OPINI TOKOH
Korupsi Pakan Satwa, Bukti Rusaknya Sistem Kapitalis
Oleh: Ria Nurvika Ginting, S.H., M.H
(Dosen FH)
TanahRibathMedia.Com—Mantan Direktur Utama (Dirut) Kebun Binatang Surabaya (KBS), Choirul Anwar menjadi tersangka korupsi uang pakan hewan periode 2016-2024 sebesar Rp 10,2 miliar. Lebih dari 50 persen dana tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Aspidsus kejati Jatim I Gede Punia menyampaikan bahwa tersangka menggunakan Rp 7,4 miliar untuk foya-foya. Penetapan Choirul Anwar sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Nomor TAP-863/M.5/Fd.2/07/2026 tanggal 21 Juli 2026 (detiknews.com, 24-7-2026).
Perbuatan korupsi pakan ini tidak hanya merugikan negara tetapi juga berdampak kepada kondisi Kebun Binatang Surabaya yang tidak terawat baik, kotor, rusak. Hewan-hewan di kebun binatang tersebut menjadi kurang sehat, kurus, tidak ada perawatan yang baik serta ada yang mati. Atas perbuatannya, CA disangkakan melanggar Pasal 604 subsidair KUHP sebagaimana diubah dengan UU 1/2026 tentang Penyesuaian Pidana, junco Pasal 20 huruf a dan huruf c juncto Pasal 126 ayat (1) UU KUHP, juncto Pasal 18 UU Tipikor. CA saat ini telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Surabaya cabang Kejaksaan Tinggi Jawa Timur selama 20 hari, terhitung sejak 21 Juli 2026 hingga 9 Agustus 2026 (CNNIndonesia.com, 23-7-2026).
Sistem Kapitalis Menyengsarakan Satwa
Semua lini memiliki cela untuk korupsi. Termasuk pakan satwa yang tinggal di kebun binantang pun dikorupsi oleh pejabatnya hingga satwa di sana tidak terurus hingga mati. Ini wajar terjadi ketika sistem kapitalis-sekuler menjadi landasan dalam kehidupan hari ini. Apa saja yang mampu menghasilkan materi tanpa melihat apakah perbuatan tersebut halal/haram maka akan dilakukan, apalagi hanya pakan satwa yang tidak bisa berbicara atau berteriak meminta haknya.
Sistem Kapitalis yang berdiri atas dasar pemisahan agama dari kehidupan, menjadikan standar "kebahagian" adalah memiliki materi. Sehingga, dengan materi tersebut ia dapat menikmati kehidupan ini. Seperti yang terjadi pada korupsi dana kebun binatang tersebut ternyata lebih dari setengah uangnya digunakan hanya untuk foya-foya. Sungguh, dalam sistem Kapitalis tidak hanya manusia yang merasakan kesengsaraan dengan habisnya anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat tetapi dinikmati oleh segelintir orang yang rakus akan kekayaan. Tetapi satwa pun merasakan kesengsaraan tersebut.
Kerakusan manusia yang merusak tempat tinggal satwa sehingga satwa tidak tau mau kemana karena tempat mereka hancur akibat alat-alat berat seperti ekskavator yang menebang pohon-pohon yang merupakan habitat mereka. Hingga mereka harus berkeliaran dilingkungan penduduk setempat. Yang ditempatkan di kebun bintang pun bernasib sama, dana pakan untuk mengurus makanan mereka pun dirampas oleh manusia serakah. Sudah saatnya mengganti sistem saat ini menjadi sistem yang akan menyejahterakan baik manusia maupun satwa yakni sistem Islam.
Islam Menjaga Kelestarian Satwa
Rasulullah bersabda: “Seseorang wanita disiksa karena ia mengurung seekor kucing hingga matidan wanita itu pun masuk neraka; wanita itu tidak memberikan kucing itu makan dan minum saat dia mengurungnya dan tidak membiarkannya untuk memakan buruannya.” (HR.Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa islam melarang untuk menyakiti hewan. Hewan termasuk bagian alam yang harus dijaga oleh manusia. Namun, kembali lagi dengan paradigma kapitalis-sekuler yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat saat ini maka kelestarian hewan hanya impian. Mengapa? Karena paradigma ini mengutamakan materi/manfaat. Kebun binatang yang dibangun pun bukan untuk penjagaan kelestarian hewan semata tapi untuk tempat hiburan komersil semata yang merupakan ajang bisnis. Jika bisnis itu menguntungkan akan mendapatkan perhatian lebih jika tidak akan diabaikan.
Sistem Islam yang berdiri atas dasar aqidah islam yang memancarkan aturan yang berasal dari sang khaliq maka seluruh aturan yang berhak membuatnya hanyalah Allah Swt. Dalam sistem Islam paradigma yang digunakan adalah halal-haram bukan materi/manfaat. Untuk kebun binatang yang dibangun bukan hanya sekedar untuk hiburan komersil semata tapi akan dikaji kembali urgensitasnya. Jika memang diperlukan maka kembali ditegaskan bahwa haram mendzalimin hewan apalagi para pekerja ditempat tersebut.
Inilah yang dinamakan Islam rahmatan lil alamin bukan hanya umat islam yang merasakan rahmatnya tapi juga seluruh alam (baik muslim maupun hewan dan tumbuhan). Mengapa? Karena islam memiliki aturan yang terperinci dan melarang manusia untuk sewenang-wenang memperlakukan hewan.
Beberapa catatan sejarah menunjukkan bagaimana dimasa pemerintahan islam kebun binatang diberikan perhatian yang khusus. Contoh kebun binatang Humarawayh di fustat dekat Kairo, pada akhir abad kesembilan. Dibangun khusus di dalam Istana pangeran Tulinid, tempat ini menampung berbagai kandang kuda, bagal dan dromedari serta berbagai rumah untuk jenis macan. Staf yang ditugaskan adalah staf yang memiliki pengetahuan khusus dan menerima gaji tahunan dan persediaan makanan yang cukup besar (hypotheses.com, kebun Binatang Arab dan Ottonom 22 Juni 2015).
Hanya dengan diterapkan sistem Islam secara sempurna dalam kehidupan dengan institusi Khilafah Islamiyah yang akan memberikan rahmat islam bagi seluruh alam tak terkecuali hewan/satwa. Sudah saatnya kita kembali pada aturan yang sesuai fitrah kita yang akan memberikan kesejahteraan, keberkahan dari langit dan bumi untuk seluruh alam.
Via
OPINI TOKOH
Posting Komentar