OPINI
Buah Sistem Rusak Hasilkan Tenaga Kesehatan Nirempati
Oleh: Sonya Fredina
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Yurizal pasien BPJS yang sempat viral karena unggahan di medsos ketika berobat di rumah sakit meninggal pada 31 Juli 2026 kemarin karena terlambat mendapatkan perawatan. Bukan mendapatkan dukungan dan simpati, unggahannya justru dibanjiri komentar nirempati dari pihak tenaga kesehatan.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan hanya lama menunggu waktu penanganan, bukan karena pasien tidak mendapat penanganan di IGD. Lantaran pasien membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU) sementara kapasitas ruang tersebut terbatas (CNN Indonesia, 8 Agustus 2026).
Pengaruh Sistem Kesehatan Kapitalistik
Fenomena puncak gunung es ini menampilkan dua permasalahan sekaligus. Pertama, Krisis sistem kesehatan yang buruk. Kedua, peran media sosial sebagai tempat pelampiasan.
Buruknya masalah pelayanan kesehatan yang terus berulang seperti yang dialami Yusrizal merupakan dampak dari sistem kapitalistik yang diterapkan negara. Peran negara dalam sistem kapitalistik hanya sebagai regulator yang lebih berpihak pada kepentingan pasar dan pemilik modal. Pemerintah sepenuhnya menyerahkan penyedia layanan kesehatan kepada pihak swasta. Dengan demikian jelas sekali bahwa pemerintah bukan sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan dan keselamatan rakyat.
Bila kita amati, tumpukan masalah tentang dunia kesehatan di tanah air berlomba-lomba meminta penanganan serius. Mulai dari minimnya fasilitas publik, kurangnya tenaga medis, skema pembayaran upah yang rendah, membeludaknya pasien, administrasi yang lama sekaligus berbelit dan lain sebagainya. Tidak cepat tanggapnya pihak rumah sakit terhadap kondisi pasien justru menunjukkan sikap diskriminatif pada pasien. Mengingat pasien tersebut merupakan pasien dengan layanan BPJS.
Tampak perlakukan berbeda antara pasien BPJS dengan pasien umum berbayar pribadi. Pasien non BPJS cenderung disegerakan penanganannya bila sanggup membayar harga perawatan kamar. Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung oleh negara, dalam sistem sekuler kapitalis justru dibebankan kepada pasien. Fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan pun tergantung pada kemampuan pasien dalam membayar. Gambaran tersebut membuktikan bahwa dunia kesehatan telah menjadi objek bisnis yang bisa meraup keuntungan di dalamnya.
Hal itu tampak dari aturan pengguna layanan medis rumah sakit untuk rawat inap dan operasi. Rumah sakit mensyaratkan pihak keluarga pasien untuk menandatangani surat kontrak perjanjian pelayanan kesehatan. Mereka diminta membayar biaya berapa persen dan melakukan deposit pembayaran diawal, sebelum si pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan.
Sorotan kedua dalam kasus Yurizal ini adalah terungkapnya berbagai komentar pedas yang terlontar dari para netizen pengguna media sosial. Pasca Yurizal mengunggah keluhannya di akun medsos soal lelahnya ia menunggu selama 8 jam untuk mendapat tindakan medis.
Ironis dan miris beberapa komentar dibanjiri oleh unggahan nirempati yang tidak patut. Komentar tersebut justru datang dari kalangan para pekerja kesehatan itu sendiri, yakni dokter dan perawat yang aktif di media sosial. Alih-alih memberikan semangat serta dukungan, mereka justru lebih memilih menghujat sampai menyerang persoalan pribadi pasien.
Secara nyata kita dipertontonkan kecacatan kepribadian nirempati yang lahir dari individu professional sekalipun. Pendidikan hari ini telah gagal mencetak manusia dengan pemikiran dan pola sikap yang menjunjung tinggi empati. Semua ini sangat bertentangan dengan karakter kepribadian Islam.
