OPINI
Penjajahan Terus Dilegalkan, di Mana Keadilan Dunia?
Oleh: Husna Kamilah
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Belum kering luka rakyat Gaza akibat bom dan blokade, kini mereka kembali dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Entitas Zionis Israel membangun tembok tanah sepanjang sekitar 23kilometer yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Dilansir dari Kompas.com (21-7-2026), tembok itu diketahui dari citra satelit dan dibangun dalam beberapa bulan terakhir. Jalurnya melintasi permukiman warga Palestina yang sebelumnya telah dihancurkan oleh serangan militer. Akibatnya, wilayah Gaza semakin terpecah dan ruang hidup lebih dari dua juta penduduk kian menyempit.
Tembok itu seolah menjadi penegasan bahwa penjajahan terus berjalan, hanya dengan cara yang berbeda. Ketika rumah-rumah sudah rata dengan tanah, wilayah dipisahkan dengan penghalang. Ketika warga dipaksa mengungsi, akses untuk kembali pun semakin dibatasi. Semua dilakukan sedikit demi sedikit hingga kondisi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, pendidikan, distribusi bantuan kemanusiaan, hingga aktivitas ekonomi akan semakin terbatas. Anak-anak Palestina kembali dipaksa tumbuh dalam ruang yang sempit, menyaksikan tanah kelahirannya perlahan berubah menjadi kawasan yang terisolasi.
Ironisnya, dunia internasional masih sibuk berbicara tentang perdamaian. Resolusi demi resolusi dikeluarkan, kecaman terus disampaikan, tetapi penjajahan tetap berlangsung. Maka tampaklah rapuhnya sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini menjadikan kepentingan negara-negara kuat sebagai ukuran utama. Selama kepentingan politik dan ekonomi mereka tidak terganggu, penderitaan jutaan manusia tidak dihiraukan dan tidak mendapat tindakan nyata.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hukum internasional yang selama ini diagungkan ternyata tidak memiliki daya paksa ketika berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar. Resolusi dapat disahkan, kecaman dapat disampaikan, tetapi selama tolok ukur kebijakan adalah keuntungan politik dan ekonomi, keadilan akan selalu berada di posisi kedua. Inilah konsekuensi dari sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan aturan hidup dari wahyu Allah. Kebenaran tidak lagi ditentukan berdasarkan hukum Allah, melainkan berdasarkan siapa yang memiliki pengaruh paling besar di panggung politik global.
Tidak mengherankan jika rakyat Palestina terus menjadi korban. Mereka kehilangan keluarga, tempat tinggal, bahkan tanah kelahirannya sedikit demi sedikit. Sementara itu, negara-negara muslim lebih banyak terjebak dalam kepentingan masing-masing. Persoalan Palestina dipandang sebagai urusan satu bangsa, padahal yang sedang diinjak-injak adalah kehormatan umat Islam.
Islam memandang keadaan ini dengan cara yang berbeda. Kaum muslim bukanlah kumpulan individu yang berdiri sendiri, melainkan satu umat yang diikat oleh akidah. Karena itu, ketika satu bagian terluka, bagian yang lain tidak boleh berpangku tangan. Allah Swt. berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (TQS. Ali Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar perintah untuk saling akur. Persatuan adalah kekuatan yang membuat umat Islam mampu menjaga kehormatan dan melindungi saudara-saudaranya dari kezaliman.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memerintahkan persatuan, tetapi juga menghadirkan kepemimpinan yang berfungsi sebagai pelindung umat. Selama kaum muslim hidup tercerai-berai tanpa kepemimpinan yang menerapkan syariat, mereka akan terus menjadi sasaran politik pecah belah dan kehilangan kekuatan untuk membela saudaranya.
Tragedi di Gaza seharusnya menyadarkan umat bahwa selama hukum buatan manusia dijadikan sandaran, kepentingan akan selalu mengalahkan keadilan. Karena itu, sudah saatnya kaum muslim kembali mengikatkan diri pada syariat Allah, memperkuat persatuan, dan berjuang agar Islam kembali menjadi aturan yang melindungi umat. Sebab sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa umat yang tercerai-berai akan mudah dijajah, sedangkan umat yang bersatu akan menjadi kekuatan yang disegani.
Via
OPINI
Posting Komentar