OPINI
Wali Murid Alih Haluan, Murid di SDN Kekurangan
Oleh: Ha-em
(Aktivis)
TanahRibathMedia.Com—Kali ini, kesepian bagi anak kelas 1 SD bukan karena dikucilkan teman-temannya, melainkan karena tidak ada satu pun murid baru lain yang mendaftar pada SPMB 2026 di SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin. Akhirnya kepala sekolah tersebut, Arief Rakhman Hakim mengikutsertakannya dengan kegiatan MPLS di sekolah sebelah SDN Teluk Dalam 9. Halaman kedua sekolah tersebut yang berada dalam satu lingkungan membuat ketimpangan jumlah siswa begitu mencolok.
Fenomena tahun ajaran baru di Indonesia ini juga melanda beberapa Sekolah negeri di Bali, Lampung, Banten, Sleman, Bengkulu, Magelang, hingga kawasan aglomerusi atau kota besar seperti Semarang. Dilema tersebut bukan terjadi tanpa alasan. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi, mulai dari perubahan struktur demografi dimana angka anak usia sekolah turun sedangkan banyak dari penduduk yang memasuki masa tua, gelombang urbanisasi yang terus-menerus, bahkan pasangan muda yang enggan mempunyai anak sebab ketidakmampuan finansial mengcover biaya hidup yang tinggi karena kekacauan kebijakan ekonomi.
Alih Haluan
Perhatian dan khawatir kepada anak, membuat orangtua memilih sikap untuk mengarahkan anak-anaknya ke pendidikan agama. Mereka ingin menyelamatkan keluarga dari kerusakan moral generasi yang mеrebak. Sayang, di sisi lain realita institusi - institusi sekolah agama juga merekam fakta-fakta prihatin di sebagian besarnya ditambah kendala pada biaya yang mahal karena ditanggung sendiri (swasta).
Jelas, sebenarnya problem generasi muda ini begitu kompleks. Jika diteliti, solusi atau langkah apapun yang diambil pemerintah tetap akan memunculkan problem baru yang tak ada habisnya. Ibu Puan Maharani, Ketua DPR RI juga tidak sekata dengan Pemerintah yang menyatakan kebijakan efisiensi dengan penggabungan sekolah-sekolah minim siswa tersebut. Menurutnya pilihan ini bisa mengorbankan hak anak seperti jaminan transportasi yang aman dan terjangkau (Detik.com, 15 juli 2026).
Dari sini tergambar kondisi masyarakat yang sadar akan gagalnya Sistem pendidikan saat ini melahirkan output yang diharapkan apalagi sesuai kebutuhan masyarakat. Meski kurikulum Pendidikan sudah berganti-ganti, tahun demi tahun, justru semakin tampak kerusakannya apalagi jika perubahannya berjalan sesuai siapa menteri pendidikannya yang jelas tidak dirancang untuk jangka panjang. Maka terbukti sendiri bahwa kerusakan rumit ini bersumber sebagai output atau produk gagal dari penerapan sistem politik negeri ini yang berpijak pada sistem sekularisme-liberalisme.
Next Level
Pergeseran orientasi pendidikan para orangtua terhadap anaknya tak cukup pada pengalihan ke pendidikan agama. Kesadaran ini harus bangkit dan berangkat menuju ke kesadaran politik dimana semua dilema yang terjadi tersistem untuk terus berlanjut dan tidak tertangani. Di titik inilah harus ada langkah serius, terukur dan nyata yang tidak sekedar menyentuh permukaan masalah melainkan harus mencabut akar sumbernya dan semua yang berkaitan.
Sistem yang diadopsi dunia yang sekularisme maupun sosialisme sudah kadaluarsa untuk diandalkan sebagai problem solver. kesimpulannya, kita harus kembali ke arah yang seharusnya dan sebenarnya, pula terbukti kejayaannya memberantas problematika umat manusia yaitu islam. Islam bukan sekedar agama tentang keyakinan dan peribadatan, namun justru akidah (keyakinan) memancarkan aturan yang menertibkan kehidupan manusia dan mengurus seluruh lini kehidupan. Sebagai tools problem solving andalan umat muslim, Islam adalah agama yang serius dalam mencetak pilar-pilar generasi untuk memimpin peradabannya menuju kegemilangan dan kejayaan, sehingga pendidikan menjadi titik fokus dan fundamental sebagai tanggung jawab besar.
Negara yang berwenang mengatur dan menjamin ketersediaan Serta pemerataan pendidikan bermutu dan gratis bagi seluruh rakyat hanyalah yang menerapkan Islam yaitu Syari'at Allah dengan jujur dan menyeluruh karena bertumpu pada tongkat yang kokoh berbasis akidah Islam. Institusi yang terpercaya ini adalah Khilafah Islamiyyah ala minhajin nubuwwah yang menaungi dunia dengan keadilan termasuk aspek pendidikan di bawah naungan teduh pula yaitu ridho Allah Swt.
Via
OPINI
Posting Komentar