Jaminan Kesehatan dalam Islam
Berbagai masalah hari ini termasuk buruknya pelayanan kesehatan muncul disebabkan karena abainya kita dari segala aturan Islam. Kebijakan saat ini disetir untuk kepentingan segelintir orang dan golongan bukan semata untuk rakyat. Kesehatan, keamanan, kesejahteraan, kedamaian menjadi barang langka yang sulit didapatkan. Padahal Islam memiliki pandangan yang sangat jelas dan adil terkait permasalahan kesehatan rakyat. Berbeda dengan kapitalisme, dimana Islam menjamin setiap individu dalam mengakses hak untuk sehat.
Dalam bidang pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan dan keluhuran budi pekerti, Islam sangat menaruh perhatian tinggi. Terbukti dengan banyaknya ilmuwan yang lahir dalam masa peradaban Islam dengan memiliki sifat tawadu dan kepribadian tanpa cela.
Berbeda dengan produk pendidikan kapitalis hari ini, ilmu dan teknologi yang dikuasai para pembelajar tidak diiringi dengan nilai kepribadian yang luhur. Apa artinya kecerdasan yang tinggi tanpa dibarengi dengan adab serta akhlak yang mau tunduk pada syariat.
Kewajiban Negara Islam
Islam menetapkan kesehatan adalah hak dasar setiap individu rakyat yang wajib dipenuhi oleh Negara dan merupakan kemaslahatan umum, haram untuk dikomersilkan. Oleh karena itu, Khilafah akan membangun mekanisme terpadu dan komprehensif untuk mewujudkan masyarakat sehat.
Dalam sejarah, Khalifah Umar bin Khattab r.a menyediakan dokter gratis yang digaji penuh oleh Negara untuk mengobati rakyatnya. Islam juga menerapkan Negara Khilafah bervisi raa’in atau pengurus rakyat. Dengan demikian, Negara memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan mendasar rakyat, termasuk kesehatan. Hal ini sebagai wujud sabda Rasulullah saw: “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya”. (HR Bukhari dan Muslim)
Paradigma ini mendorong Khilafah memberikan layanan kesehatan terbaik kepada rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban syariat negara kepada rakyat. Pelayanan kesehatan berkualitas akan disediakan untuk rakyat di seluruh penjuru wilayah negara. Layanan ini diberikan secara gratis kepada semua orang tanpa diskriminasi, bahkan untuk warga asing yang berada di wilayah Khilafah.
Sejarah peradaban Islam telah mencatat kemajuan luar biasa dalam tata kelola kesehatan. Berdirinya rumah sakit sepanjang masa Khilafah dengan berbagai layanan unggulan merupakan bukti tangguhnya sistem kesehatan Islam. Sistem ini juga mampu mendorong berkembangnya ekosistem ilmu dan teknologi kedokteran serta pelayanan kesehatan pada masa itu sehingga berperan penting dalam mewujudkan masyarakat sehat yang menjadi mata rantai penting dalam perkembangan kedokteran dunia.
Tegaknya Khilafah akan meniscayakan pendekatan kesehatan secara menyeluruh karena Islam memandang manusia, hewan dan lingkungan adalah makhluk Allah yang harus dikelola sesuai dengan perintah Allah.
Islam juga memerintahkan untuk membangun masyarakat yang berkeadilan yang dipenuhi kebutuhan dasarnya. Khilafah sebagai negara mandiri akan mampu mewujudkan kedaulatan kesehatan. Keberadaan Khilafah adalah kebutuhan yang urgen demi terwujudnya kedaulatan kesehatan.
Konsekuensi negara ketika mengabaikan sistem Islam sama artinya mereka menjauh dari petunjuk Allah Swt.. Hal itu hanya akan melahirkan individu individu yang nirempati dan individualis, tidak peduli dengan keadaan dan tidak peka dalam kehidupan sosial.
Wallahu’alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar