OPINI
Krisis Murid Baru di Sejumlah SD Negeri, Mengapa Orangtua Memilih Sekolah Swasta?
Oleh: Yuyun Maslukhah, S.Sn
(Sahabat Tanah Ribath Media)
TanahRibathMedia.Com—Memasuki tahun ajaran baru, sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) dilaporkan minim murid baru, bahkan ada yang tidak mendapatkan murid sama sekali. Fenomena ini melanda beberapa daerah. Mulai dari Lampung, Banten, Banten, hingga Jawa Timur. Faktor penyebabnya pun beragam. Beberapa penyebabnya adalah jumlah anak usia sekolah yang makin minim di sekitarnya (karena pertumbuhan penduduk menurun, generasi menua, dan urbanisasi) dan pergeseran orientasi pendidikan masyarakat yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama (ibadah, mengaji, dan akhlak). Orangtua takut keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja semakin banyak.
SDN 1 Gedung Meneng Lampung misalnya, hanya ada dua orang siswa baru tahun ini disebebkan menjamurnya sekolah swasta disekitar lokasi serta adanya perubahan demografi wilayah. SD Labuan 7 Pandeglang, hanya ada tiga siswa baru, dengan total keseluruhan 34 siswa. Selain persaingan sekolah negeri dan swasta disekitar area, kondisi fasilitas sekolah yang kurang memadai juga menjadi faktor utama. Ada juga SDN Kamilanis 4 Blitar, Kecamatan Doko, Jawa timur sama sekali tidak mendapatkan murid baru. Penyebab utamanya adalah ketiadaan lulusan dari Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah sekitar (www.metrotvnews.com, 17-7-2026).
Menanggapi kondisi tersebut, solusi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali adalah regrouping beberapa SDN menjadi satu, langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas layanan pendidikan, tetapi ini juga sulit karena jarak tempuh ke sekolah menjadi jauh (Bisnis.com, 13-7-2026).
Buah dari Sistem Sekuler Liberal
Perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi bukan semata gejala alamiah, melainkan karena program pemerintah yang menjadikan angka kelahiran menurun. Hal ini juga diperparah kegagalan kebijakan ekonomi yang membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih sehingga pasangan muda enggan memiliki anak. Urbanisasi yang marak pun sejatinya cermin dari kesenjangan pendapatan desa dan kota yang tak kunjung selesai. Semua ini akibat dari konseuensi sistem yang gagal menyejahterakan rakyatnya.
Namun di antara sederet persoalan diatas, ada satu fenomena yang jauh lebih mendasar untuk menjadi bahan perenungan: Menagapa orang tua kini berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah berbsis agama dari pada ke sekolah negeri? Faktanya, sikap orangtua yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan ilmu agama dibandingkan sekolah negeri menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi, akibat sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan, yang kini telah memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah.
Sayangnya, respon negara terhadap persoalan ini cenderung tambal sulam. Perubahan kurikulum yang berulang kali, mulai dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka terbukti tak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal.
Sistem Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Sistem pendidikan Islam dalam naungan institusi Khilafah bersandar pada kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam skaligus cakap dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara bertanggung jawab penuh untuk menyediakan tenaga pendidik yang memumpuni, infrastruktur yang memadai, serta sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan yang berkualitas.
Kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menuju kesadaran politik bahwa, kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal. Karena itu dakwah politik menjadi kunci untuk membangun kesadaran politik masyarakat menjadi sangat penting, hingga masyarakat tergerak untuk merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam. Sebab, selagi sistem yang digunakan lahir dari akal manusia yang terbatas, maka tidak akan mendapatkan solusi yang komprehensif, dan akan terus melahirkan korban-korban baru. Hanya sistem Islam-lah bersumber dari Sang Pencipta yang sesuasi dengan fitrah dan mampu menuntaskan persoalan hingga ke akarnya. Wallahu a’lam bishawab.
Via
OPINI
Posting Komentar