OPINI
Maulud Nabi Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Panggilan Ittiba
Oleh: Nur Komariah
(Aktivis Muslimah)
TanahRibathMedia.Com—Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak menyebut Allah." (TQS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini adalah landasan syariat paling fundamental tentang hubungan kita dengan Rasulullah ï·º. Kata "Uswatun Hasanah" (suri teladan yang baik) bukan berarti "contoh yang bagus untuk dikagumi saja". Namun contoh yang wajib diikuti dalam seluruh aspek kehidupan dalam cara berpikir, berbicara, berjuang, beribadah, hingga berinteraksi dengan sesama manusia.
Makna Maulid dalam Perspektif Syariat
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ï·º bukan sekadar seremoni tahunan yang banyak masyarakat pada umumnya merayakannya. Maulid adalah momentum reflektif saat kita menengok kembali bagaimana satu orang berjuang mengubah peradaban dari kegelapan menuju cahaya. Lahirnya beliau di tengah masyarakat jahiliyah bukan kebetulan, melainkan awal dari perjuangan terbesar dalam sejarah manusia.
Kecintaan kepada Rasulullah adalah perintah agama dan merupakan prinsip keimanan. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Melainkan kita mencintai Nabi dengan kualitas cinta tertinggi.Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini.
Marilah sejenak kita melihat momentum reflektif yang diwajibkan oleh syariat di antaranya:
- Bagaimana satu manusia yang lahir sebagai yatim piatu di tengah masyarakat jahiliyah yang gelap gulita berhasil mengubah peradaban manusia selamanya?
- Metode apa yang beliau gunakan, sehingga dalam waktu singkat, cahaya kebenaran menyebar dari Makkah hingga ke penjuru dunia?
- Dan yang terpenting apa yang harus kita lakukan sebagai pengikutnya, agar kita termasuk golongan yang dicintai Allah?
Allah berfirman dengan tegas, menghapus sekadar cinta tanpa tindakan:
"Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu." (TQS. Ali Imran: 31)
Inilah inti syariat tentang ittiba' cinta tanpa pengikutan adalah kebohongan. Maulid Nabi adalah saat kita mengecek hati kita apakah cinta kita kepada beliau hanya di lisan, atau nyata dalam amal?
Karakter Perjuangan Nabi yang Harus Kita Teladani
Rasulullah ï·º tidak menempuh jalan kekerasan, kerusuhan, atau revolusi massa. Beliau tidak mengubah sistem sebelum mengubah manusia. Beliau memiliki metode yang berakar pada wahyu Allah, sistematis, bertahap, dan terukur. Para ulama merumuskan metode ini dalam tiga marhalah (tahapan) utama, yang menjadi pedoman dakwah sepanjang zaman.
Tahap pertama: tatsqif - pembinaan kualitas manusia
Tatsqif adalah tahap pembinaan individu secara mendalam menanamkan akidah, membentuk kepribadian Islam, dan mencetak kader yang kokoh imannya sebelum berhadapan dengan masyarakat luas.
Bukti dari Sirah dan Syariat:
- Selama ±3 tahun pertama, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ï·º mengundang orang-orang terpilih ke Rumah Arqam bin Abil-Arqam. Di sana beliau membina mereka secara intensif, satu per satu.
- Fokus dakwah belumlah kepada perubahan sistem sosial atau politik. Fokusnya murni yaitu menanamkan tauhid, menghapus kemusyrikan, membangun keimanan, dan membentuk karakter.
- Jumlah sahabat yang dibina tidak banyak hanya sekitar 40–60 orang pada awal hijrah. Namun kualitas mereka luar biasa mereka adalah generasi yang rela memberikan harta, keluarga, bahkan nyawa demi tegaknya kebenaran.
Inilah ajarannya untuk kita, dimana perubahan sejati dimulai dari dalam diri, bukan dari demonstrasi di luar. Syariat Islam mengajarkan kamu tidak bisa mengubah dunia jika dirimu sendiri masih gelap. Sebelum menuntut perubahan pada orang lain, perbaikilah dirimu dahulu.
- Perbaiki shalatmu apakah masih lalai?
- Perbaiki lisanmu apakah masih menyakiti orang lain?
- Perbaiki akhlakmu apakah masih sombong, iri, dan dengki?
- Perbaiki hubunganmu dengan Allah karena jika hubungan dengan Allah baik, maka semua hubungan lain akan baik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (TQS. Ar-Ra'd: 11)
Inilah hikmah terbesar tahap Tatsqif tidak ada jalan pintas. Pembinaan adalah kunci. Tanpa kader yang berkualitas, perubahan apa pun hanya akan sesaat.
Tahap kedua: tafau' ul ma'al ummah - interaksi terbuka dengan masyarakat
Ketika fondasi keimanan telah kokoh pada sekelompok individu, barulah dakwah disampaikan secara terbuka, berinteraksi dengan seluruh masyarakat, menyadarkan mereka, dan membangun opini publik untuk kembali kepada Islam.
Bukti dari Sirah dan Syariat:
- Setelah ±3 tahun pembinaan tertutup, Allah memerintahkan: "Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (TQS. Al-Hijr: 94)
Maka dakwah dilakukan secara terang-terangan.
- Rasulullah ï·º berdiri di Bukit Shafa, menyerukan kepada seluruh Quraisy, memperingatkan mereka akan azab Allah, dan mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala.
