OPINI
Fenomena Pendidikan: SD Negeri Krisis Murid
Oleh: Pudji Arijanti
(Pegiat Literasi untuk Peradaban)
TanahRibathMedia.Com—Fenomena minimnya murid baru di sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) menjadi perhatian berbagai pihak. Bahkan, ada SDN yang sama sekali tidak memperoleh peserta didik baru pada tahun ajaran ini. Pemerintah pun berencana melakukan regrouping atau penggabungan beberapa sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Namun, kebijakan tersebut tidak selalu mudah diterapkan karena berpotensi membuat jarak sekolah semakin jauh dari tempat tinggal siswa (CNN Indonesia, 15 Juli 2026)
Berbagai faktor menjadi penyebab kondisi ini. Di sejumlah daerah, jumlah anak usia sekolah memang semakin sedikit akibat perubahan struktur demografi, menurunnya angka kelahiran, serta urbanisasi yang menyebabkan banyak keluarga muda berpindah ke kota. Namun di sisi lain terdapat fenomena yang tidak kalah menarik, yakni semakin banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta, terutama sekolah yang memberikan pendidikan berbasis agama, pembiasaan ibadah, mengaji, dan pembentukan akhlak.
Pendidikan Sekuler
Pilihan tersebut menunjukkan adanya kegelisahan yang semakin besar di tengah masyarakat. Orangtua tidak sekadar mencari tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga tempat yang mampu menjaga anak-anak mereka dari berbagai bentuk kerusakan moral. Maraknya perundungan, kekerasan antarpelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga berbagai tindak kriminal yang melibatkan remaja menimbulkan kekhawatiran bahwa lingkungan pendidikan belum mampu menjadi benteng pembentukan karakter.
Memang, perubahan struktur demografi turut berkontribusi terhadap berkurangnya jumlah peserta didik. Kebijakan pengendalian kelahiran yang berlangsung selama bertahun-tahun, tingginya biaya hidup, serta sulitnya mewujudkan kesejahteraan membuat tidak sedikit pasangan muda menunda bahkan enggan memiliki banyak anak. Urbanisasi juga terus terjadi karena kesenjangan ekonomi antara desa dan kota. Namun, faktor-faktor tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa sebagian SD negeri tetap kehilangan peminat sementara sekolah swasta orang tua rela mengantri sebelum anak memasuki usia sekolah Dasar.
Realitas ini menunjukkan bahwa menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan saat ini disebabkan oleh kegagalannya dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Orangtua menginginkan pendidikan yang mampu menjaga agama sekaligus membentuk kepribadian anak. Sayangnya, harapan tersebut sulit diwujudkan. Karena, sistem pendidikan hari ini masih dibangun di atas paradigma sekuler liberal. Pendidikan lebih diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang siap memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Perubahan kurikulum yang dilakukan berulang kali terbukti tidak mampu membendung kerusakan moral yang muncul. Sebenarnya, akar masalah ada pada sistem pendidikan itu sendiri, yakni sistem sekuler. Menyerahkan pendidikan moral pada logika pasar dan kebebasan individual tanpa rambu yang jelas.
Butuh Sistem Pendidikan Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus pilar tegaknya peradaban. Karena itu, negara memikul tanggung jawab penuh untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan gratis bagi seluruh rakyat. Negara tidak cukup hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga memastikan seluruh proses pendidikan mampu melahirkan generasi yang bertakwa, berilmu, dan berkepribadian Islam.
Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menjadikan akidah Islam sebagai dasar penyusunan kurikulum. Seluruh mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara juga menjamin tersedianya guru yang berkualitas, sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, serta pembiayaan pendidikan dari baitulmal sehingga seluruh rakyat dapat mengakses pendidikan tanpa dibebani biaya.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan. Kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak memang wajar, tetapi kesadaran itu hendaknya tidak berhenti pada upaya mencari sekolah yang dianggap lebih aman. Masyarakat perlu memahami bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan merupakan persoalan sistemik sebagai konsekuensi penerapan sistem sekuler liberal. Oleh karena itu, dakwah politik Islam menjadi penting untuk membangun kesadaran umat agar bersama-sama memperjuangkan perubahan menuju sistem Islam secara sempurna. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berhasil menyelamatkan anak-anak dari kerusakan moral, tetapi juga melahirkan generasi terbaik yang mampu membangun peradaban Islam yang mulia. Wallahu'alam bissawab.
Via
OPINI
Posting Komentar