis dengan curangnya mengklaim Tepi Barat sebagai hak miliknya. Padahal itu jelas melanggar kesepakatan. Serangan terus digencarkan tanpa belas kasihan. Tercatat 1.210 warga Palestina meninggal, 13.350 luka-luka, dan lebih dari 24.600 orang ditahan (metrotvnews.com, 7-10-2026).
Tiga tahun sudah berlalu sejak Thufan Al-Aqsha. Lebih dari 74.000 nyawa melayang. Itu adalah bukti nyata betapa jahatnya Zionis Israel. Rangkaian kejahatan ini bukanlah peperangan biasa. Ini adalah genosida dan aneksasi yang sudah dirancang matang. Amerika Serikat sebagai negara adidaya menjadi sutradara sekaligus pemain utama yang mengatur semua skenario. Inilah fakta peperangan ala kapitalisme sekuler. Konsepnya zalim, yakni merebut wilayah demi keuntungan materi. Siapa pun yang menghalangi, akan disingkirkan tanpa rasa kemanusiaan.
Sekolah, rumah sakit, pasar, dan semua fasilitas sipil yang selayaknya dilindungi dalam aturan perang, justru menjadi target utama. Tujuannya jelas, mengusir paksa penduduk asli agar Zionis bisa bebas mencaplok tanah Palestina. Ini adalah kejahatan perang yang dilegalkan oleh sistem kapitalisme. Dan tentu saja, kezaliman ini bentuk kebiadaban yang mutlak harus dilawan dan dihentikan.
Dunia Hanya Bisa Diam
Di tengah kebrutalan yang kasat mata, dunia memilih jalan aman. Hanya diam tak berdaya. Ironisnya, negeri-negeri muslim yang mestinya membela saudara seakidah, justru tak berkutik sedikit pun. Tidak ada perlawanan berarti.
Betapa lemahnya kepemimpinan dunia Islam saat ini. Mereka hanya menjadi boneka yang mudah dikendalikan Amerika. Alasannya hampir semua jantung ekonomi dunia, termasuk negara-negara muslim, terjerat utang dan kebijakan World Bank dibawah kendali kekuasaan Amerika Serikat. Ketergantungan finansial inilah yang melucuti kedaulatan negara muslim.
Posisi pemimpin muslim benar-benar seperti buah simalakama. Diam, korban di Palestina terus bertambah. Bergerak, kedaulatan dan kursi kekuasaan mereka terancam. Sementara solusi dua negara yang digaungkan dunia hanyalah ilusi kosong yang tak membuahkan hasil yang adil. Buktinya, Zionis terus berkhianat dan melanggar perjanjian berkali-kali.
Tak diragukan lagi, umat Islam tidak bisa lagi berharap pada solusi tambal sulam. Umat butuh kekuatan global yang hakiki untuk menghentikan genosida dan merebut kembali Palestina.
Islam, Perisai Kuat
Hanya Islam yang memiliki solusi tuntas. Islam memiliki mekanisme khas dan tegas untuk mengusir penjajah, yakni jihad fii sabilillah. Jihad bukan sekadar perang, tapi strategi yang diatur sesuai hukum syarak untuk menjaga kehormatan, jiwa, darah, dan wilayah kaum muslimin.
Tanah Gaza adalah tanah milik kaum muslimin yang wajib dibela dengan kekuatan nyata. Membiarkannya tanpa pembelaan nyata adalah sebuah kezaliman. Masalah Palestina tidak akan selesai dengan kecaman, donasi, atau sidang PBB. Solusinya harus dengan penyatuan kekuatan umat dalam satu institusi politik Islam yang amanah, yang menerapkan hukum syarak secara menyeluruh.
Kekuatan sistem Islam yang dituangkan dalam institusi Khilafah. Jalan inilah satu-satunya metode yang mampu menjadi perisai yang kuat. Hanya institusi ini pula yang secara syar'i memiliki kebijakan, wewenang dan kekuatan militer untuk melindungi kaum muslim yang tertindas. Bahkan lebih dari itu, khilafah memiliki strategi yang nyata dengan mengirimkan tentara untuk berjihad membebaskan tanah yang dirampas.
Perjuangan politik demi menegakkan sistem Islam secara utuh merupakan kewajiban bagi seluruh umat. Perjuangannya dietapkan sesuai teladan Rasulullah saw. saat berdakwah dan mendirikan Daulah Islam di tengah sistem kufur yang zalim. Kecaman lisan tidak akan pernah menghentikan kekejaman peperangan. Umat harus dibangun kesadarannya dengan pemahaman Islam ideologis, sehingga lahir kekuatan pemikiran politik yang solid. Islam-lah satu-satunya perisai sejati. Hanya dengannya, kekuatan umat menjelma menjadi senjata, kezaliman pun sirna tak berdaya.
Allah Swt. berfirman:
"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu..." (TQS. Al-Ma'idah: 49)
Wallahu a'lam bishowab.
Via
OPINI
Posting Komentar