- Beliau mendakwahi dengan hikmah dan pelajaran yang baik, berdebat dengan cara yang lebih baik, bukan dengan amarah atau kekerasan.
- Beliau membongkar kebusukan sistem jahiliyah: penindasan terhadap yang lemah, perbudakan, ketidakadilan sosial, pembunuhan anak perempuan namun semuanya dilakukan dengan argumen yang jelas, akhlak yang mulia, dan kesabaran yang luar biasa.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang metode ini:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantinglah mereka dengan cara yang lebih baik." (TQS. An-Nahl: 125)
Yakni di mana kita berbicara dengan kebenaran di tengah masyarakat, membela yang lemah, dan menegakkan keadilan. Itulah dakwah yang nyata. Syariat mengajarkan bahwa setelah kita memperbaiki diri, kita tidak boleh diam saja. Kita harus:
- Menyampaikan kebenaran dengan lembut, bukan dengan kasar agar orang lain tidak menutup hati
- Membela yang tertindas anak yatim, orang miskin, perempuan, kaum yang lemah
- Menjadi contoh yang baik, bukan hanya pengajar yang lisan saja
- Sabar saat ditolak — karena Nabi pun dicaci, dihina, dan dilempari batu, namun beliau tidak pernah membalas dengan keburukan.
Tahap ketiga: isti'lam al hukm - penyerahan kekuasaan.
Ketika masyarakat mulai memahami kebenaran dan mendukungnya, barulah dicari dukungan dari mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh untuk menegakkan sistem Islam secara menyeluruh. Peralihan kekuasaan ini dilakukan secara damai, sah, dan strategis bukan melalui pertumpahan darah.
Bukti dari Sirah dan Syariat:
- Rasulullah ï·º mendatangi kabilah-kabilah Arab di musim haji, menyampaikan Islam dan mengajak mereka memberikan perlindungan agar beliau dapat menegakkan ajaran Allah.
- Puncaknya adalah Baiat ‘Aqabah Pertama dan Kedua sekelompok orang dari Madinah beriman, lalu kembali membawa keluarganya, hingga akhirnya seluruh kota Madinah menerima Islam. Mereka berjanji: "Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi istri-istri dan anak-anak kami."
- Hijrah ke Madinah bukan pelarian lemah melainkan perpindahan kekuatan yang terencana. Di sana Rasulullah ï·º mendirikan masyarakat Islam, menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi negara, membangun persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar, serta menerapkan hukum Allah dalam kehidupan bermasyarakat.
- Semua ini dilakukan tanpa perang saudara, tanpa revolusi berdarah berkat persiapan yang matang dan kesabaran yang panjang.
Perjuangan yang terorganisir, bersatu, dan berencana, itulah jalan menuju kemenangan yang abadi.
Syariat mengajarkan Kesatuan umat di atas perbedaan bukan memecah belah, Kekuatan melalui persiapan, bukan emosi Allah memerintahkan: "Dan sediakanlah untuk mereka apa yang kamu mampu dari kekuatan..." (TQS. Al-Anfal: 60)
Kemenangan adalah janji Allah, tapi persiapannya adalah kewajiban kita tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran dan kerja keras.
Ittiba'- Meneladani Rasulullah Secara Menyeluruh
Ittiba' bukan sekadar mengikuti cara beribadah. Ittiba' berarti mengikuti seluruh aspek kehidupan beliau — akhlak, karakter, cara berbicara, cara berdagang, cara memimpin, cara berkeluarga, hingga cara menghadapi musuh.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (TQS. Al-Hashr: 7)
"Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (TQS. An-Nisa: 80)
Cinta kepada Rasulullah harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan beliau, tidak cukup hanya dengan merayakan Maulid, bershalawat, dan berdoa. Cinta yang sejati teruji dengan ittiba' meneladani akhlak beliau dalam setiap gerak-gerik kehidupannya serta memperjuangkan syariat islam sesuai dengan Al quran dan As sunnah.
Maulid adalah Titik Balik Perubahan Diri
Maulid Nabi ï·º mengingatkan kita sebuah kebenaran yang mendalam:
Perjuangan tidak harus dengan pedang di tangan. Perjuangan sejati adalah dengan kesabaran, ilmu, akhlak mulia, dan keteguhan iman. Rasulullah ï·º mengubah dunia bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan kekuatan hati. Itulah syariat perjuangan yang sejati bukan menumpahkan darah, tapi menumpahkan ketulusan. Bukan memaksa orang lain, tapi mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Bukan mencari pujian manusia, tapi mencari ridha Alllah semata.
Jadikanlah peringatan Maulid ini bukan sekadar seremonial, melainkan awal dari ittiba' yang sejati. Kuatkanlah langkah kami untuk berjalan di atas metode beliau:
— Memperbaiki diri sebelum menuntut perubahan orang lain,
— Menyampaikan kebenaran dengan lembut, bukan dengan amarah,
— Menggalang persatuan, bukan perpecahan,
— Dan sabar dalam perjuangan, hingga kemenangan-Mu datang.
Menjadikan Akhlak Beliau tertanam dalam diri, jujur saat orang lain berdusta, amanah saat orang lain berkhianat, pemaaf saat orang lain menyakiti, dan sabar saat dunia terasa gelap, dan menyatukan hati di atas jalan yang lurus.
Via
OPINI
Posting Komentar