OPINI
Tahun Ajaran Baru, Mengapa SD Negeri Minim Murid Baru?
Oleh: Najah Ummu Salamah
(Komunitas Penulis Peduli Umat)
TanahRibathMedia.Com—Memulai tahun ajaran baru 2026-2027, sejumlah sekolah dasar negeri minim murid baru. Fenomena ini terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru, lalu ada lagi di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah yang hanya menerima tiga murid baru. Di Jawa Timur, seperti di Blitar ada tiga sekolah dasar negeri yang tidak mendapatkan sama sekali murid baru. Serta masih banyak sekolah dasar negeri lainnya yang mengalami nasib serupa (CNN Indonesia, 15-7-2026).
Untuk mengatasi masalah kurangnya murid baru ini, pihak pemerintah sudah berupaya melakukan regrouping beberapa SDN menjadi satu. Tapi hal ini menimbulkan persoalan baru terkait lokasi sekolah yang semakin jauh dari rumah siswa. Mengapa Terjadi?
Ada beberapa faktor penyebab krisis murid baru di SD negeri di berbagai wilayah. Pertama, perubahan struktur demografi. Minimnya angka kelahiran di beberapa daerah mengakibatkan sedikitnya anak usia sekolah dasar. Kebijakan pembatasan usia pernikahan oleh pihak pemerintah telah menjadikan angka kelahiran menurun. Kampanye dua anak lebih baik yang digencarkan oleh BKKBN juga telah menjadi standar keluarga di Indonesia.
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2026, angka kelahiran total (TFR) di Indonesia sekitar 2,13. Artinya hal ini terus mengalami tren penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Sebagai misal pada tahun 2022 angka kelahiran total (TFR) masih di angka 2,18. Bahkan di proyeksikan pada tahun 2045, angka kelahiran total (TFR) di Indonesia hanya sekitar 1,97. Sehingga ada proyeksi kuat populasi penduduk mengalami penuaan (Halodoc.com, 19-2-2026).
Kedua, faktor ekonomi. kegagalan kebijakan ekonomi saat ini telah mengakibatkan inflasi. Akhirnya harga kebutuhan berupa sandang, pangan dan hunian juga semakin mahal. Sehingga banyak pasangan muda yang enggan memiliki anak, akibat beban biaya kehidupan semakin tinggi.
Ketiga, urbanisasi. Banyak warga yang pindah ke kota-kota besar untuk mencari penghidupan, akibat kesenjangan infrastruktur dan tingkat kesejahteraan antara desa dan kota. Sehingga di daerah minim anak usia SD.
Keempat, Sosial. Adanya perubahan life style di kalangan generasi muda akibat opini-opini dan pergeseran nilai-nilai sosial budaya semisal opini marriage is scary, childfree, LGBT juga menjadi faktor lain penyumbang penurunan angka kelahiran.
Kelima, perubahan orientasi pendidikan. Sebagian masyarakat lebih memilih sekolah berbasis agama. Alasannya, agar anak-anak mendapatkan pendidikan akhlak dan agama sebagai benteng pertahanan dari kerusakan moral dan kenakalan remaja yang akhir-akhir ini marak terjadi. Bahkan sebagian orangtua lebih percaya pada boarding school atau pesantren yang memberikan bimbingan secara integral untuk membentuk kepribadian Islam bagi setiap siswa. Tidak bisa dimungkiri, paradigma sistem pendidikan yang sekuler dan liberal menjadikan anak-anak hanya sebatas memiliki nilai akademis tinggi namun mengalami krisis moral. Sehingga hal inilah yang menjadikan masyarakat lebih memilih sekolah berbasis agama demi menjaga fitrah anak-anak mereka daripada sekolah negeri.
Meskipun, berulangkali ada perubahan kurikulum, namun hal tersebut belum mampu mengatasi berbagai kenakalan dan perilaku kriminal pada anak-anak dan remaja akibat sistem pendidikan sekuler liberal. Perubahan orientasi pendidikan yang dimiliki orangtua tersebut menjadi indikasi kesadaran akan pentingnya menyelamatkan generasi dari kerusakan moral.
Islam dan Pendidikan
Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting dalam peradaban. Sehingga negara berkewajiban menyediakan layanan secara merata, berkualitas dan gratis bagi semua kalangan. Paradigma kurikulum pendidikan adalah akidah Islam. Visi misi pendidikan untuk mewujudkan generasi berilmu dan berkepribadian Islam. Bukan hanya fokus pada nilai akademis namun miskin akhlak.
Dalam sistem khilafah, sistem pendidikan Islam tidak berdiri sendiri, ada sistem ekonomi, kesehatan, pergaulan, peradilan, sanksi dan uqubat yang semuanya berbasis pada aqidah Islam. Sehingga penerapan syari'at Islam terealisasi dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu problem demografi, ekonomi, sosial, budaya minim persoalan. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir memiliki anak, karena negara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga.
Masyarakat juga tidak perlu bingung memilih sekolah untuk anak mereka, semua sekolah dari tingkat dasar, pertama, menengah hingga perguruan tinggi baik sekolah negara maupun milik swasta semua memiliki paradigma sama, yaitu Aqidah Islam. Ditambah lagi negara menjamin pendidikan yang berkualitas, merata dan gratis bagi rakyat melalui mekanisme pembiayaan Baitul Mal.
Khatimah
Oleh karena itu sudah saatnya orangtua memiliki kesadaran bahwa mendidik anak bukan hanya sebatas untuk menyelamatkan mereka dari kerusakan moral, namun orangtua juga memiliki kesadaran politik bahwa kerusakan perilaku anak-anak hari ini akibat penerapan sistem sekuler liberal. Maka, sudah saatnya umat Islam serta partai politik Islam berdakwah, meningkatkan level taraf berpikir umat. Agar mereka memiliki opini dan kesadaran penuh untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, mewujudkan generasi cemerlang dan peradaban gemilang.
Wallahu 'alam bi ash-showab.
Via
OPINI
Posting Komentar